Urbanisasi

architecture, bridge, buildings

Urbanisasi secara umum memiliki arti pertambahan persentase penduduk yang tinggal di perkotaan dibandingkan yang tinggal di pedesaan. Urbanisasi menggambarkan proses pertumbuhan dan perkembangan kota kota menjadi lebih besar karena semakin banyak penduduk yang tinggal di kota tersebut.

Menurut PBB, pada tahun 2008, lebih dari 50% penduduk dunia sudah tinggal di daerah urban, mereka juga memprediksikan bahwa pada tahun 2050, lebih dari 64% penduduk negara berkembang dan 86% penduduk negara maju akan tinggal di daerah urban. Urbanisasi dapat terjadi melalui beberapa cara yang antara lain adalah

Proses Urbanisasi

Pertumbuhan kota

Pertumbuhan kota memiliki makna bahwa area yang dianggap urban bertumbuh secara cepat dan menyerap wilayah sekitarnya, desa-desa yang sebelumnya dianggap rural menjadi berubah dan mulai menunjukkan karakteristik urban, proses urbanisasi seperti ini umumnya identik dengan urban sprawl

Migrasi penduduk desa ke kota

Migrasi penduduk kesa ke kota memiliki makna bahwa karena faktor-faktor penarik yang besar, dan mungkin juga dibantu oleh faktor pendorong yang kuat dari desa itu sendiri, banyak warga desa yang memilih untuk pindah ke kota karena mereka berfikir bahwa mereka akan mendapat kehidupan yang lebih baik 

Pertambahan alami penduduk kota.

Pertumbuhan secara alami ini merupakan konsep urbanisasi yang jarang diketahui dan disadari orang-orang, mereka menganggap bahwa agar terjadi urbanisasi harus ada yang bergerak entah itu kota nya bergerak meluas atau penduduknya bergerak menuju kota. Namun bila mengacu pada definisi urbanisasi diatas, ada satu alternative yang jarang dipikirkan, yaitu pertumbuhan alami.

Pertumbuhan alami berarti tidak ada perpindahan penduduk (diasumsikan tidak ada perpindahan agar variable urbanisasi terisolasi, namun pada dunia nyata teintu saja ada). Oleh karena itu, jumlah penduduk yang berada di kota dapat terus bertambah ketika angka kelahiran penduduk kota lebih tinggi dari penduduk desa.

Selain angka kelahiran, child mortality rate yang lebih rendah dan angka harapan hidup yang lebih tinggi juga berperan banyak dalam meningkatkan jumlah penduduk kota relative terhadap penduduk desa.

 

Penyebab Urbanisasi

Urbanisasi secara migrasi

Urbanisasi umumnya disebabkan karena masyarakat menganggap bahwa terdapat jauh lebih banyak kesempatan jika mereka hidup di kota.

Salah satu penyebab stigma ini terjadi adalah karena ketidakmerataan pembangunan dan investasi oleh pemerintah serta pihak swasta, sehingga infrastruktur, kegiatan ekonomi, dan fasilitas umum di kota jauh lebih baik ketimbang yang di desa.

Ketidakmerataan ini kerap terjadi pada negara-negara yang memiliki kota besar yang sangat berkembang jika dibandingkan dengan daerah sekitarnya (hinterland). Ketimpangan pembangunan tersebut dapat menumbuhkan sentiment bahwa hidup di kota lebih menyenangkan daripada hidup di desa sehingga orang-orang tertarik untuk berpindah ke kota.

Urbanisasi secara pertumbuhan dan perkembangan kota

Urbanisasi ini mengacu kepada pertambahan areal kota sehingga masyarakat yang tinggal di daerah perifer seperti desakota dan daerah transisi lainnya lama kelamaan memiliki sifat perkotaan, ketika itu terjadi, dan pembangunan infrastruktur sudah mencapai lokasi tersebut, mereka secara sah dapat dianggap sebagai warga yang tinggal di dalam kota.

Fenomena ini menyebabkan terjadinya penambahan jumlah penduduk yang tinggal di perkotaan dan penurunan jumlah penduduk yang tinggal di pedesaan. 

