Teori Struktur Kota

Jika sebelumnya kita sudah membahas mengenai struktur kota secara umum, kali ini kita akan membahas mengenai teori yang sudah ada mengenai struktur kota.

Teori-teori ini umumnya didasarkan atas observasi mengenai suatu lokasi yang dilanjutkan dengan analisa. Oleh karena itu, akan banyak ditemukan model yang hanya dapat diaplikasikan dalam kondisi-kondisi tertentu.

Kota Konsentrik

Kota Konsentrik
Ilustrasi Kota Konsentrik Burgess

Model kota ini merupakan salah satu model teoritis kota paling awal, model ini diciptakan oleh sosiolog Ernest Burgess pada tahun 1925.

Burgess merujuk kepada teori ekologi manusia dan studinya di kota Chicago untuk membuat model ini, Burgess merupakan ahli pertama yang mendeskripsikan distribusi kelas sosial dalam modelnya.

Model konsentrik Burgess memiliki 5 zona dengan penggunaan lahan yang berbeda. Pada diagram diatas, zona transisi memiliki warna yang berbeda dengan pabrik, namun batas antara keduanya sengaja dibuat kabur.

Hal ini menunjukkan bahwa pada zona itu, selalu ada transisi antara bangunan-bangunan pabrik tua menjadi perumahan baru atau area urban renewal.

Central Business District

Zona ini merupakan zona sentral yang mempunyai harga lahan tertinggi. Pada zona ini, kegiatan ekonomi umumnya berasal dari sektor tersier dan memiliki profit yang tinggi.

Zona ini juga memiliki aksesibilitas yang sangat tinggi karena merupakan titik konvergensi dari berbagai jaringan transportasi baik itu intra-kota maupun antar-kota.

Zona CBD umumnya memiliki bangunan yang tinggi karena bangunan yang luas dirasa tidak menguntungkan mengingat harga tanah yang sangat mahal.

Hampir tidak ada perumahan atau apartemen pada zona ini dikarenakan aktivitas ekonomi yang sangat intens.

Zone of Transition

Zona transisi terdiri dari zona mixed use antara residensial dan komersial, selain itu ia juga umumnya dipenuhi oleh pabrik-pabrik tua. Zona ini sangat dekat dengan CBD dan memiliki karakteristik yang selalu berubah.

Zona ini cenderung dianggap sudah mengalami decay karena terdapat sangat banyak bangunan-bangunan tua. P

ada awal pembentukan kota, zone of transition umumnya merupakan tempat industri dan perumahan bagi buruh pabriknya.

Zona ini umumnya memiliki penduduk yang relatif miskin dan hidup dengan kondisi yang kurang baik.

Walaupun harga tanah mahal, jarak yang dekat dengan tempat kerja dan kepadatan penduduk yang relative tinggi membuat biaya tempat tinggal dan transportasi tidak semahal di wilayah suburban.

Zone of Independent Worker Homes

Zona ini diisi oleh perumahan-perumahan yang memiliki kualitas lebih tinggi dari zona transisi, umumnya pekerja pabrik yang lebih kaya dan memiliki pangkat lebih tinggi tinggal di zona ini.

Zona ini memiliki variasi umur dan kualtias bangunan yang cukup tinggi, oleh karena itu, ia memerlukan redevelopment skala kecil yang terfokus untuk memperbaiki beberapa areanya.

Karena zona ini lebih dekat dengan pusat kota serta pabrik-pabrik disekitarnya, biaya transportasinya pun lebih murah jika dibandingkan daerah outer suburbs.

Oleh karena itu, zona ini digunakan umumnya oleh para pekerja pabrik dan pekerja retail di pusat kota.

Zone of Better Residences

Daerah ini umumnya dihuni oleh pekerja dengan tingkat ekonomi menengah dan keatas, rumah-rumah di zona ini juga relative lebih besar dan berkualitas lebih tinggi.

