Urban Sprawl

Secara umum Urban Sprawl memiliki arti perkembangan kota menjauh dari pusat kota. Area sprawl umumnya memiliki karakteristik fungsi yang homogen (jika perumahan rumah semua, jika pertokoan toko semua) dan transportasinya bergantung pada kendaraan pribadi.

Istilah urban sprawl umumnya memiliki konotasi negatif yang sering dikaitkan dengan segregasi dan kerusakan lingkungan.

Karakteristik Urban Sprawl

Zonasi homogen

Zonasi homogen memiliki makna bahwa zona-zona penggunaan lahan perkotaan seperti komersial, industrial, dan residensial dipisahkan satu dengan yang lainnya. Selain itu, lahan-lahan luas kerap digunakan hanya untuk satu fungsi, dan dikelilingi oleh tanah lapang.

Hal ini menyebabkan jarak antara tempat bekerja, tinggal, dan belanja serta rekreasi semakin jauh. Jarak yang semakin jauh ini menutup kemungkinan orang-orang dapat mencapai tempat-tempat tersebut hanya dengan berjalan kaki.

Penggunaan sepeda menjadi lebih sulit karena jarak yang jauh, dan penggunaan kendaraan umum menjadi tidak efisien karena rendahnya kepadatan penduduk. Semua hal diatas membuat masyarakat lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi untuk berpergian.

 

Job Sprawl

Job sprawl didefinisikan sebagai persebaran pekerjaan yang memiliki densitas rendah dan tersebar di wilayah perkotaan, mayoritas pekerjaan tersebut terdistribusi di daerah suburban atau diluar wilayah CBD dari sebuah kota.

Job sprawl juga memiliki korelasi yang kuat dengan zonasi homogen. Umumnya zona-zona perumahan diletakkan jauh dari zona industrial, dan zona komersial serta rekreasi ditempatkan diantara kedua zona tersebut.

Hal ini menyebabkan terjadinya perpindahan penduduk massal tiap pagi dan sore hari, pada pagi hari penduduk dari daerah residensial bergerak ke arah zona komersial dan industri untuk berkerja, pada malam hari mereka bergerak balik ke zona residensial untuk beristirahat di rumah mereka.

Fenomena ini berpotensi menciptakan kemacetan parah di pagi dan sore hari, terlebih lagi jarak yang harus ditempuh oleh para pekerja tersebut cukup jauh lantaran adanya zonasi homogen yang memisahkan tempat kerja dengan tempat tinggal.

Job sprawl merupakan dampak dari murahnya harga lahan di luar kota dan kemudahan transportasi berkat kendaraan pribadi. Kedua hal diatas membuat banyak perusahaan memindahkan kantor besar mereka keluar dari wilayah kota ke wilayah-wilayah suburban agar dapat membuat kantor yang lebih besar.

Fenomena job sprawl ini dapat menyebabkan kemiskinan pada pekerja-pekerja papan bawah yang memiliki tempat kerja yang jauh. Mereka harus menanggung biaya transportasi yang tidak murah untuk pergi ke tempat kerja mereka.

Selain itu mereka juga berpotensi telat karena kemacetan yang parah di pagi dan sore hari, terlebih lagi jika lokasi pekerjaan mereka tidak berada di daerah CBD, maka akan lebih susah bagi mereka untuk berpergian ke sana karena masih belum meratanya fasiltias transportasi publik.

 

Kepadatan Rendah

Sprawl juga kerap dikaitkan dengan pembangunan dengan kepadatan rendah. Definisi dari kepadatan rendah sebenarnya cukup ambigu dan dapat diperdebatkan, namun salah satu contoh dari pembangunan dengan kepadatan rendah adalah rumah-rumah keluarga tunggal dengan luas tanah yang besar.

Biasanya pada pembangunan dengan kepadatan rendah, bangunan-bangunan memiliki sedikit lantai dan memiliki jarak antar bangunan yang cukup besar. Bangunan ini umumnya dipisahkan oleh pekarangan, jalan raya, dan tempat parkir.

Pembangunan dengan kepadatan rendah ini memicu penggunaan kendaraan pribadi, hal ini diperlukan karena terdapat jarak yang jauh antar fasilitas sehingga tidak mungkin dicapai dengan berjalan kaki.

Karena pembangunan ini memerlukan lahan yang luas, seringkali pertumbuhan wilayah perkotaan lebih cepat dari pertumbuhan penduduk perkotaan. Kepadatan yang rendah ini umumnya disebabkan oleh pembangunan berjenis leapfrog.

 

Konversi Lahan Agrikultur menjadi Lahan Perkotaan

Karena sprawl berkembang ke arah luar dari pusat perkotaan, tanah yang mereka gunakan umumnya berasal dari komunitas-komunitas rural yang masih mengandalkan agrikultur.

Hal ini menyebabkan berkurangnya lahan produktif yang dapat digunakan untuk kegiatan agrikultur sehingga harus ditemukan cara-cara inovatif baru seperti urban farming, hydroponics, atau aeroponics untuk menjamin ketersediaan bahan makanan bagi penduduk kota yang semakin banyak.

 

Munculnya Town House & Gated Community/Housing subdivision

Housing subdivision adalah tanah luas yang dipenuhi oleh perumahan-perumahan yang baru dibuat, mereka biasanya dinamai dan diberikan gerbang serta pagar untuk meningkatkan faktor keamanan.  Perumahan-perumahan ini kerap menyebabkan kemacetan pada jam kerja karena mereka memiliki satu pintu masuk dan keluar, sehingga orang-orang harus mengantri untuk keluar atau memasuki wilayah subdivisi perumahan ini.

Town house dan gated community dapat menciptakan segregasi sosial. Masyarakat menengah keatas yang tinggal di dalam komunitas tersebut dapat menikmati semua fasilitas yand disediakan sedangkan masyarakat kelas bawah yang tinggal disekitarnya tidak dapat memanfaatkan fasilitas apapun. Padahal mereka juga terkena dampak kemacetan dan polusi suara/cahaya dari sentra aktivitas gated community.

 

Halaman Depan/Pekarangan

Landed housing atau rumah berhalaman menjadi salah satu penanda dari urban sprawl. Secara ekonomis, rumah berhalaman hanya dapat dibuat jika terdapat tanah yang cukup luas dan harga tanah tersebut murah.

Oleh karena itu di pusat kota hampir tidak mungkin kita menemukan perumahan yang memiliki pekarangan. Kecuali rumah pejabat atau perumahan elit, hampir semua orang yang tinggal di pusat kota tinggal di apartemen. Selain lebih efisien tempat, apartemen juga umumnya dibangun dekat dengan tempat berkerja, sehingga menurunkan biaya yang perlu dikeluarkan untuk transportaasi.

 

Distrik Komersial

Wilayah sprawl juga dapat dilihat dari keberadaan supercenter komersial. Umumnya pusat-pusat perbelanjaan ini dibangun di dekat jalan raya atau jalan bebas hambatan yang memiliki kapasitas besar dan pengguna yang banyak. Sentra-sentra komersial ini umumnya memiliki lahan parkir yang besar, namun karena mereka mempunyai lahan yang sangat luas, mereka tidak perlu melakukan efisiensi tempat dan membangun sebuah basement.

Mereka juga umumnya memiliki jumlah lantai yang sedikit, sentra komersial seperti ini lebih mementingkan pertumbuhan ke samping daripada pertumbuhan ke atas, karena tentu saja memperluas area lebih murah dibandingkan dengan menambahkan lantai di area suburban.

 

Penyebab Urban Sprawl

Kepadatan penduduk kota yang sedang mengalami industrialisasi cenderung mengikuti pola spesifik yaitu kepadatan akan meningkat saat urbanisasi dan penduduk akan terkonsentrasi di pusat kota dengan konsentrasi yang semakin menurun semakin jauh dari pusat kota.

Dengan bertumbuhnya ekonomi dan pembangunan jalur transportasi yang menghubungkan antar wilayah, penduduk kota tersebut, terutama kelas menengah keatas, akan cenderung berpindah ke pinggir kota, selain karena harga tanah lebih murah, mereka juga lebih menyukai suasana santai dan terbuka yang ada di daerah pinggir perkotaan.

Untuk masalah transportasi, mayoritas masyarakat kelas menengah keatas sudah pasti memiliki kendaraan umum, oleh karena itu mereka tidak terlalu terpengaruh oleh jarak yang harus ditempuh untuk menuju ke tempat bekerja mereka di pusat kota.