Urbanisasi karena pertumbuhan penduduk yang lebih tinggi

Urbanisasi ini sebenarnya merupakan imbas dari kedua bentuk urbanisasi diatas. Seharusnya semakin terurbanisasi masyarakat maka akan semakin rendah pula angka kelahirannya, mendekati replacement rate, sedangkan semakin ter-ruralisasi masyarakat, semakin tinggi pula angka kelahirannya.

Korelasi diatas umumnya disebabkan oleh perbedaan biaya hidup, tingkat pendidikan, dan akses fasilitas kesehatan. Namun, bayi-bayi yang lahir di kota memiliki kemungkinan hidup dan angka harapan yang lebih tinggi karena mereka memiliki akses pada layanan kesehatan dan nutrisi yang lebih baik.

Perbedaan harapan hidup dan mortality rate inilah yang kemudian membuat penduduk kota meningkat lebih cepat daripada penduduk desa. Namun umumnya urbanisasi jenis ini hanya dapat terjadi jika penduduk di kota sudah lebih banyak daripada yang di desa atau jika sebelumnya sudah ada urbanisasi berjenis migrasi atau pertumbuhan/ekspansi kota yang besar.

 

Dampak Urbanisasi

Urbanisasi memiliki banyak sekali dampak terhadap kota yang menjadi sasaran urbanisasi tersebut. Dampak yang dirasakan oleh kota sasaran umumnya dibagi menjadi 4, yaitu dampak ekonomi, sosial, kesehatan, dan lingkungan. 

Ekonomi

Semakin tinggi tingkat urbanisasi maka kemungkinan terjadi segregasi ekonomi di perkotaan semakin tinggi pula. Naiknya permintaan kebutuhan dasar yang didorong oleh banyaknya populasi akan meningkatkan harga barang-barang tersebut, hal ini dapat menyebabkan terjadinya golongan miskin yang walaupun sudah bekerja keras, tetap akan menjadi miskin, atau malah tambah miskin.

Kenaikan harga ini disebabkan oleh faktor yang sudah dijelaskan diatas, yaitu inflasi biaya hidup di suatu kota yang disebabkan oleh tingginya permintaan barang dan terus naiknya gaji para pekerja secara umum.

Urbanisasi yang tinggi juga dapat menyebabkan terjadinya daerah kumuh, atau slum. Hal ini terjadi karena kurangnya lahan di perkotaan yang dapat digunakan untuk membangun perumahan, sedangkan pertumbuhan penduduk di kota sangat besar.

Kurangnya lahan tersebut menyebabkan harga property meningkat drastis sehingga banyak warga kota yang tidak dapat membeli rumah di kawasan yang strategis dan memiliki sarana maupun prasarana yang mumpuni.

Selain menyebabkan slum area, banyaknya penduduk di wilayah kota pun dapat menyebabkan pemukiman yang tersegregasi, lagi lagi hal ini merupakan dampak dari meningkatnya harga barang pokok, kurangnya lapangan pekerjaan, dan timpangnya gaji dalam pekerjaan papan bawah.

Pada negara berkembang, urbanisasi umumnya berasal dari migrasi masyarakat desa menuju kota. Karena tingkat pendidikannya yang masih kurang dan tidak memiliki kemampuan khusus pada bidang tertentu, alih alih membantu geliat ekonomi perkotaan, mereka malah membebani infrastruktur perkotaan dan membuat area-area kumuh yang mengganggu pemandangan serta menjadi sumber penyakit.

&nbsp

Kemacetan

Kemacetan juga merupakan salah satu dampak dari urbanisasi. Kemacetan yang parah dapat menyebabkan terganggunya kegiatan ekonomi, hal ini disebabkan oleh berkurangnya produktivitas pekerja dan sulitnya distribusi barang.

Semakin parah kemacetan, maka semakin lama waktu para pekerja yang dihabiskan di jalan dan transportasi lainnya, hal ini dapat mengurangi semangat kerja dan juga mengurangi jam kerja efektif di kantor, selain itu mereka juga cenderung lebih lelah ketika sampai di kantor, oleh karena itu pekerjaan menjadi tidak maksimal.

Kemacetan juga menyebabkan sulitnya distribusi barang, hal ini terjadi karena truk yang mengangkut barang tersebut terjebak di kemacetan, sehingga ia tidak dapat mengantarkan barang secara tepat waktu, padahal pengiriman barang tepat waktu merupakan salah satu kunci utama dari berjalannya roda ekonomi perkotaan.

Pada kasus ini tidak dimungkinkan menggunakan alternatif transportasi lain karena walaupun menggunakan kereta, tetap harus ada titik yang mengharuskan terjadinya break of bulk, yang mana barang-barang di kereta tersebut dipindahkan ke truk-truk untuk transportasi ke tujuannya masing-masing.

 

Kesehatan

Urbanisasi pada negara berkembang tidak serta merta meningkatkan angka harapan hidup. Urbanisasi yang terjadi secara cepat telah meningkatkan risiko terkena penyakit-penyakit non-communicable yang terkait dengan gaya hidup, seperti kanker dan penyakit jantung.

Risiko terjangkitnya penyakit menular bervariasi berdasarkan lokasinya, jika ia berada pada kota yang tergolong maju maka risikonya rendah, jika ia berada pada wilayah kumuh dan slum, maka risikonya tinggi. Bahkan bisa lebih besar dari daerah rural dikarenakan disfungsinya sistem drainase dan tidak adanya control sanitasi yang mumpuni.

Kedua hal diatas diperparah oleh terjadinya pemusatan penduduk di suatu tempat yang kecil sehingga jika ada penyakit menular, ia akan dapat menyebar dengan cepat.

Urbanisasi umumnya diasosiasikan dengan meningkatnya sanitasi, akses kesehatan, dan fasilitas umum. Namun, hal ini tidak terjadi pada daerah-daerah kumuh, sehingga mereka sulit berkembang, dan tetap menjadi daerah kumuh.

Food Desert

Dari segi nutrisi, urbanisasi cepat dan terburu-burunya perencanaan menyebabkan banyaknya food desert, yaitu kurangnya akses masyarakat terhadap makanan yang murah dan bernutrisi. Menurut riset di Amerika Serikat, lebih dari 23.5 juta orang mengalami gejala food desert ini, yaitu tidak ada supermarket dalam radius satu mil dari rumah mereka.

Food desert pada negara maju umumnya berkorelasi dengan keberadaan restoran cepat saji dan convenience store yang hanya menjual makanan cepat saji atau makanan kemasan.

Food desert biasanya terletak di komunitaas-komunitas menengah kebawah dan memiliki banyak workaholic baik yang natural maupun yang terpaksa. Karena mereka ingin menghemat uang dan perlu cepat dalam membeli makanan, restoran cepat saji dan toko yang menjual makanan kemasan menjadi marak disana.

 

Kualitas Udara

Laju urbanisasi yang cepat dan terjadi dalam skala besar juga berkorelasi terhadap penyakit pernafasan dan asma. Menurut penelitian di Brazil, seiring dengan transisi penduduk dari daerah rural ke daerah urban, risiko terkena penyakit pernafasan seperti asma meningkat. Hal ini terjadi karena mereka menghirup lebih banyak polutan udara dibandingkan dengan penduduk yang tinggal di desa.

Polutan seperti Nitrogen Dioksida (NO2), Karbon Oksida (CO), dan material-material partikulat yang memiliki diameter kurang dari 2.5 mikrometer (PM2.5) dikeluarkan oleh asap kendaraan bermotor dan juga asap industri.

Karena di kota terdapat banyak sekali kendaraan bermotor dan area industri, maka masyarakat kota banyak yang terkena penyakit pernafasan yang disebabkan oleh polutan tersebut.

Buruknya kualitas udara di wilayah perkotaan dapat meniadakan dampak positif dari akses dan kualitas infrastruktur kesehatan yang lebih baik di wilayah perkotaan.

Untuk mengurangi polutan udara di wilayah perkotaan, diperlukan framework dan peraturan khusus yang dapat mengurangi emisi polutan dan menyediakan solusi untuk memperbaiki kualitas udara.

Framework ini kemudian menjadi tugas berat dari para arsitek, perencana, insinyur, serta peneliti di bidang lingkungan, bagaimana cara mengurangi polusi di wilayah perkotaan.

 

Aktivitas Fisik

Salah satu dampak positif urbanisasi dalam bidang kesehatan dan sosial adalah meningkatkan aktivitas fisik dibandingkan dengan daerah rural. Keberadaan jalur pejalan kaki, tempat fitness, dan kemudahan mencapai lokasi kerja tanpa kendaraan pribadi membuat mayoritas penduduk kota lebih sehat jika dibandingkan dengan penduduk rural.