Rumah-rumah disini dibangun dengan sekat antar rumah yaitu pekarangan atau pagar, hal ini dilakukan agar privasi dari penghuni rumah tersebut lebih terjaga.

Fasilitas publik yang ada pada zona ini umumnya lebih lengkap dan berkualitas lebih baik.

Peningkatan kualitas hidup ini diiringi dengan meningkatnya waktu dan biaya yang harus dikeluarkan untuk transportasi, sehingga berpotensi menyebabkan stress perjalanan.

Commuters Zone

Ini merupakan zona yang paling jauh dari pusat kota, oleh karena itu, zona ini memiliki biaya dan waktu transportasi ke pusat kota yang paling lama.

Penduduk zona ini umumnya merupakan kelas atas yang dapat membeli rumah besar, tanah luas, dan dapat menanggung biaya transportasi yang relatif tinggi.

Fasilitas yang tersedia pada zona ini antara lain adalah mall, bioskop, dan taman-taman besar. Umumnya, pembangunan pada daerah ini dicirikan dengan kepadatan bangunan dan penduduk yang rendah.

 

Kritik Model Konsentrik

Model ini, meskipun merupakan pionir, banyak dikritik oleh ahli geografi perkotaan kontemporer.

Kritikan yang dilontarkan antara lain adalah argument bahwa model ini tidak dapat diaplikasikan untuk kota-kota yang berada diluar Amerika Serikat, terutama kota-kota yang berkembang dalam konteks sejarah yang berbeda.

Di Amerika Serikat sendiri, karena kemajuan pada bidang transportasi, komunikasi, dan ekonomi, mayoritas kota sudah tidak terkekang oleh zona-zona yang jelas lagi.

Selain itu ada pula beberapa poin kritik yang lebih umum terhadap model kota konsentris ini, yaitu:

  1. Mendeskripsikan keadaan umum di perkotaan Amerika Serikat yaitu derah inner city yang miskin dan daerah suburbs yang kaya
  2. Model ini mengasumsikan topografi yang isotropic (datar)
  3. Teori ini tidak cocok dengan commuter villages
  4. Tidak memperhitungkan gentrifikasi
  5. Tidak memperhitungkan desentralisasi pasar dan industri
  6. Tidak dapat diaplikasikan kepada kota polycentric (banyak inti)
  7. Tidak memperhitungkan faktor politik dalam pembangunan

Meskipun memiliki banyak kelemahan dan kritik dari para ahli, model kota konsentrik Burgess merupakan salah satu model kota yang menjadi pionir bagi model-model perkotaan lainnya.

Teori kota konsentrik yang dikemukakan oleh Burgess ini sangat bergantung pada faktor harga tanah dan juga prediksi produktivitas dari lokasi tersebut. Fenomena ini dikenal dengan nama teori Bid Rent.

Bid Rent

Menurut teori bid-rent, semakin dekat dengan pusat kota maka harga tanah akan semakin mahal, dan semakin jauh dari pusat kota harga tanah akan semakin murah.

Selain itu semakin dekat dengan pusat kota aksesibilitas lahan semakin tinggi, dan semakin jauh dari pusat kota aksesibilitas lahan semakin rendah.

Pengguna lahan berkompetisi untuk mendapatkan lahan yang memiliki aksesibilitas paling tinggi di dalam zona CBD tersebut. Jumlah yang mereka sanggup bayarkan disebut bid-rent.

Kompetisi ini menyebabkan terjadinya pola konsentrik penggunaan lahan seperti yang kita amati di model konsentrik Burgess.

Menurut teori ini, golongan paling bawah akan berada di paling pinggir kota-kota karena hanya dapat membeli tanah di lokasi itu. Di zaman modern seperti sekarang, asumsi ini menjadi kurang tepat.