 

Sejarah Urban Sprawl

Inggris, 1800

Urban sprawl pertama kali diamati terjadi di Inggris pada abad ke 19. Saat itu sedang terjadi revolusi industri, semua orang berbondong-bondong bermigrasi dari daerah rural ke daerah perkotaan untuk berkerja di pabrik-pabrik yang baru dibuka.

Para pengembang melihat ini sebagai sebuah kesempatan, mereka pun membeli tanah-tanah disekitar pabrik pabrik tersebut dan membangun rumah-rumah kecil yang memiliki halaman depan, mereka pun membangun jalan raya, sistem kereta metro, jalur bus, dan jalur tram untuk menghubungkan perumahan tersebut dengan pabrik tempat mereka berkerja.

Skema ini berkerja dengan baik, banyak sekali pekerja pabrik yang tinggal di kota-kota industrial tersebut. Distrik suburban yang dekat dengan pusat kota dan area CBD juga mulai tumbuh, tempat itu diisi oleh pekerja pabrik yang sudah memiliki jabatan cukup tinggi sehingga dapat membeli rumah yang lebih mahal dan tidak ingin lagi tinggal di perumahan industrial tersebut yang kualitasnya sudah mulai menurun karena terlalu banyak orang.

 

Inggris 1850

Pada pertengahan abad ke 19, London yang merupakan kota terbesar di dunia pada saat itu mulai mengalami gejala overpopulasi dan pencemaran lingkungan. Salah satu katalis urban sprawl kota London kala itu adalah pembukaan jalur kereta api menuju kota-kota satelit Middlesex.

Perusahaan kereta api tersebut pun menjual tanah surplus di sepanjang jalur keretanya, tanah-tanah surplus tersebut kemudian dibeli dan dijadikan perumahan-perumahan baru untuk warga yang ingin keluar dari kota London yang semakin semrawut.

Pada awal abad ke 20, sprawl di Inggris sudah sangat parah sehingga muncul gerakan-gerakan untuk menghentikan urban sprawl. Komunitas pergerakan garden city dan CPRE (Community to Protect Rural England) menjadi aktor utama dalam setiap kampanye penghentian urban sprawl.

Pada tahun 1934 diformulasikan rencana untuk menciptakan green belt di sekitar kota London dan pada 1974 dalam dokumen Town and Country Planning Act of 1947 disetujui bahwa wajib hukumnya untuk menyediakan greenbelt di sekitar kota-kota untuk menghentikan laju urban sprawl.

 

Proses Urban Sprawl

Ribbon Development

Ribbon development merupakan istilah yang disematkan pada pembangunan-pembangunan yang mengikuti jalur transportasi. Fenomena ribbon development menjadi marak di Russia, Inggris, dan Amerika Serikat paska revolusi industri, mereka memiliki banyak jalur-jalur transportasi yang menghubungkan kota-kota besar, sehingga banyak orang ingin tinggal di sekitar jalur tersebut guna mempermudah transportasi.

Pembangunan di jalur transportasi ini menjadi sangat menguntungkan bagi pengembang karena mereka tidak perlu lagi membangun jalur transportasi baru untuk menghubungkan perumahan mereka dengan jalur transportasi publik ataupun desa/kota lainnya.

Ribbon development ini sangat berbahaya bagi perkembangan kota karena ia merupakan contoh penggunaan sumber daya tempat yang sangat tidak efisien dan dapat memicu terjadinya urban sprawl. Selain itu, ribbon development ini juga menyebabkan kemacetan pada jalan raya ketika banyak orang berbondong-bondong keluar dari perumahan mereka pada pagi hari untuk pergi berkerja dan balik lagi pada malam hari untuk beristirahat

 

Leapfrog Development

Pola perkembangan leapfrog umumnya memiliki hubungan yang erat dengan urban sprawl. Perkembangan ini memiliki karakteristik pembangunan bangunan terutama area perumahan dan komersial secara acak, tersebar, dan jauh dari pusat kota.

Umumnya karena ia tersebar secara acak dan memiliki jarak antar bangunan yang cukup jauh, walaupun rumah-rumahnya kecil dan memiliki penghuni banyak, perkembangan keapfrog tetap diasosiasikan dengan kepadatan penduduk yang rendah.

Perkembangan leapfrog yang semakin menjauhi pusat kota kerap memaksa pemerintah untuk mengeluarkan dana tambahan guna membangun fasilitas umum dan infrastruktur kota pada daerah yang baru dikembangkan tersebut.

