Sumber Daya Alam: Pengertian, Klasifikasi, dan Pemanfaatannya

Sumber Daya Alam: Pengertian, Klasifikasi, dan Pemanfaatannya

Sumber daya alam (SDA), atau sering disebut sebagai natural resource, merupakan segala sesuatu yang memiliki nilai tambah dan sudah ada secara alami, tanpa perlu campur tangan dari manusia.

SDA meliputi semua material yang memiliki nilai tambah dan dapat dimanfaatkan untuk kemaslahatan umat manusia. SDA yang ada di bumi antara lain adalah logam, mineral, biomasa, angin, matahari, air, dan masih banyak lagi.

Masalah yang sekarang cukup hangat mengenai SDA adalah pemanfaatannya. Banyak yang menganggap bahwa SDA, karena memiliki nilai tambah, harus dieksploitasi untuk menghasilkan manfaat sebesar besarnya.

Namun, tidak sedikit pula orang yang menganggap bahwa sumber daya alam tidak boleh serta merta digunakan seenak manusia. Mereka menganggap bahwa eksploitasi SDA secara berlebihan dapat menyebabkan krisis lingkungan.

Oleh karena itu, muncul paradigma sustainable development dan penggunaan SDA secara berkelanjutan. Yaitu usaha untuk memanfaatkan SDA sebaik mungkin dengan memperhatikan dampak lingkungan dan sosialnya.

Pengertian Sumber Daya Alam

Untuk memahami lebih dalam mengenai sumber daya alam, ada baiknya kita menelaah pendapat para ahli. Berikut ini adalah pendapat-pendapat para ahli mengenai definisi SDA.

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), sumber daya alam adalah potensi alami yang dapat dikembangkan untuk menunjang proses produksi.

 

J.A Katili

Menurut J.A Katili, sumber daya alam adalah semua unsur tata lingkungan biofisik yang nyata atau memiliki potensi untuk memenuhi kebutuhan manusia.

 

Soerianegara

Menurut Soerianegara, sumber daya adalah unsur lingkungan alami, baik fisik maupun hayati, yang dibutuhkan manusia dalam memenuhi kebutuhannya guna meningkatkan kesejahteraan hidup.

 

Walter Isard

Menurut Walter Isard, sumber daya alam adalah keadaan lingkungan dan bahan mentah yang digunakan manusia untuk memenuhi kebutuhan dan meningkatkan kesejahteraannya.

 

Valentine Jackson Chapman

Menurut Valentine Jackson Chapman, SDA adalah hasil penilaian manusia terhadap unsur-unsur lingkungan hidup yang diperlukannya, yakni persediaan total (total stock), sumber daya (resource), dan cadangan (reserve).

Dapat disimpulkan bahwa secara garis besar, sumber daya adalah segala sesuatu yang memiliki nilai tambah bagi manusia, sedangkan sumber daya alam merupakan segala seuatu yang memiliki nilai tambah namun bersifat alami, tanpa perlu diadakan oleh manusia.

 

Klasifikasi Sumber Daya Alam

Kita dapat mengklasifikasikan SDA berdasarkan asalnya, sifatnya, serta tahap pemanfaatannya.

Asal Sumber Daya Alam

Berdasarkan asalnya, SDA dibagi menjadi dua, yaitu SDA hayati (biotik) dan non-hayati (abiotik).

Sumber Daya Alam Hayati

Kayu Hutan
Kayu di Hutan Merupakan Contoh Sumber Daya Alam Hayati

Sumber daya alam hayati adalah SDA yang dapat diambil dari biosfer kita. Semua hewan dan tanaman yang terkandung dalam ekosistem dan bioma di dunia ini dikategorikan sebagai SDA hayati.

Karena bahan bakar fosil seperti batu bara dan minyak bumi tercipta dari hewan dan tumbuhan, mereka pun dikategorikan sebagai SDA hayati.

 

Sumber Daya Alam Non Hayati

Sumber daya alam non hayati adalah SDA yang berasal dari material tidak hidup dan bersifat anorganik. Umumnya, SDA non hayati ini merupakan bahan galian tambang ataupun merupakan hasil aktivitas vulkanisme dan tektonisme.

Tanah, air, logam, mineral, dan angin merupakan contoh dari SDA non hayati.

 

Sifat Sumber Daya Alam

Dapat diperbarui (Renewable)

Sumber daya alam yang dapat diperbarui dapat dipakai berulang-ulang dan tidak akan habis karena dapat diperbaharui oleh alam secara terus menerus.

Sumber daya alam yang dapat diperbarui secara umum terbagi menjadi dua, yaitu SDA siklik dan SDA yang regenerasinya cepat.

Kincir Angin Sumber Energi Terbarukan
Angin dapat Menggerakkan Turbin Untuk Menciptakan Energi Terbarukan

Sumber daya alam siklik seperti air, angin, matahari, dan udara tidak akan pernah habis karena penggunaannya tidak menghabiskan SDA tersebut.

Jika kita bernafas, apakah udara yang kita hirup hilang? Jika kita menyiram tanaman, apakah air yang kita gunakan untuk menyiram hilang? Jika kita berjemur di pantai, apakah sinar matahari yang mengenai kita hilang? Tentu saja jawabannya tidak. Oleh karena itu, SDA siklik dikategorikan sebagai SDA yang dapat diperbarui.

Sumber daya alam yang beregenerasi secara cepat antara lain adalah biomasa seperti tumbuhan, ikan, dan binatang ternak. SDA ini memiliki laju regenerasi yang sangat cepat sehingga tidak akan habis jika dikelola dengan baik.

Apakah SDA yang dapat diperbaharui dapat habis atau mengalami kelangkaan? Jawabannya adalah iya. Jika tidak dikelola dengan baik, lama kelamaan sumber daya siklik akan mengalami kontaminasi/perubahan bentuk sehingga tidak dapat digunakan.

Jika SDA yang beregenerasi cepat seperti tumbuhan dan binatang tidak dikelola dengan baik, laju konsumsi sumber daya tersebut dapat melebihi laju regenerasinya, sehingga pada akhirnya mereka akan punah.

 

Tidak dapat diperbarui (Non Renewable)

Sumber daya alam yang tidak dapat diperbarui jumlahnya terbatas sehingga akan habis atau punah jika digunakan secara terus-menerus. Selain itu, SDA yang memiliki laju regenerasi lambat juga dikategorikan sebagai SDA yang tidak dapat diperbaharui.

Meskipun begitu, pengelolaan yang baik dapat memperpanjang masa pakai sumber daya tersebut hingga dapat ditemukan alternatif lainnya.

Batubara ada Sumber Daya Alam Tidak Terbarukan
Batubara Merupakan Contoh Sumber Daya Alam yang Tidak Dapat Diperbarui

Contoh sumber daya alam yang tidak dapat diperbarui antara lain adalah mineral, bahan bakar fosil, logam, dan beberapa jenis air tanah akifer.

Sebuah SDA dikategorikan sebagai tidak dapat diperbaharui jika laju konsumsinya melebihi laju regenerasinya. Oleh karena itu, tidak menutup kemungkinan bahwa sumber daya alam yang tadinya terbarukan berubah menjadi sumber tidak terbarukan, atau sebaliknya, seiring dengan perkembangan zaman.

 

Tahap Pemanfaatan Sumber Daya Alam

Berdasarkan tahap pemanfaatan, sumber daya alam dapat diklasifikasikan menjadi 4 kategori, yaitu SDA potensial, SDA aktual, SDA cadangan, dan SDA stock.

Sumber daya alam potensial adalah SDA yang belum dipakai namun dapat dimanfaatkan di masa depan. Contoh dari SDA potensial adalah minyak bumi yang terjebak dalam batuan sedimen shale yang tidak dapat digunakan hingga dilakukan eksplorasi lebih lanjut.

Sumber daya alam aktual adalah SDA yang telah disurvei, dikuantifikasi, diuji kualitasnya, dan sedang digunakan/dieksploitasi. Contoh dari SDA aktual adalah hutan produksi dan tambang minyak.

Sumber daya alam cadangan adalah SDA yang belum digunakan, namun dapat dimanfaatkan secara menguntungkan di masa depan.

Sumber daya alam stock adalah SDA yang sudah disurvei namun belum dapat dimanfaatkan karena teknologi yang tersedia belum cukup memadai.

 

Pengambilan Sumber Daya Alam

Pengambilan SDA, atau extraction, merupakan seluruh proses yang mengambil sumber daya dari alam. Proses ini meliputi cara-cara tradisional hingga pemanfaatan skala industri.

Industri ekstraktif merupakan basis dari perekonomian sektor primer. Proses ekstraksi menghasilkan bahan mentah (raw materials) yang nantinya dapat diolah dan digunakan oleh sektor sekunder manufaktur untuk menciptakan produk jadi.

Industri ekstraktif antara lain adalah industri pertambangan, pengeboran minyak dan gas, perhutanan, serta perburuan/perikanan tangkap.

Kutukan Sumber Daya Alam (Resource Curse)

Nigeria Resource Curse
Nigeria Merupakan Negara yang Sangat Kaya akan Minyak Bumi. Namun, Negara Ini Tetap Miskin (Guardian)

Banyaknya SDA suatu negara tidak menjamin kemakmuran negara tersebut. Negara yang memiliki SDA melimpah justru rawan mengalami keterbelakangan pembangunan. Fenomena ini disebut sebagai the resource curse.

Fenomena ini terjadi karena korupsi, ketidakmerataan sosial, dan pemasukan uang, terutama modal asing, dalam jumlah yang besar mendorong warga lokal untuk tidak memperhatikan sektor ekonomi lainnya yang memiliki nilai tambah (value added) tinggi. Oleh karena itu, perekonomian mereka tidak berkembang dengan cepat dan cenderung mengalami stagnansi.

Selain itu, SDA yang banyak juga dapat menyebabkan fenomena yang dikenal sebagai dutch disease. Fenomena ini merupakan pelemahan sektor industri lain karena pemerintah terlalu berfokus pada industri ekstraktif.

Ketika sebuah negara berfokus pada industri ekstraktif dan tidak memperhatikan industri lainnya, negara tersebut akan mengalami krisis ketika komoditas unggulannya mengalami pengurangan permintaan.

Contoh dari negara yang mengalami dutch disease adalah Canada dengan pasir minyak athabasca nya pada tahun 2000an, Indonesia dengan eksplorasi minyak besar-besarannya pada tahun 1970an, dan Australia dengan gold rush nya pada abad ke 19.

 

Industri Ekstraktif dan Negara Berkembang

Industri ekstraktif merupakan industri yang sangat besar di negara-negara berkembang. Namun, kontribusi yang dihasilkan umumnya tidak berdampak pada kesejahteraan masyarakat sekitar dan negara.

Perusahaan ekstraktif sering dituduh memaksimalkan keuntungan jangka pendek dan tidak mempedulikan keberlanjutan lingkungan serta komunitas sekitarnya. Perusahaan-perusahaan ini sangat kuat karena kontribusi ekonominya juga besar, oleh karena itu, pemerintah sering kali tidak berdaya melawan mereka.

Image result for CSR Planting trees
CSR seperti Menanam Pohon ini Wajib Dilakukan oleh Perusahaan Ekstraktif

Sekarang, perusahaan-perusahaan ekstraktif di Indonesia dituntut untuk melakukan corporate social responsibility (CSR) untuk membantu komunitas di sekitar wilayah operasi mereka. CSR yang dilakukan umumnya berupa community development dan manajemen dampak lingkungan yang dihasilkan oleh operasi mereka.

Contoh perusahaan ekstraktif yang melakukan CSR dengan baik adalah perusahaan batu bara milik negara PT.Bukit Asam (kode: PTBA) yang beroperasi di Sumatera dan Kalimantan.

PTBA melakukan CSR dalam bentuk penanaman pohon, reklamasi lubang galian tambang, pembangunan desa-desa disekitar tambang, penyerapan tenaga kerja dari penduduk sekitar, serta pembangunan infrastruktur wilayah sekitar bersama dengan pemerintah daerah.

 

Berkurangnya Sumber Daya Alam

Belakangan ini, berkurangnya SDA menjadi fokus pembicaraan pemerintah serta organisasi multi nasional seperti perserikatan bangsa bangsa (PBB). Berkurangnya SDA dianggap merupakan permasalahan pembangunan berkelanjutan (sustainable development).

Pembangunan berkelanjutan memilki banyak definisi, namun, orang-orang umumnya menggunakan definisi laporan komisi Bruntland dalam mendefinisikan pembangunan berkelanjutan.

Pembangunan berkelanjutan adalah pembangunan yang memastikan ketercukupan kebutuhan pada saat ini tanpa membuat generasi di masa mendatang kesulitan untuk memenuhi kebutuhan mereka

Deforestasi Hutan
Seiring Dengan Perkembangan Ekonomi Dunia, Kebutuhan Kayu dan Makanan Meningkat, sehingga Mendorong Aksi Deforestasi Hutan

Pada saat ini, hutan hujan tropis merupakan salah satu fokus perdebatan dalam permasalahan berkurangnya sumber daya. Mayoritas penduduk dunia (80%) menggunakan obat-obatan yang didapatkan dari hutan, 3/4 produk obat dunia memiliki bahan dasar berbasis tanaman yang tumbuh di hutan. Jika hutan hujan dirusak, maka bahan-bahan medis ini pun akan terganggu ketersediaannya.

Degradasi tanah juga merupakan permasalahan berkurangnya SDA berupa tanah. Tanah merupakan SDA yang tergolong unik, tanah dapat menjadi terbaharukan jika penggunaannya dikelola dengan baik, namun, tanah dapat dengan mudah menjadi tidak terbaharukan ketika dikelola dengan buruk.

Pertanian modern dengan segala alat-alat, pupuk, dan pestisidanya membuat tanah menjadi terdegradasi. Degradasi tanah ini menyebabkan daerah yang tadinya subur berubah menjadi gersang dalam fenomena penggurunan atau desertification.

Oleh karena itu, praktik pertanian berkelanjutan sangatlah penting dalam menjaga kualitas lingkungan kita serta menjaga keberlanjutan pasokan pangan bagi penduduk dunia yang semakin meningkat.

 

Perlindungan Sumber Daya Alam

Pada tahun 1982, perserikatan bangsa-bangsa membuat world charter for nature yang mengakui bahwa diperlukan langkah-langkah untuk melindungi lingkungan dari eksploitasi manusia.

Charter ini mendorong pemerintah-pemerintah di seluruh dunia agar membuat regulasi untuk mengatur pemanfaatan sumber daya alam dan mendorong pemanfaatan SDA secara berkelanjutan baik oleh perusahaan, masyarakat, ataupun pemerintah itu sendiri.

Selain itu, sudah terdapat banyak perjanjian dan peraturan lain yang dibuat untuk menjaga kelestarian sumber daya. Perjanjian tersebut antara lain adalah REDD untuk hutan, perdagangan karbon untuk meminimalisir pengeluaran CO2, COP21 untuk resolusi perubahan iklim, dan protokol Kyoto untuk mengurangi pengeluaran gas rumah kaca.

 

Manajemen Sumber Daya Alam

Manajemen SDA adalah ilmu yang mendasari pengelolaan SDA agar memberikan manfaat terbesar untuk generasi sekarang dan juga generasi yang akan datang. Oleh karena itu, manajemen SDA yang baik sangat berkorelasi dengan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan.

Pada dasarnya, manajemen SDA bertujuan untuk mengetahui siapa yang berhak dan tidak berhak untuk memanfaatkan, serta batas-batas pemanfaatan sumber daya tertentu.

Pada skala nasional, manajemen SDA dilakukan oleh pemerintah pusat serta pemerintah daerah. Semua izin eksploitasi SDA harus melewati kementrian yang terkait dengan SDA tersebut, baik itu kementrian ESDM, kemaritiman, atau kehutanan.

Pada skala internasional, manajemen sumberdaya dilakukan dalam bentuk kerjasama antar pemerintahan. Kerjasama ini sangat penting untuk mengelola SDA yang cakupan wilayahnya antar negara seperti sungai-sungai di Timur Tengah dan Amerika Selatan, serta habitat dan spot penangkapan ikan di Teluk Newfoundland.

Permasalahan-permasalahan ini umumnya diselesaikan dalam negosiasi bilateral ataupun multilateral. Jika negosiasi gagal, masih terdapat PBB dan world resource forum (WRF) di Swiss yang siap untuk menjembatani renegosiasi permasalahan.

 

Produksi Sumber Daya Alam dan Kartel

Selain permasalahan pemanfaatan, terdapat pula permasalahan produksi. Nilai suatu sumber daya berbanding lurus dengan kebermanfaatannya serta kelangkaannya. Semakin bermanfaat dan langka suatu SDA, semakin mahal pula SDA tersebut.

Oleh karena itu, ketika ada negara produsen suatu SDA yang meningkatkan produksi, keuntungan negara-negara lain yang memproduksi SDA yang sama pun akan berkurang. Hal ini mendorong pembentukan kartel produsen agar harga di pasar dapat dikontrol dengan baik.

OPEC Kartel Sumber Daya Alam Minyak
OPEC Merupakan Salah Satu Kartel Sumber Daya yang Berfokus di Minyak

Organization of Petroleum Exporting Countries (OPEC) merupakan salah satu kartel migas yang diisi oleh negara-negara produsen minyak bumi. Negara-negara yang tergabung dalam OPEC memiliki kuota produksi tersendiri yang disesuaikan agar harga pasar tetap terjaga dan dapat memaksimalkan keuntungan tiap anggota.

Ketika harga minyak dunia naik, OPEC akan meningkatkan kuota produksinya sehingga negara anggotanya mendapatkan untuk dan harga minyak berangsur-angsur turun. Ketika harga minyak dunia turun, OPEC akan mengurangi kuota produksinya agar minyak menjadi langka dan harga minyak pun berangsur-angsur naik.

 

Sumber Daya Alam sebagai Senjata dalam Konflik

Ketika terjadi konflik, SDA juga dapat digunakan untuk melemahkan negara lawan. Hal ini dilakukan ketika SDA tersebut milik bersama namun kontrol satu negara lebih kuat dibandingkan dengan negara lainnya.

Sumber Daya Alam Air Iraq
Peta Sungai Tigris dan Eufrat di Iraq (Yale)

Contoh penggunaan SDA sebagai senjata adalah pada sungai-sungai di Timur Tengah. Iraq merupakan negara yang hampir seluruh pasokan airnya disediakan oleh sungai Tigris dan Eufrat. Namun, kedua sungai ini berasal dari Turki dan Suriah, dua negara yang memiliki hubungan kurang baik dengan Iraq.

Untuk melemahkan Iraq dalam konflik-konflik kedepannya, Turki dan Suriah membangun banyak bendungan agar mereka dapat mengontrol air yang mengalir ke Iraq. Jika suatu saat terjadi perang, maka kedua negara ini dapat dengan mudah menetralisir Iraq.

Selain itu, Suriah dalam kasus ini ISIS, juga pernah menggunakan air sebagai senjata melawan pemerintah dan rakyat disana. Pada kasus ini, mereka menguasai daerah yang berdekatan dengan sungai lalu membangun bendungan untuk mengontrol air yang mengalir kebawah.

Jika air tersebut mengalir ke arah daerah yang dikuasai ISIS, maka aliran air akan dipertahankan, namun jika air tersebut mengalir ke daerah yang dikuasai pemerintah, aliran air tersebut akan dihentikan. Hal ini menyebabkan ribuan orang kekurangan air bersih di Suriah.

ISIS juga tidak segan untuk meracuni sungai-sungai yang tidak dapat dikuasai oleh mereka, terutama sungai-sungai yang melewati daerah-daerah pusat kekuasaan pemerintah Suriah. Hal ini dilakukan agar pemerintah mengalami kekurangan air bersih sehingga kemampuan bertempurnya pun menurun.

 

Negara dengan Sumber Daya Alam Terbanyak

Kita sudah membahas panjang lebar mengenai sumber daya alam, namun, negara apa yang sebenarnya memiliki SDA terbanyak di dunia? Simak di tabel berikut ini

NegaraNilai SDA (Trilyun Dollar)
Russia75
Amerika Serikat45
Saudi Arabia34,4
Kanada32,2
Iran27,3
China23
Brazil21,8
Australia19,9
Iraq15,9
Venezuela14,3

Indonesia tidak masuk dalam sepuluh besar negara dengan nilai SDA terbesar di dunia. Namun, kita sama-sama tahu bahwa Indonesia merupakan negara yang sangat kaya akan sumber daya, kira-kira, nilai SDA kita berapa ya?

Menurut pengamat Kurtubi, Indonesia memiliki SDA senilai ~Rp.200,000 trilyun. Jika dikonversikan kedalam dollar, maka Indonesia memiliki SDA senilai $14,05 trilyun, hanya berbeda tipis dengan Venezuela.

Sebenarnya, indonesia sangat kaya dengan sumber daya. Hanya saja, pemanfaatannya masih kurang baik sehingga belum dapat mensejahterakan seluruh lapisan masyarakat di Indonesia.

Tinggalkan komentar