Orang golongan bawah cenderung tinggal di dekat pusat kota karena biaya transportasi yang lebih murah. Sementara orang-orang yang cenderung lebih kaya berpindah ke pinggir kota dan daerah suburban karena mereka ingin mendapatkan kondisi hidup yang lebih tenang dan ingin membangun rumah yang lebih luas.

Dalam teori bid rent, terdapat tiga aktor utama yang berkompetisi dalam mendapatkan harga serta lokasi tanah yang optimal. Ketiga aktor tersebut adalah

Commerce (Perdagangan & Jasa)

Sektor perdagangan umumnya bersedia membayar harga yang mahal untuk mendapatkan lahan di pusat kota.

Sektor perdagangan umumnya memerlukan jumlah penduduk yang banyak untuk menghasilkan untung, oleh karena itu, daerah pusat kota yang memiliki akesibilitas tinggi menjadi pilihan utama.

Manufaktur & Industri

Sektor manufaktur umumnya lebih memilik untuk berada di inti kota bagian luar karena harga tanah yang lebih murah memungkinkan mereka untuk membuat pabrik yang lebih besar.

Inti kota bagian luar ini tetap mempunyai kelebihan-kelebihan dari inti kota secara umum yaitu aksesibilitas dan kedekatan dengan pasar.

Semakin jauh dari daerah inti, sektor manufaktur semakin merugi karena walaupun harga tanah menjadi sangat murah, kemudahan transportasi dan kedekatan dengan pasar yang terdapat di zona inti tidak dapat dinikmati.

Residential (Perumahan)

Perumahan selalu ada pada perkotaan, baik itu dekat dengan pusat kota atau jauh di daerah pinggiran kota, yang membedakan hanya jenis dan kepadatannya saja.

Semakin dekat dengan pusat kota, daerah perumahan semakin padat penduduknya, hal ini disebabkan oleh harga tanah yang mahal sehingga pembangunan umumnya terjadi secara vertical.

Contoh perumahan yang ada di dekat pusat kota adalah apartemen, rusun, dan kondominium.

Di daerah pinggiran kota, karena harga tanah relative murah, mayoritas perumahan memiliki kepadatan penduduk yang rendah, contoh perumahan yang ada di pinggir kota adalah landed house (rumah tapak) dan detached house (rumah tunggal yg terpisah dari rumah lainnya).

 

Sektoral

Model Kota Sektoral
Ilustrasi Kota Sektoral Hoyt

Teori sektoral kota dikemukakan oleh land economist (ekonom pertanahan) Homer Hoyt. Model ini merupakan pengembangan dari model sektoral Burgess, karena zonasi yang bersifat sektoral, model ini memungkinkan pertumbuhan keluar, tidak seperti model Burgess yang dianggap cukup stagnan.

Model ini sesuai dengan struktur kota-kota di Inggris karena kota-kota zaman dahulu, terutama di Inggris dan Eropa sangat bergantung pada transportasi. Semua zonasi dan perkembangan wilayahnya tergantung dari ketersediaan dan kualitas jalur transportasi.

Secara umum, kota-kota kuno umumnya mengikuti model sektoral Hoyt, sedangkan kota-kota baru umumnya mengikuti model konsentrik Burgess.

Seperti model konsentrik Burgess, model sektoral Hoyt juga mempunyai banyak sekali kelemahan menurut para kritik, kelemahan-kelemahan tersebut antara lain adalah:

Transportasi

Model ini dibuat dengan mengacu pada transportasi rel kereta dan tidak memperhitungkan adanya kendaraan pribadi yang dapat mempermudah transportasi di daerah pinggiran kota.

Faktor Fisik

Faktor fisik dapat menghambat ataupun menunjang perkembangan sektor-sektor tertentu, sehingga pada kondisi asli, sektor yang ada tidak seperti yang ada pada model ini.

Urban Sprawl

Perkembangan kota yang bercorak leapfrog dapat mengganggu pola persebaran sektor dari model ini. Jika terjadi sprawl bercorak leapfrog, pola kota yang terbentuk tidak akan sesuai dengan model sektor ini.

Perkembangan Pemukiman Jenis Baru

Model ini juga tidak memperhitungkan adanya edge cities dan boomburb yang mulai populer pada era 1980an. Semenjak adanya boomburb dan edge cities, CBD mulai kehilangan perannya sebagai pusat kegiatan karena semakin banyak pusat bisnis dan komersial melakukan relokasi ke wilayah suburban.

 

Multiple Nuclei

Model Kota Multiple Nuclei
Ilustrasi Model Multiple Nuclei

Model multiple nuclei atau inti banyak diciptakan oleh Chauncy Harris dan Edward Ullman pada tahun 1945 dalam artikel mereka yang berjudul “Nature of Cities”. Model ini mendeskripsikan bentuk kota yang diinspirasi dari kota Chicago.

Menurut mereka, sebuah kota yang pada awalnya hanya memiliki satu CBD akhirnya akan mengalami pertumbuhan CBD kecil yang berlokasi di dekat pinggiran kota pada wilayah pemukiman kaya.

CBD baru ini menciptakan suatu node baru dalam kota tersebut, oleh karena itu model ini disebut multiple nuclei. Tujuan utama mereka dalam menciptakan model ini adalah untuk :

  1. Merepresentasikan kompleksitas area urban, terutama yang berukuran besar
  2. Mengembangkan model konsentrik Burgess

Seiring dengan perkembangan dari kota, pusat-pusat transportasi seperti bandara, pelabuhan dan halte akan dibangun untuk mengurangi biaya transportasi, baik bagi industri maupun untuk komersial.

Pusat-pusat transportasi ini akan memiliki externality negatif seperti polusi udara dan harga tanah yang lebih rendah, sehingga harga tanah di sekeliling pusat transportasi tersebut akan cenderung lebih murah.

Penginapan seperti hotel dan motel juga akan dibangun dekat dengan pusat transportasi tersebut karena umumnya orang yang berpergian ingin menginap dekat dengan pusat transportasi mereka.

Menurut Harris dan Ullman, sebuah kota tidak mungkin hanya mempunyai satu nukleus inti, umumnya kota mempunyai banyak nukleus-nukleus lainnya yang bertindak sebagai growth point.

Teori ini didasarkan pada sebuah hipotesa bahwa dengan adanya kendaraan pribadi, mobilitas penduduk semakin besar.

Peningkatan mobilitas ini memungkinkan adanya spesialisasi antar wilayah (contoh. Industri berat, pusat perbelanjaan, pusat wisata, pusat bisnis, dll). Oleh karena itu, model ini cocok untuk diaplikasikan kepada kota-kota yang besar dan terus berkembang.

Jumlah nukleus yang ada pada wilayah kota bervariasi tergantung dengan situasi kota tersebut dan aspek historis. Model berinti banyak ini umumnya terbentuk ketika:

  1. Aktivitas industri tertentu memerlukan fasilitas transportasi, seperti pelabuhan dan stasiun kereta api untuk menurunkan biaya transportasi.
  2. Terdapat aktivitas-aktivitas yang cenderung terpisah, seperti area perumahan dengan bandara, dan wilayah pabrik dengan taman-taman kota.
  3. Terdapat aktivitas-aktivitas yang cenderung menyatu karena saling menguntungkan, seperti universitas dengan toko buku dan café, serta pabrik dengan pusat transportasi seperti pelabuhan dan stasiun kereta api.
  4. Ada aktivitas atau fasilitas tertentu yang harus berlokasi di area tertentu suatu kota, seperti CBD yang memerlukan jaringan transportasi ekstensif ke semua bagian kota, dan pabrik yang memerlukan jaringan distribusi, penyimpanan dan transportasi material yang baik.

Untuk memudahkan kalkulasi, penentuan variabel, dan pengujian model, Harris dan Ullman membuat beberapa asumsi pada model ini yaitu:

  1. Topografi tidak semuanya datar.
  2. Terdapat distribusi sumber daya yang rata.
  3. Terdapat distribusi penduduk yang rata.
  4. Harga transportasi yang sama rata ke semua tempat relative terhadap jarak (jika titik A-B berjarak sama dengan C-D, maka biaya transportasi dianggap sama).
 

Model Amerika Latin

Model Kota Amerika Latin
Ilustrasi Kota Amerika Latin

Model kota Amerika Latin ini dikemukakan oleh Ernst Griffin dan Larry Ford pada tahun 1980. Model perkotaan ini dibentuk setelah mereka mengamati bahwa mayoritas kota di Amerika Latin mengikuti pola pertumbuhan tertentu.

Menurut observasi mereka, kota-kota di Amerika Latin terbentuk mengelilingi sebuah CBD pusat, dari pusat tersebut tumbuh tulang punggung (spine) sektor komersial yang dikelilingi oleh perumahan-perumahan elit.

Zona ini kemudian dikelilingi oleh zona perumahan konsentris yang kualitasnya menurun seiring bertambahnya jarak dari CBD. 

Sejarah Model Griffin-Ford

Karena mayoritas dari kota-kota di Amerika Latin awalnya berkembang pada zaman kolonial, penataan lahan dan organisasi mereka diatur oleh sebuah peraturan yang dikenal sebagai Law of the Indies.

Peraturan ini merupakan rangkaian hukum yang diciptakan oleh para penguasa Spanyol pada zaman itu untuk meregulasi aspek sosial, ekonomi, dan politik dari koloni mereka yang berlokasi diluar benua Eropa.

Peraturan ini mencakup hampir semua aspek, mulai dari perlakuan kepada bangsa Indian hingga lebar jalan (Griffin dan Ford, 1980).

Menurut Law of the Indies, setiap kota wajib memiliki struktur grid yang dibangun mengelilingi plaza sentral.

Blok yang berlokasi dekat dengan plaza diperuntukan untuk perumahan kaum kaya dan bangsawan, sementara blok yang jauh dari plaza diperuntukan untuk perumahan kaum menengah dan bawah.

Seiring berjalannya waktu, Law of the Indies tidak lagi berlaku, pola grid ini hanya terjadi di wilayah yang memiliki laju perkembangan yang rendah dan mengalami industrialisasi minim.

Pada wilayah yang memiliki laju pertumbuhan cepat, area sentral ini berkembang menjadi area CBD. Area-area ini merupakan pusat administratif dan ekonomis dari suatu kota, namun tidak berkembang banyak sebelum tahun 1930an.

Pada pertengahan abad 20, wilayah CBD mulai berkembang dan organisasi kota-kota kolonial pada wilayah Amerika Latin mulai dihancurkan. Wilayah plaza sentral yang stabil berevolusi menjadi CBD bergaya Anglo-Amerika (Griffin dan Ford, 1980).

Seiring dengan pertumbuhan kota, beragam aktivitas industrial bertumbuh dekat dengan area CBD karena kurangnya pembangunan infrastruktur di wilayah lainnya.

Hal ini menyebabkan terbentuknya area mixed use yang dipenuhi oleh bisnis, komersial, industrial, dan perumahan di dekat area CBD.

Pada saat itu, kota-kota Amerika Latin juga sedang mengalami migrasi masuk (in-migration) dari wilayah rural dan pertumbuhan penduduk yang tinggi karena pergerakan dari golongan bawah menuju pusat kota untuk mencari pekerjaan.

Jumlah penduduk yang terus meningkat ditambah dengan konstruksi perumahan yang lambat serta kurangnya lapangan pekerjaan menciptakan wilayah-wilayah slum serta squatter settlements yang berlokasi di pinggir-pinggir kota.

Karena berada di pinggir kota, wilayah-wilayah ini cenderung memiliki fasilitas yang sangat buruk.