Umumnya pola leapfrog ini terjadi ketika pembangunan diserahkan kepada pengembang dan pihak swasta. Peraturan pemerintah mewajibkan adanya pembangunan fasilitas umum dasar seperti taman, sekolah, tempat parkir, toko, dan sejenisnya, namun hal ini biasanya tidak disanggupi oleh pihak swasta karena selain tidak membawa keuntungan, pembangunan seperti ini juga memerlukan dana yang cukup banyak.

Oleh karena itu mereka membiarkan lahan-lahan tersebut kosong, dengan luas sesuai dengan ketentuan-ketentuan dari peraturan pemerintah.

Pemerintah yang juga lambat bergerak untuk mengisi kekosongan fasilitas dan infrastruktur publik ini turut menciptakan sprawl berjenis leapfrog. Salah satu solusinya adalah dengan mengintegrasikan pembangunan serta meningkatkan komunikasi antara pihak swasta dan pemerintah,  hal ini perlu dilakukan agar pembangunan kawasan dan infrastruktur dapat dilakukan secara serentak dan terkoordinasi.

 

Low density Development

Urban sprawl umumnya menghasilkan perumahan yang memiliki kepadatan rendah atau sangat rendah, hal ini terjadi karena rumah-rumah yang ada dibangun dengan menggunakan luas lahan yang sangat besar.

Low density development ini umumnya terjadi pada tempat-tempat baru yang memiliki harga tanah sangat murah dan dikerjakan oleh pengembang yang diberi wewenang lebih oleh pemerintah daerah, atau bahkan berkerjasama dengan pemerintah daerah untuk membangun fasilitas umum dan fasilitas sosial sehingga tidak harus terjadi pembangunan leapfrogging.

Low density development ini sering diasosiasikan dengan wilayah perumahan kelas atas atau perumahan eksklusif yang memiliki luas bangunan besar dan terdapat pekarangan serta halaman belakang.

Low density development juga terhitung cukup berbahaya bagi perkembangan suatu kota karena sangat cepat menghabiskan lahan. jika leapfrog development cenderung menghabiskan lahan karena pembangunan bersifat meloncat-loncat sehingga menciptakan lahan kosong diantara bangunan-bangunannya, low density development menghabiskan lahan dengan cara membangun bangunan yang luas dan saling terpisah oleh area hijau atau pekarangan.

Penduduk di area ini umumnya menggunakan mobil sebagai moda transportasi utama karena dengan memperhitungkan luas wilayahnya, tidak dimungkinkan untuk berjalan kaki dan menggunakan sepeda, namun di lain pihak, jumlah penduduknya tidak cukup banyak jika ingin dibangun sistem transportasi umum.

 

Dampak Urban Sprawl

Lingkungan

Dampak lingkungan dari adanya urban sprawl sangatlah banyak dan bervariasi, namun yang paling terlihat dan berdampak adalah berkurangnya biodiversitas, banjir, polusi, urban heat island, dan menurunnya kualitas serta kuantitas air tanah.

Berkurangnya Biodiversitas

Urban sprawl dapat mengurangi biodiversitas flora dan fauna lokal karena ia mengambil alih wilayah yang seharusnya dapat dipakai oleh flora dan fauna tersebut sebagai habitatnya.

Berkurangnya biodiversitas dapat dimitigasi dengan adanya edukasi dan proses suksesi ekologis yang rumit, namun tetap saja sprawl menjadi salah satu bahaya yang paling merusak terhadap biodiversitas flora dan fauna.

Sprawl juga kerap memperkenalkan spesies invasif kepada suatu wilayah, fenomena ini umumnya terjadi pada pohon-pohon kota. Terkadang pengelola kota lebih mementingkan faktor estetik dibandingkan dengan faktor ekologis dari penempatan pohon tersebut.

 

Banjir

Banjir juga merupakan salah satu bencana yang disebabkan oleh urban sprawl. Peningkatan luas wilayah yang impermeabel merupakan salah satu penyebab dari adanya banjir kota.

Air yang datang dari hujan tidak dapat diserap oleh tanah sehingga mereka bergerak masuk ke sistem drainase kota, namun tidak semua kota memiliki sistem drainase yang baik dan dioptimasikan untuk hujan deras, sehingga ketika itu terjadi, kota-kota tersebut mengalami banjir.