Selain itu penduduk yang tinggal di daerah rural juga memerlukan waktu lebih lama untuk berangkat kerja dan pulang jika ia berkerja di perkotaan. Hal ini membuat waktu luang mereka lebih sedikit sehingga waktu untuk berolahraga pun sedikit.

Namun penelitian ini dilakukan di Amerika Serikat, di Indonesia, mungkin saja aktivitas fisiknya sama dengan yang di daerah rural, atau bahkan lebih rendah, untuk mengetahui secara pasti perlu dilakukan penelitian lebih lanjut.

Secara umum penulis setuju bahwa masyarakat di daerah perkotaan aktivitas fisiknya lebih tinggi jika dibandingkan dengan daerah suburban dan rural. Namun yang perlu di garisbawahi adalah definisi suburban dan rural ini, karena masih banyak yang tidak dapat membedakannya.

 

Sosial

Urbanisasi memiliki korelasi yang cukup kuat dengan tindak kejahatan. Semakin terurbanisasi suatu wilayah, maka umumnya semakin tinggi pula tingkat kejahatannya. Alasan paling mudah mengapa terjadi banyak tindak kejahatan di kota adalah karena terdapat banyak barang barang yang memiliki nilai tinggi dalam radius yang kecil, sehingga mereka dapat mencuri banyak hal sekaligus.

Berdasarkan generalisasi diatas, wilayah yang paling rawan tindak kejahatan adalah pemukiman mewah dan pemukiman yang tidak ada penjagaan dari instansi pengamanan (satpam, polisi, hansip) atau dari warga itu sendiri (ronda malam).

Terdapat pula sentiment ketidakadilan dari warga-warga kelas menengah kebawah yang merasa dirugikan oleh kelas atas. Mereka mengalami hidup yang sulit dan ketika melihat gaya hidup mewah dari masyarakat kelas atas, mereka pun menjadi kesal. Kekesalan ini dapat berujung kepada tindak kriminal kepada golongan menengah keatas dan pemilik usaha.

Menurut penelitian, terdapat korelasi antara kejahatan dengan tingkat pendidikan, pendapatan, ketidakmerataan pendapatan, dan jumlah populasi. Terdapat pula korelasi walaupun lebih lemah antara kejahatan dengan angka pengangguran dan jumlah polisi/penegak hukum. Semakin banyak angka pengangguran, maka kejahatan akan semakin banyak, sedangkan semakin banyak polisi, maka kejahatan akan semakin sedikit.

Tindak kejahatan juga dapat menciptakan tindak kejahatan lainnya. Ketika terjadi tindak kejahatan maka warga akan merasa takut dan jika terjadi cukup banyak tindak kejahatan pada suatu lokasi, banyak warga yang akan pindah. Kepindahan ini dapat merusak kohesi sosial dan rasa guyub dari suatu komunitas, sehingga menurunkan kontrol sosial. Ketika kontrol sosial melemah, semakin mudah bagi penjahat melakukan kejahatan.

 

Lingkungan

Dari segi lingkungan, urbanisasi disinyalir sebagai pemicu dari adanya urban heat island. Urban heat island terjadi ketika wilayah kota dan industrial memproduksi dan menyerap panas, sehingga suhu di sekitar wilayah tersebut meningkat cukup drastis.

Selain urban heat island, urbanisasi juga kerap menyebabkan degradasi lingkungan perairan, saat terjadi hujan, polutan kimia yang banyak berada di udara perkotaan terserap, dibawa melalui saluran air, dan dilimpahkan ke perairan. Air yang sudah tercemar tersebut menurunkan kualitas air dan merusak ekosistem perairan.

Limbah deterjen dan sabun jika tidak disaring dan diolah terlebih dahulu di pusat pengolahan limbah dapat menyebabkan algae bloom di wilayah perairan. Kandungan unsur hara (N,P,K) yang tinggi di deterjen membuat perairan tersebut menjadi subur dan memicu pertumbuhan alga, sehingga menyebabkan eutrofikasi perairan.

 

Referensi

Waugh, David (2014). Geography an Integrated Approach, Fourth Edition. Oxford University Press

Urbanization

Tinggalkan komentar