Teori Apungan Benua: Pengertian, Bukti, dan Dampaknya

Diposting pada

Bumi kita terdiri dari 6 benua yang berbeda-beda, mereka dibatasi oleh barisan pegunungan yang tinggi dan samudra yang luas. Secara sekilas, terlihat bahwa mereka tidak bergerak sama sekali bukan?

Ternyata, benua-benua tersebut bergerak teman-teman. Sebenarnya, bukan benuanya sih yang bergerak, tetapi lempeng tektonik yang ada dibawah benua tersebut.

Namun, saat itu para ahli belum mengetahui adanya lempeng tektonik, sehingga yang dianggap bergerak adalah benua-benua itu sendiri. Inilah yang menjadi dasar dari teori apungan benua atau continental drift yang dipopulerkan oleh Alfred Wegener.

Sekarang, teori apungan benua sudah digantukan oleh teori tektonik lempeng modern yang lebih komprehensif dan saintifik.

Pengertian Teori Apungan Benua

Ilustrasi teori apungan benua

Teori apungan benua pada dasarnya adalah sebuah teori yang menyatakan bahwa benua-benua yang ada di bumi ini tidak bersifat statis, tetapi selalu bergerak seiring dengan waktu.

Pada zaman dahulu kala, semua benua di bumi tergabung kedalam satu super-benua yaitu Pangaea. Seiring dengan berjalannya waktu, super-benua ini pecah menjadi Gondwana dan Laurasia. Kedua benua ini juga kelak akan berubah menjadi benua-benua yang sekarang kita kenal.

Teori apungan benua menjelaskan bahwa seiring dengan berjalannya waktu, benua-benua yang ada di dunia akan terus bergerak. Mereka akan senantiasa menyatu dan terpecah lagi, menciptakan benua dan super-benua baru.

Namun, pada masa awal ini, belum diketahui alasan apa yang menyebabkan benua-benua tersebut dapat bergerak. Pergerakan yang ternyata disebabkan oleh arus konveksi di mantel bumi ini baru ditemukan dan dijelaskan lebih lanjut pada teori tektonik lempeng modern.

 

Sejarah Teori Apungan Benua

Teori apungan benua berawal dari observasi Abraham Ortelius (1596), Christoph Lilienthal (1756), Alexander von Humboldt (1801 dan 1845), Antonio Snider – Pellegrini (1858) dan beberapa ilmuwan lainnya.

Mereka menemukan bahwa ternyata, bentuk benua Afrika dan Amerika Selatan sangat mirip bagaikan sebuah puzzle. Mereka berspekulasi bahwa kedua benua tersebut awalnya tergabung, namun terpecah karena gampa bumi atau bencana alam lainnya.

Pandangan ini dilanjutkan oleh Alfred Russel Wallace yang pada tahun 1889 menyatakan bahwa permukaan bumi memang sangat dinamis dan selalu berubah seiring dengan berjalannya waktu.

Wallace mengutip Charles Lyell yang pernah mengatakan bahwa meskipun benua-benua terlihat statis, pada zaman geologi yang panjang, mereka dapat berubah seiring dengan waktu.

Namun, pandangan ini ditentang oleh James Dwight Dana yang pada tahun 1849 menyatakan bahwa benua-benua yang ada di dunia ini sudah ditetapkan dari awal. Tidak ada perubahan-perubahan besar di dunia, hanya perubahan kecil seperti sedimentasi dan erosi, tidak ada pergeseran benua. Teori ini dikenal sebagai Permanence Theory.

Dana yang merupakan figur besar di dunia geologi dan mineralogi Amerika Serikat tentu saja berhasil membuat orang-orang meragukan pandangan-pandangan bahwa benua bisa bergerak.

Alfred Wegener

Alfred wegener merupakan pemrakarsa dari teori apungan benua ini

Meskipun terdapat beberapa ilmuwan yang menggagas konsep ini sebelum Wegener, konsep apungan benua yang dibawakan oleh Wegener dalam risetnya adalah yang paling komprehensif dan dapat dipercayai orang banyak. Namun, ada satu hal yang kurang, Wegener bukanlah merupakan seorang geologist.

Selain bukti yang dirasa kurang meyakinkan, hal inilah yang menjadi penyebab banyak ilmuwan di ranah keilmuan geofisika dan geologi yang menolak pandangan Wegener. Mereka lebih setuju dengan pandangan Dana mengenai permanence theory bahwa tidak terjadi pergerakan benua-benua di bumi ini.

Faktor-faktor yang menyebabkan teori apungan benua memiliki kredibilitas rendah pada saat itu adalah tidak ditemukannya gaya yang dapat menggerakkan benua dan laju kecepatan benua yang dianggap terlalu tinggi.

