Struktur Kota

Ketika kita berbicara mengenai struktur kota, apa yang ada dalam pikiran kita? Mungkin kita akan terbayang teori konsentris, sektoral, ataupun multiple nuclei. Tetapi, sebenarnya itu hanyalah teori mengenai struktur kota, bukan struktur kota itu sendiri.

Pada dasarnya, struktur kota adalah transisi perlahan dari area yang memiliki sifat kekotaan menuju area yang memiliki sifat desa. Teori-teori tersebut dibuat untuk menjelaskan transisi ini, berdasarkan asumsi dan contoh kasus masing-masing peneliti.

 

Transisi dari Zona Urban menuju Zona Rural

Ilustrasi Struktur Kota dari CBD hingga Zona Komuter

Zona pusat kota yang dilambangkan dengan CBD memiliki banyak sekali perbedaan dengan zona-zona disekelilingnya, semakin menjauhi pusat kota, maka semakin hilang unsur kota nya dan mulai digantikan dengan unsur suburban, ketika ia sudah mencapai daerah perbatasan dengan desa, maka unsur desa menjadi lebih dominan. Transisi ini digambarkan oleh grafik diatas dan akan dibagi menjadi beberapa bagian yaitu.

City Centre / Central business District (CBD)

City centre umumnya merupakan pusat komersial, kultural, dan politik suatu kota. Secara geografis, city centre ini umumnya ditemukan di pusat kota. CBD dan city centre kerap disamakan, padahal mereka memiliki makna yang berbeda walaupun biasanya berada di lokasi yang sama.

CBD lebih merujuk kepada pusat bisnis dan komersial suatu kota, umumnya perusahaan-perusahaan besar memiliki kantor disini. Jika CBD berfokus pada aspek ekonomi dan bisnis, maka city centre selain merupakan pusat ekonomi, juga merupakan pusat sejarah, budaya, dan politik suatu kota.

Contoh dari perbedaan ini adalah di kota Paris, La Defense merupakan CBD utama dari kota Paris, ia berada sekitar 3 kilometer dari batas resmi kota Paris dan masuk ke dalam Paris Metropolitan Area. Namun, city centrenya berada di sekitar kilometre zero atau 1st Arrondissement yang berada di dalam kota.

Bentuk dan jenis CBD sangat dipengaruhi oleh sejarah kota itu sendiri. Jika kota itu adalah kota tua dan memiliki banyak bangunan bersejarah di dalam city centrenya maka CBD akan cenderung berkembang agak jauh dari city centre tersebut.

Hal ini disebabkan oleh adanya peraturan konservasi bangunan bersejarah dan penetapan batas maksimum ketinggian bangunan yang umumnya berlaku di pusat-pusat kota tua. CBD jenis ini biasanya terdapat di kota-kota tua Eropa seperti Paris dan Vienna.

Pada kota-kota yang relative baru, yang berkembang setelah revolusi industri dan mekanisasi, daerah pusat kota akan memiliki bangunan-bangunan tinggi, kantor-kantor perusahaan besar, kantor pemerintahan, landmark, dan juga bangunan-bangunan lain yang dianggap bersejarah.

Oleh karena itu, umumnya CBD dan city centre dianggap sebagai satu kesatuan dalam kota-kota seperti ini, contoh dari kota ini adalah New York, Las Vegas, dan San Francisco.

Terjadinya urbanisasi massal di abad ke 21 telah menyebabkan munculnya megacities atau kota-kota aglomerasi yang memiliki banyak CBD yang tersebar di wilayah urban nya. Jumlah CBD yang banyak ini terjadi karena kota-kota yang diserap kedalam megacity tersebut masih memiliki CBD nya masing-masing. Oleh karena itu, semakin banyak kota yang diasimilasi oleh megacity tersebut, akan semakin banyak pula CBD yang terdapat didalamnya.

Fenomena ini dapat kita observasi di negara-negara Asia, contohnya adalah DKI Jakarta dengan JABODETABEK, serta Tokyo dengan Greater Tokyo Metropolitan Area.

Inner City

Daerah inner city merupakan area sentral dari sebuah kota besar atau metropolis. Inner city cenderung memiliki kepadatan penduduk yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan area-area diluarnya (sub-urban, rural-urban, rural), kebanyakan orang-orang yang tinggal di daerah inner city ini menempati apartemen, rusun, atau townhouse-townhouse elit.

Di Amerika Serikat, istilah inner city umumnya digunakan untuk mendeskripsikan daerah-daerah di city centre yang memiliki tingkat kemakmuran lebih rendah dibandingkan dengan daerah lainnya, terkadang ia digunakan pula untuk mendeskripsikan pemukiman minoritas.

Sebagian besar daerah inner city di Amerika Serikat telah mengalami gentrifikasi, terutama sejak tahun 1990an. Fenomena ini kerap disamakan dengan urban donut.

Namun, stereotip tersebut tidak berlaku bagi negara-negara yang memiliki daerah kumuh di luar pusat kota, contohnya adalah kota-kota di Brazil yang memiliki daerah kumuh favelas yang berada di pinggir-pinggir kota dan kota-kota di Eropa yang umumnya memiliki pusat kota yang hidup dan makmur secara ekonomi.

Di Amerika Serikat sendiri, stereotip ini pun mulai pudar, kota-kota seperti New York dan San Francisco sudah mulai membangun pusat kota mereka agar menjadi lebih makmur dan layak ditinggali.