 

Polusi

Polusi merupakan dampak pasti dari urban sprawl. Salah satu penyumbang terbesar polusi perkotaan adalah kendaraan bermotor, urban sprawl dengan konsepnya yang menjauhkan tempat-tempat strategis memaksa orang-orang untuk menggunakan kendaraan bermotor, ketika semua orang menggunakan kendaraan bermotor maka tingkat polusi di perkotaan tentu saja akan meningkat.

Polusi suara yang disebabkan oleh kendaraan bermotor juga dapat mengganggu aktivitas masyarakat disekitar jalan-jalan besar, sehingga kualitas hidup di dekat jalan besar umumnya lebih rendah jika dibandingkan dengan tempat yang jauh dari jalan besar.

 

Urban Heat Island

Urban heat island merupakan fenomena kenaikan suhu di wilayah perkotaan karena kota tersebut menyimpan dan juga mengeluarkan panas dari aktivitas-aktivitasnya. Kenaikan suhu ini dapat menyebabkan ketidaknyamanan pada aktivitas manusia, ia juga dapat menyebabkan kematian pada orang tua yang tidak kuat dengan paparan panasnya.

Urban heat island menjadi salah satu penyebab dari meningkatnya biaya listrik gedung-gedung kota yang harus terus menerus menyalakan pendingin ruangan pada setting terdinginnya agar karyawan mereka tidak kepanasan.

 

Degradasi Air Tanah

Penggunaan air tanah umumnya lebih intensif di wilayah perkotaan. Mereka menggunakan sumur-sumur yang sangat dalam agar dapat mengambil lebih banyak air, semakin dalam sumur tersebut, semakin banyak air yang dapat diambil sebelum sumur tersebut kering.

Penggunaan air tanah secara berlebihan dapat menyebabkan subsidensi tanah karena rongga dalam tanah yang seharusnya diisi oleh air menjadi kosong, subsidensi tanah cukup berbahaya karena dapat merusak infrastruktur kota dan mengurangi stabilitas fondasi bangunan. Jika ini terjadi di kota-kota pesisir, maka dapat terjadi pula intrusi air laut.

Fenomena intrusi air laut terjadi ketika air laut masuk ke dalam rongga-rongga tanah yang seharusnya diisi oleh air tanah, ketika mereka sudah masuk maka air tanah akan bersifat asin atau payau. Intrusi air laut ini sudah diamati terjadi di daerah Jakarta Utara.

 

Kesehatan

Seperti yang sudah dijelaskan diatas, sprawl meningkatkan penggunaan kendaraan pribadi, sehingga semakin banyak polusi di udara dan suara. Meningkatnya polusi dapat menyebabkan menurunnya kualitas kesehatan penduduk perkotaan.

Penyakit utama yang disebabkan oleh polusi udara adalah penyakit pernafasan, namun polusi suara disinyalir dapat mengakibatkan stress dan penurunan kualitas hidup, sehingga potensial penyakit yang disebabkan oleh adanya sprawl ini sangat beragam. Menurut penelitian The American Journal of Public Health terdapat korelasi kuat antara sprawl dengan obesitas dan hipertensi.

 

Keamanan

Ketergantungan yang tinggi pada kendaraan bermotor di daerah sprawl berdampak pada parahnya kemacetan, tingginya angka kecelakaan kendaraan dan pejalan kaki, serta buruknya kualitas udara.

Menurut hasil riset di Amerika Serikat, penduduk yang tinggal di daerah sprawl memiliki potensi lebih tinggi untuk terlibat kecelakaan kendaraan daripada yang tinggal di daerah rural maupun urban, trend ini juga berlaku bagi para pejalan kaki.

Selain itu terdapat pula korelasi antara sprawl dan waktu respon dari polisi, pemadam kebakaran, dan petugas rumah sakit. Semakin jauh dari pusat pelayanan, maka waktu responnya akan meningkat. Hal ini disebabkan oleh jarak yang harus ditempuh dan kemacetan yang terjadi di jalan-jalan penghubung daerah suburban.

 

Biaya Infrastruktur & Transportasi

Kota yang semakin besar dan tidak padat umumnya membuat biaya yang harus dikeluarkan pemerintah daerah untuk menjalankan fasilitas umum lebih besar.

Karena penggunaan kendaraan pribadi sangat mendominasi, pembangunan infrastruktur transportasi publik menjadi mahal serta lama payback period nya. Oleh karena itu, perencana kota terpaksa membuat jalan raya, jalan tol, serta tempat parkir yang banyak untuk menampung kendaraan yang ada.

Selain infrastruktur transportasi, penyediaan listrik, drainase dan air bersih juga menjadi lebih mahal karena pemerintah harus membuat saluran dan jaringan yang lebih panjang untuk memberikan akses kepada semua orang yang tersebar di area yang lebih luas. Hal ini bertolak belakang dengan konsep transit oriented development yang memiliki prinsip bahwa semua orang harus tinggal dekat dengan pusat transportasi publik.

 

Sosial

Interaksi sosial pada masyarakat menurun dikarenakan adanya sprawl. Perumahan mixed-use yang compact dan memiliki kepadatan tinggi dapat memicu interaksi sosial yang bermakna antara para tetangga, sprawl justru menciptakan penghalang interaksi.

Urban sprawl kerap mengubah tempat-tempat publik menjadi tempat pribadi seperti halaman belakang yang dipagari. Hal ini turut mengurangi interaksi antar tetangga dan membuat tetangga tidak saling kenal.

Sprawl juga disinyalir dapat mengurangi kualitas hidup. Jarak yang jauh antara rumah, tempat kerja, tempat makan, dan tempat rekreasi dapat meningkatkan kadar stress orang-orang.

Pada daerah sprawl, mayoritas penduduknya menghabiskan waktu yang lama di dalam kendaraan, entah itu menunggu dalam kemacetan, atau memang karena jarak antara tempat tinggal dan tempat kerja sangat jauh.

Waktu papar yang lama terhadap kemacetan diduga menjadi penyebab dari stress yang berlebihan pada para pekerja kantoran yang tinggal di wilayah sprawl.

 

Alternatif Urban Sprawl

Smart Growth

Smart growth merupakan konsep umum pembangunan perkotaan yang pada intinya menekankan pada pertumbuhan kota secara compact sehingga mayoritas tempat dapat dijangkau dengan berjalan kaki.

Konsep Smart growth juga menekankan pada pentingnya pembangunan area yang memiliki zonasi mixed use dan kepadatan penduduk yang tinggi.

 

Compact City

Compact city merupakan konsep pembangunan kota dengan kepadatan penduduk tinggi dan penggunaan lahan yang mixed use.

Konsep ini berbasis pada sistem transportasi publik yang efisien dan desain kota yang diharapkan dapat meningkatkan interaksi sosial, keamanan, efisiensi energi, serta kegiatan berjalan kaki dan bersepeda.

Diharapkan juga compact city dapat mewujudkan konsep eye on the street sehingga meningkatkan keamanan bersama.

 

Transit Oriented Development

Transit oriented development merupakan konsep pembangunan yang dirancang untuk menuntaskan the last mile problem yang kerap menghantui pembangunan-pembangunan fasilitas transportasi publik.

Transit oriented development menekankan pada pembangunan fasiltias transportasi publik terintegrasi dan pembangunan kota yang compact dan mixed use.

 

New Urbanism

New urbanism merupakan gerakan urban desain yang berfokus pada penataan kota sehingga ia menjadi ramah lingkungan.

Ia mengharuskan kota untuk didesain sedemikian rupa sehingga memicu orang untuk berjalan kaki dan juga memiliki guna lahan (land-use) yang bervariasi dalam suatu area sehingga kebutuhan dasar dapat dipenuhi tanpa harus berpergian jauh.

Gerakan new urbanism ini muncul pada tahun 1980 di Amerika Serikat dan sampai sekarang masih mempengaruhi pola pikir para perancang kota dan pengembang real estate.

 

Referensi

Batty, Michael; Besussi, Elena; Chin, Nancy (November 2003). “Traffic, Urban Growth and Suburban Sprawl” (PDF). UCL Centre for Advanced Spatial Analysis Working Papers Series. 70. ISSN 1467-1298.

Bruegmann, Robert (2006). Sprawl: A Compact History. University of Chicago Press. p. 24.

Kunstler, James Howard (1998). Home from nowhere: remaking our everyday world for the twenty-First century. Touchstone.

Leapfrog Development.

McKee, Bradford. “As Suburbs Grow, So Do Waistlines“, The New York Times, September 4, 2003.

Ribbon Development.

Urban Sprawl.

Waugh, David (2014). Geography an Integrated Approach, Fourth Edition. Oxford University Press.

Tinggalkan komentar