Saat itu, ilmu mengenai struktur bumi belum terlalu maju, oleh karena itu, mereka belum dapat menemukan arus konveksi mantel yang kini diduga menjadi penggerak lempeng tektonik. Anggapan saat itu adalah benua-benua terlalu berat untuk bergerak, sehingga sulit menemukan gaya yang dapat mendorongnya dengan baik.

Selain itu, anggapan bahwa benua-benua bergerak sekitar 250 cm/tahun oleh Wegener dirasa terlalu tinggi. Jika benar seperti itu, maka perubahannya dapat dirasakan oleh pengamat yang ada di pantai, atau setidaknya oleh petugas mercusuar pantai.

Saat ini, disepakati bahwa laju pergerakan lempeng-lempeng tektonik di seluruh dunia hanya sekitar 2,5 cm per tahun. 10x lebih kecil dari prediksi awal Wegener yaitu 250 cm/tahun.

Seiring dengan berjalannya waktu, ditemukan fakta-fakta baru mengenai pergerakan benua-benua oleh beberapa ilmuwan antara lain Vening Meniesz, Umbgrove, Holmes, dan Harry Hess.

Ilmuwan-ilmuwan ini berhasil menemukan bahwa ternyata memang benar benua-benua bergerak sesuai prediksi Wegener. Merekalah yang menjadi pelopor teori tektonik lempeng modern yang kini kita pelajari bersama-sama.

 

Bukti yang Memperkuat Teori Apungan Benua

Persebaran fosil-fosil merupakan bukti yang sangat kuat bahwa benua-benua yang ada di dunia ini senantiasa bergerak

Secara umum, bukti-bukti yang memperkuat dugaan bahwa benua-benua yang ada di dunia ini bergerak sebenarnya cukup banyak. Namun, yang paling berpengaruh adalah

  • Kesamaan fossil hewan dan tumbuhan di pesisir benua-benua yang berbeda. Contohnya adalah mesosaurus yang ditemukan di Brazil dan Afrika
  • Kesamaan bentuk pesisir pantai Amerika Selatan dan Afrika. Hal ini mendorong dugaan bahwa dahulu kedua benua ini tergabung dan mengalami pemisahan seiring dengan berjalannya waktu
  • Tersebarnya sedimen gletser permo-carboniferous di Amerika Selatan, Afrika, Madagascar, Jazirah Arab, India, Antarktika, dan Australia. Hal ini menunjukkan bahwa pada zaman dahulu, daerah-daerah tersebut menyatu.
  • Adanya deposit batu bara di daerah lintang tinggi dan kutub, padahal daerah ini tidak memungkinkan adanya hutan lebat. Artinya, mereka dulu tidak berada pada lokasi tersebut, melainkan di daerah tropis.

Berdasarkan poin-poin diatas, kita dapat mengklasifikasikan bukti-bukti yang memperkuat teori apungan benua menjadi tiga yaitu bukti klimatik, geologik, dan biologis. Berikut ini adalah penjabarannya.

Bukti Klimatik

Bukti klimatik terkuat dari apungan benua adalah keberadaan deposit batu bara di daerah kutub dan lintang tinggi. Padahal, kita tahu bahwa proses terbentuknya batu bara memerlukan hutan-hutan lebat, yang tentu saja tidak tumbuh di daerah kutub dan lintang tinggi.

Oleh karena itu, kuat dugaan bahwa daerah-daerah ini pernah berada di daerah tropis atau subtropis. Sehingga bisa terbentuk batu bara di lokasi tersebut.

Namun, pergerakan benua-benua menggeser mereka ke posisi mereka sekarang, yaitu di daerah kutub dan lintang tinggi. Hal ini sejalan dengan asumsi dari teori apungan benua bahwa benua-benua bisa bergerak.

 

Bukti Geologis

Secara geologis, bukti paling kuatnya adalah terdapat kesamaan-kesamaan endapan sedimen dan struktur lapisan batuan di lokasi-lokasi yang berjauhan. Oleh karena itu, logis untuk berasumsi bahwa pada zaman dahulu, daerah-daerah ini tergabung.

Contoh paling mudahnya adalah adanya sedimen gletser permo-carboniferous di Amerika Selatan, Afrika, Madagascar, Jazirah Arab, India, Antarktika, dan Australia.

Diduga, dahulu daerah-daerah tersebut tergabung kedalam satu benua yang lebih besar dan berada di lokasi yang sama. Kini, kita mengetahui bahwa benua tersebut adalah benua Gondwana.

Selain itu, coba perhatikan barisan pegunungan di Amerika Serikat. pegunungan Appalachian dan Adirondacks di pantai timur Amerika tiba-tiba menghilang di daerah Newfoundland.

Namun, kita dapat menemukan barisan pegunungan dengan karakteristik yang cukup sama di daerah Greenland, Inggris, Norwegia, dan Swedia. Hal ini menunjukkan bahwa pada zaman dahulu, mereka merupakan baris pegunungan yang sama.