Pembangunan ini menyebabkan banyak orang yang berpindah kembali dari daerah suburban dan rural ke daerah inner city yang telah direvitalisasi, fenomena ini dikenal sebagai reurbanisation.

Inner Suburbs

Inner suburbs adalah istilah yang disematkan kepada komunitas-komunitas suburban yang berlokasi sangat dekat dengan pusat kota. Kepadatan penduduk mereka lebih rendah dari daerah inner city ataupun central business district, namun lebih tinggi dari outer suburbs ataupun zona exurban.

Di negara-negara persemakmuran Inggris seperti Australia dan New Zealand, inner suburbs merupakan bagian dari urban area yang dilabeli sebagai zone of transition, zona ini umumnya berada diluar pusat kota.

Daerah inner suburbs kota-kota besar umumnya merupakan zona perumahan yang paling tua dan paling padat penduduknya. Mereka juga memiliki pembangunan mixed-use yang sangat ekstensif.

Secara tradisional, daerah inner suburbs merupakan daerah perumahan para pekerja pabrikan dan kantor, namun karena sekarang banyak perusahaan yang berpindah ke luar kota atau daerah perifer lainnya, banyak daerah inner suburbs yang mengalami gentrifikasi.

Di Amerika Serikat, inner suburbs atau lebih dikenal sebagai first ring suburbs merupakan bagian wilayah metropolitan yang lebih tua dan memiliki populasi lebih tinggi. Inner suburbs ini terbangun ketika ada gelombang urban sprawl yang cukup besar setelah perang dunia 1 dan sebelum perang dunia 2, oleh karena itu, mereka lebih tua jika dibandingkan dengan daerah suburban atau exurban lainnya.

Outer Suburbs

Outer suburbs memiliki makna yang hampir sama dengan inner suburbs, mereka hanya dibedakan oleh letaknya terhadap pusat kota dan kepadatannya.

Umumnya, outer suburbs memiliki kepadatan yang lebih rendah dari daerah inner suburbs. Hal ini terjadi karena semakin keluar dari pusat kota, harga lahan semakin murah. Oleh karena itu, pengembang akan cenderung mengembangkan pemukiman bertipe townhouse/gated community, sehingga menurunkan rata-rata kepadatan penduduk.

Pelebaran zona suburban ini merupakan perwujudan dari urban sprawl perkotaan. Sebelum sebuah desa menjadi kota, dia akan berubah menjadi daerah suburban dahulu dengan proses land use change. Jika konversi suburban menjadi inner city tidak mampu mengimbangi laju suburbanisasi, maka akan terjadi urban sprawl.

Urban Fringe / Rural-Urban Fringe

Rural urban fringe merupakan daerah outskirts atau hinterland dari sebuah kota, ia merupakan zona peralihan dari daerah urban ke daerah rural. Rural urban fringe ini dibentuk dan dipengaruhi oleh interaksi-interaksi yang terjadi antara daerah urban dan rural.

Walaupun memiliki definisi dan contoh yang berbeda sesuai dengan negaranya, urban fringe umumnya dipenuhi oleh tipe penggunaan lahan yang secara sengaja keluar dari wilayah perkotaan, atau memerlukan luas tanah yang besar. Contohnya adalah:

  • Jalan raya, jalan tol, bypass
  • Tempat pembuangan akhir, fasilitas daur ulang dan memproses sampah
  • Bandara
  • Rumah sakit besar
  • Pembangkit listrik
  • Pengolahan limbah
  • Pabrik
  • Fasilitas perbelanjaan luar kota/mall besar/supermall

Walaupun terdapat banyak penggunaan lahan yang bersifat urban, areal rural-urban fringe relative tetap terbuka. Mayoritas lahan termasuk kedalam penggunaan agrikultur, hutan, atau penggunaan-penggunaan lahan berkarakteristik rural lainnya.

Green Belt

Green belt merupakan kebijakan dalam tata kota yang berguna untuk menjaga wilayah-wilayah yang belum terbangun agar tidak menjadi terbangun. Secara umum green belt merupakan batas tidak terlihat yang melingkupi suatu wilayah agar tidak dilakukan pembangunan di wilayah tersebut. Kebijakan ini akan memberikan ruang bagi flora dan fauna untuk tumbuh dan menempati lokasi tersebut secara alami.

Commuter Belt

Commuter belt meliputi wilayah-wilayah yang mana banyak orang berangkat untuk kerja di wilayah urban setiap harinya. Umumnya, commuter belt ini meliputi kota-kota satelit dari sebuah kota utama. Contohnya adalah London metropolitan area, Greater Tokyo metropolitan area, atau JABODETABEK.

Contoh terbaik dari wilayah commuter belt ini adalah London commuter belt, atau lebih dikenal sebagai London metropolitan area. Data populasi terbaru dari Eurostat menyatakan bahwa wilayah ini merupakan daerah aglomerasi urban terbesar yang ada di Uni Eropa, dengan populasi sejumlah 14,431,830 jiwa pada tahun 2016.

Wilayah London commuter belt tidaklah statis, ia tumbuh menjauhi pusat kota London seiring dengan majunya teknologi transportasi dan dibangunnya perumahan-perumahan baru. Area London commuter belt meliputi mayoritas wilayah South East England dan East of England, termasuk Hertfordshire, Buckinghamshire, Berkshire, Surrey, Kent, dan Essex.

Referensi

Waugh, David (2014). Geography an Integrated Approach, Fourth Edition. Oxford University Press.

 

 

Tinggalkan komentar