Seiring dengan waktu dan ekspansi wilayah kota, secara bertahap dibangunlah fasilitas-fasiltias umum pada pemukiman-pemukiman ini sehingga wilayah ini menjadi lebih stabil dan kualitas hidup penduduknya meningkat.

Untuk menggambarkan kota-kota di Amerika Selatan yang cukup kompleks, Griffin dan Ford membaginya menjadi beberapa bagian yaitu

Central Business District

Pusat dari semua kota Amerika Latin adalah CBD nya. Area ini memiliki lowongan pekerjaan terbaik dan merupakan pusat hiburan serta perdagangan dari kota tersebut.

Wilayah CBD umumnya memiliki infrastruktur yang sangat baik dibandingkan wilayah sekitarnya, selain itu, terdapat pula banyak alternatif transportasi sehingga penduduk di daerah CBD ini memiliki mobilitas yang sangat tinggi.

Spine and Elite Residential Sector

Setelah CBD, zona yang paling mendominasi di kota-kota Amerika Latin adalah zona tulang punggung komersial yang dikelilingi oleh perumahan elit untuk golongan atas.

Zona tulang punggung ini umumnya dianggap sebagai ekstensi dari CBD dan merupakan pusat dari berbagai aktivitas komersial dan industrial.

Zona perumahan elit atas adalah lokasi dimana semua rumah-rumah besar yang dibangun secara profesional ada.

Umumnya, area ini memiliki boulevard yang ditutupi oleh kanopi pepohonan, lapangan golf, museum, restoran, taman, theater, dan kebun binatang. Perencanaan penggunaan lahan dan zonasi pada wilayah ini sangatlah ketat.

Zone of Maturity

Zona ini terletak di sekitar CBD dan dapat dianggap sebagai lokasi inner city. Area ini memiliki perumahan dan bangunan yang dibangun dengan baik dan profesional.

Penghuni daerah ini umumnya adalah penduduk kelas menengah yang masuk setelah penduduk kelas atas pindah ke daerah perumahan elit.

Area ini memiliki fasilitas yang sangat baik jika dibandingkan dengan daerah lain, namun masih kalah dengan wilayah perumahan elit.

Zone of In-Situ Accretion

Zona in situ accretion merupakan zona transisi yang menjembatani antara zone of maturity dan zona peripheral squatter settlements.

Perumahan pada daerah ini umumnya memiliki kualitas menengah, memiliki ukuran dan jenis yang beragam, serta kualitas material yang tidak terlalu baik.

Rumah-rumah pada area ini umumnya memiliki tampilan ‘selalu dibangun’ dan banyak rumah yang terlihat sedang direnovasi atau dibangun (Griffin dan Ford, 1980).

Persebaran infrastruktur seperti jalan raya dan jaringan listrik masih tidak merata dan hanya terdapat di beberapa tempat.

Zone of Peripheral Squatter Settlements

Zona ini terletak pada pinggiran kota-kota Amerika Latin dan merupakan tempat dimana penduduk yang termasuk golongan bawah tinggal. Wilayah ini jarang sekali memiliki infrastruktur dan rumah-rumah disini dibuat sendiri oleh penghuninya dengan peralatan dan bahan material seadanya.

Umumnya pemukiman zona peripheral yang lebih tua memiliki kualitas bangunan dan fasilitas yang lebih baik karena warga senantiasa memperbaiki bangunan dan membangun fasilitas-fasilitas baru.

Umur merupakan penentu penting dalam perkembangan kota-kota di Amerika Selatan. Sebuah kota yang memiliki pertumbuhan penduduk rendah akan mempunyai zone of maturity yang lebih besar dan memiliki bentuk kota yang lebih teratur.

Ukuran zona pada model kota Amerika Latin merupakan fungsi dari pertumbuhan penduduk dan umur kota, dibandingkan dengan kapasitas ekonomi kota tersebut untuk menyerap penduduk baru dan membangun fasilitas publik baru.

Revisi Model Ford

Revisi Model Kota Amerika Latin
Revisi Model Kota Amerika Latin

Pada tahun 1996, Larry Ford mengemukakan beberapa revisi untuk model kota Amerika Latin. Setelah mengamati perkembangan kota yang semakin kompleks, Ford merasa bahwa modelnya yang diterbitkan pada tahun 1980 sudah tidak akurat lagi, oleh karena itu ia melakukan beberapa revisi yaitu:

  1. Pada daerah pusat kota dipisahkan antara zona CBD dan Pasar. Kota-kota sekarang sudah mempunyai perkantoran, mall, dan hotel-hotel di daerah pusat kota selain pada zona CBD yang asli.
  2. Zona tulang punggung (spine) dan perumahan elit sekarang mempunyai mall pada ujungnya untuk menyediakan barang dan jasa yang dibutuhkan penduduk kelas atas
  3. Banyak kota-kota di Amerika Latin yang sekarang mempunyai pusat industri yang berlokasi diluar area CBD
  4. Mall, edge cities, dan area industrial umumnya dihubungkan oleh periferico atau jalan raya cincin (ring-road) sehingga pekerja dan penduduk dapat berpergian antara pusat-pusat tersebut dengan mudah.
  5. Banyak kota Amerika Latin yang sekarang mempunyai perumahan kelas menengah yang berlokasi dekat dengan perumahan kelas atas/elit serta fasilitas periferico.
  6. Banyak kota Amerika Latin yang mengalami gentrifikasi untuk melindungi wilayah historisnya. Fenomena ini umumnya terjadi di wilayah zone of maturity yang dekat dengan CBD dan sektor perumahan elit.
 

Model Kota Inggris Mann

Model Kota Inggris Mann
Ilustrasi Model Kota Inggris oleh Mann

Model kota Mann didasarkan pada kota Huddersfield, Nottingham, dan Sheffield, kota-kota berukuran sedang di wilayah Inggris utara.

Garis-garis sektoral dan konsentrik pada model ini mengingatkan kita pada Burgess dan Hoyt, namun Mann menambahkan arah angin sebagai faktor penentu dari perkembangan kota.

Inggris memiliki angin utama (prevailing winds) South-Westerly, sehingga asap dari pabrik akan cenderung bergerak ke arah timur laut, menjauhi perumahan-perumahan kelas menengah keatas yang terletak di arah barat dan barat-daya, perumahan kelas atas ini umumnya mempunyai kualitas udara yang paling baik di daerah perkotaan ini.

Perumahan kelas menengah kebawah terletak dekat dengan pabrik karena mereka perlu berada dekat dengan tempat kerjanya untuk menekan biaya transportasi, selain itu harga tanah yang relatif lebih murah juga membuat biaya hidup disana tidak terlalu mahal.

Pada model ini, penduduk kelas menengah kebawah lebih banyak 3:1 dibandingkan dengan penduduk kelas menengah keatas, selain itu kepadatan penduduk pada perumahan zona C dan D juga lebih tinggi dibandingkan dengan area yang lebih kaya.

Kota ini dibagi menjadi sektor-sektor yang dipengaruhi oleh arah angin, polusi industri, dan kemampuan mobilitas kelas menengah-keatas untuk mencapai wilayah kerja walaupun tempat tinggal mereka lebih jauh.

Wilayah konsentrik yang ada pada model ini merupakan representasi dari umur. Semakin tua umur bangunan, maka semakin dekat dengan pusat kota bangunan tersebut.

Model ini berkerja dengan baik ketika diaplikasikan ke kota-kota berukuran sedang yang didominasi oleh mayoritas kaum pekerja (menengah kebawah). Namun sekarang, model ini sudah tidak valid, karena pertumbuhan pesat dari kaum menengah keatas, terutama di wilayah Inggris Selatan.

 

Model Kota Inggris Lawton

Model Kota Inggris Lawton
Ilustrasi Model Kota Inggris oleh Lawton

Model kota Lawton didasarkan pada kota Liverpool dan perkembangannya pada abad ke 19. Dalam sejarah panjangnya, Liverpool telah mengalami periode makmur maupun periode krisis.

Pada awalnya Liverpool menjadi makmur sebagai kota-pelabuhan yang menyuplai koloni Inggris di Amerika Utara.

Barang-barang yang diproduksi di kota-kota terdekatnya, terutama Manchester diperdagangkan di pelabuhan Liverpool.

Selain itu Liverpool juga memiliki bisnis pembuatan kapal, tekstil, persenjataan, serta pemurnian gula yang cukup maju.

Cincin konsentrik yang ada pada model ini merupakan hasil dari fase ekspansi dan stangansi ekonomi yang terjadi secara siklik.

Ketika ekonomi sedang baik, maka kota akan berkembang ke arah luar (ekspansi), ketika ekonomi sedang buruk maka perkembangan kota akan mengalami stagnansi (terhambat).

Siklus ini terjadi berulang-ulang sehingga menimbulkan pola cincin yang cukup terlihat.

Zona V adalah wilayah pedesaan ataupun areal suburban yang terletak diluar batas kota, area-area ini umumnya memiliki keterkaitan yang sangat kuat dengan kota yang ada didekatnya.

Ketika zona V sudah sangat dekat dengan kota, kota tersebut akan menyerap masuk wilayahnya sehingga membuatnya menjadi sebuah distrik dalam kota tersebut, seperti zona B.

 

Model Kota Eropa Hopkinson

Model Struktur Kota Eropa
Ilustrasi Model Kota Eropa

Model kota Hopkinson didasarkan pada kota-kota Inggris dan Eropa Barat. Model ini menggabungkan zona konsentrik dan sektoral.

Pabrik-pabrik yang paling awal didirikan mengelilingi area kota tua yang sekarang sudah menjadi pusat kota (city core), sedangkan industry yang lebih baru dibangun dekat dengan jalur kereta api agar transportasi lebih mudah.

Pengembangan kota pada zaman antar perang dunia/interwar (1920-1930an) dilakukan dari area CBD mengikuti jalan-jalan utama.

Perkembangan kota pada zaman sehabis perang/postwar (1946 an hingga sekarang) mengisi tempat-tempat kosong diantara zona interwar dan greenbelt.

Area CBD yang berada di pusat kota umumnya merupakan tempat bersejarah yang pada zaman dahulu terdapat benteng atau sarana pertahanan lainnya.

Pusat kota pada kota-kota Eropa lebih menjaga arsitektur bersejarahnya dibandingkan kota-kota di Amerika Utara, oleh karena itu, kota-kota Eropa umumnya dianggap lebih menarik.

Pembangunan ring-road (jalan cincin) yang bertujuan untuk mengurangi kemacetan di pusat kota pada kota-kota Eropa juga sukses menjaga pusat kota dari polusi berlebihan.

Namun pembangunan ini memiliki efek samping yaitu meningkatkan kemacetan di daerah-daerah suburban yang menjadi tempat entry dan exit dari ring-roads tersebut.

 

Referensi

Wikipedia. Multiple Nuclei Model.

Cronodon. Structure of British and European Cities.

ThoughtCo. Latin American City Structure.

Wikipedia. Concentric Zone Model.

Wikipedia. Bid Rent Theory.

Wikipedia. Sector Model.

Ford, Larry R. (July 1996). “A New and Improved Model of Latin American City Structure.” Geographical Review. Vol. 86, No.3 Latin American Geography

Griffin, Ernest and Larry Ford. (October 1980). “A Model of Latin American City Structure.” Geographical Review. Vol. 70, No. 4

Waugh, David (2014). Geography an Integrated Approach, Fourth Edition. Oxford University Press

Tinggalkan komentar