 

Bukti Biologis

Bukti biologis dari adanya pergerakan benua adalah ditemukannya fossil hewan yang sama namun lokasi penemuannya berjauhan, hingga beda benua. Hal ini menunjukkan bahwa pada zaman dahulu, benua tersebut menyatu dengan benua lain, atau setidaknya dihubungkan oleh daratan.

Berikut ini adalah contoh-contoh fossil hewan maupun tumbuhan yang ditemukan di berbagai tempat yang berjauhan. Untuk mempermudah visualisasi, bisa kalian bisa merujuk pada ilustrasi diatas.

  • Fossil Cynognathus ditemukan di Amerika Selatan dan Afrika. Hewan ini merupakan reptil yang hidup sekitar 240 juta tahun silam
  • Fossil Mesosaurus ditemukan di Amerika Selatan dan Afrika. Hewan ini merupakan reptil air tawar yang hidup di danau, rawa, dan sungai-sungai sekitar 260 juta tahun yang lalu
  • Fossil Lystrosaurus ditemukan di Afrika, India, dan Antarktika. Hewan ini merupakan reptil yang hidup sekitar 240 juta tahun yang lalu
  • Fossil Clossopteris ditemukan di Afrika, Amerika Selatan, Australia, Antarktika, dan India. Tanaman ini merupakan sejenis pakis yang hidup sekitar 260 juta tahun silam

Ditemukannya berbagai fossil binatang dan tumbuhan yang sama di berbagai belahan dunia ini menunjukkan bahwa pada zaman dahuku, mereka hidup di satu daratan. Daratan inilah yang kita kenal sebagai super-benua Pangaea.

 

Dampak

Terbentuknya pegunungan merupakan dampak langsung dari terjadinya continental drift

Secara umum, dicetuskannya teori apungan benua menghasilkan beberapa dampak besar. Namun, kita harus mengklasifikasikan dampak ini kedalam 2 kategori. Dampak dari teori apungan benua, dan dampak dari apungan benua itu sendiri.

Dampak dari Teori Apungan Benua

Terdapat dua dampak besar dari dicetuskannya teori apungan benua yaitu

  • Muncul anggapan bahwa permukaan bumi akan selalu berubah seiring dengan berjalannya waktu
  • Meningkatkan minat penelitian geofisika pada masanya dan mendorong perkembangan sains tektonik

Dahulu, orang-orang tidak percaya bahwa benua-benua yang ada di dunia senantiasa bergerak. Padahal, bukti-buktinya sudah cukup banyak pada zaman itu. Hal ini menyebabkan ilmu pengetahuan tektonik dan geofisik mengalami keterbelakangan.

Pencetusan teori apungan benua oleh Wegener dan penerus-penerusnya berhasil membuat para geofisikawan berfikir dan berkontemplasi. Awalnya, Wegener dicaci maki oleh para geofisikawan dan geologist karena dianggap gila dan aneh.

Namun, penelitian lanjutan oleh ahli-ahli seperti Vening Meinez dan Harry Hess turut memperkuat keabsahan teori apungan benua. Sehingga akhirnya, diakui bahwa memang benar benua-benua di bumi ini senantiasa bergerak.

Seiring dengan berjalannya waktu, teori ini bertransformasi menjadi teori tektonik lempeng modern yang kita kenal dan pelajari di sekolah-sekolah.

 

Dampak dari Apungan Benua

Kita sudah bahas dampak dari teori apungan benuanya, sekarang kita akan bahas dampak dari apungan benua itu sendiri.

  • Menciptakan pegunungan-pegunungan
  • Mempengaruhi luas laut dan samudera
  • Mempengaruhi iklim lokal

Seiring dengan pergerakan benua-benua di dunia, terkadang pasti akan terjadi tabrakan. Hal ini dapat menyebabkan terbentuknya pegunungan-pegunungan. Contoh yang paling jelas adalah pegunungan Himalaya yang disebabkan oleh tabrakan antara India dengan Eurasia, lebih tepatnya Tibet dan China.

Karena benua terus bergerak, maka luas lautan dan samudera juga akan berubah-ubah seiring dengan pergerakan tersebut. Kalau kedua benua saling bergerak mendekat, maka samudera yang ada diantara kedua benua itu akan menjadi semakin mengecil. Begitu juga jika terjadi sebaliknya.

Tentu saja pergerakan benua ini akan memiliki pengaruh pada iklim lokal yang ada di wilayah tersebut. Karena, keberadaan laut dan daratan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi iklim dan cuaca.

Semakin banyak badan perairan, maka suhu akan semakin stabil, sedangkan semakin banyak daratan di suatu lokasi, suhu akan semakin tidak stabil. Daerah yang murni daratan seperti gurun Sahara bisa merasakan suhu yang sangat panas di siang hari namun sangat dingin di malam hari.

Iqbal Hakim

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *