Politik Dumping: Pengertian, Tujuan, Jenis, dan Dampak

Diposting pada

Politik dumping adalah salah satu bentuk perdagangan dan perpindahan produk antar negara yang berbahaya bagi negara penerimanya. Kebijakan dagang ini sangat efektif dalam mendisrupsi perekonomian suatu negara, terutama yang belum berkembang.

Meskipun bersifat merusak dan disruptif, politik ini tidak dilarang secara hukum untuk diterapkan pada berbagai negara termasuk tanah air Indonesia.

Hanya saja tindakan ini harus diatur sedemikian rupa agar tidak menimbulkan kerugian kepada industri dalam negeri.

Selain itu, negara yang menggunakan Politik Dumping juga tak diperbolehkan untuk menghalangi perkembangan produk industri milik negara yang disasarnya

Pengertian Politik Dumping

Menurut Muhammad Ashri, Politik Dumping adalah suatu bentuk persaingan yang terjadi di dunia dagang dengan cara yang curang.

Hal ini dianggap curan karena adanya diskriminasi harga terhadap suatu produk. Artinya, produk yang ditawarkan di pasar negara lain ada di bawah harga jual normalnya.

Menurut P Yudha Pratama dan Rosita, politik dumping pada dasarnya adalah

Politik ekonomi yang dipakai oleh suatu negara tertentu guna menjual hasil produksinya di negara lain dengan membandrol harga murah daripada penjualan di negaranya sendiri. Tujuan penerapannya adalah untuk menguasai pasar di luar negeri.

Kamus Lengkap Perdagangan Internasional juga memberikan gagasan tentang Politik Dumping. Menurut KLPI, politik dumping adalah

Penjualan komodias tertentu pada pasar luar negeri dengan tingkat harga lebih rendah dibandingkan harga di pasar wilayahnya sendiri.

Menurut Kamus Hukum Ekonomi, Politik dumping dapat didefinisikan sebagai

Perdagangan dimana teradpat barang yang dijual dengan harga rendah oleh eksportir di pangsa pasar internasional. Dengan sisi lain harga produk serupa di negerinya sendiri atau pihak ketiga lebih mahal. Hal ini tentu saja memberikan dampak kerugian kepada pesaing yang dituju oleh praktik politik ini.

Sedangkan, menurut W.J.S Poerwardaminta, politik dumping adalah sebuah proses

penjualan barang ke negara lain dengan penawaran harga yang lebih murah daripada di negaranya sendiri. Adapun tujuannya adalah mematikan pesaing yang ada di negara target pasarnya.

Berdasarkan definisi-definisi diatas, kita dapat menarik kesimpulan bahwa Politik Dumping pada dasarnya adalah sebuah kebijakan perdagangan dimana barang-barang dijual secara murah di negara lain untuk menguasai pasar negara tersebut.

 

Tujuan Politik Dumping

Tujuan politik dumping

Secara umum, suatu negara menggunakan politik dumping terhadap negara lain untuk menguasai pasar negara tersebut dan menciptakan sebuah monopoli.

Berikut ini adalah beberapa tujuan-tujuan dilakukannya politik dumping oleh suatu negara

  • Membentuk pasar monopoli
  • Menghabiskan kelebihan barang
  • Mencapai target penjualan

Agar kalian lebih paham, kita akan bahas satu-persatu tujuan tersebut secara lebih detail dibawah ini

Membentuk Pasar Monopoli

Seperti yang sudah dijelaskan diatas, tujuan utama dari penerapan politik dumping adalah untuk membentuk suatu monopoli pasar pada negara lain, dimana produk yang menguasai pasarnya adalah produk yang di dumping kan ini.

Dengan adanya monopoli, maka keuntungan yang bisa dikeruk oleh suatu perusahaan menjadi sangat banyak.

Terlebih lagi ketika memang sudah tidak ada pesaing sehingga perusahaan ini bisa menaikkan harga secara bebas. Karena sudah tidak ada pesaing, tidak ada yang bisa menawarkan produk alternatif dengan harga yang lebih murah.

Oleh karena itu, tidak heran politik dumping umumnya dilakukan oleh negara maju atau negara yang ekonominya sudah besar terhadap negara-negara yang masih berkembang ekonominya.

 

Untuk Menghabiskan Kelebihan Barang

Selain monopoli, tujuan Politik Dumping yang paling umum adalah menghabiskan kelebihan barang produksi ataupun sisa-sisa barang yang belum terjual.

Dengan adanya metode ini produsen akan memiliki kemudahan akses untuk mengekspor barang ke luar negeri, sehingga hal ini akan sangat membantu menghabiskan stok dengan cepat.

Hal ini penting untuk dilakukan karena jika dihitung secara terperinci, maka pihak produsen sendiri juga membutuhkan biaya gudang yang tidak kecil untuk menempatkan barang-barang produksinya.

Semakin banyak barang produksi yang tidak terjual dan mengendap di gudang, maka semakin mahal pula biaya gudang yang harus dikeluarkan oleh perusahaan.

Oleh karenanya sebenarnya tidaklah salah jika produsen lebih memilih menggunakan cara ini untuk menjual barangnya.

Selain keuntungannya besar, perluasan target pasar juga menjadi iming-iming yang akan didapatkan oleh produsen itu sendiri. Perluasan target pasar ini nantinya bisa berujung pada monopoli.

 

Mencapai Target Penjualan

Mencapai target penjualan juga menjadi salah satu alasan sebuah produsen menggunakan Politik Dumping. Pasalnya jika tujuan ini bisa tercapai maka produsen bisa memaksimalkan pendapatan dan keuntungan.

Selain itu upaya ini juga diharapkan mampu menarik konsumen di negara lain untuk membeli produk yang ditawarkan.

Tentunya harga yang ditetapkan ini jauh lebih murah daripada harga di pasaran lainnya. Semakin murah harga suatu barang, maka semakin kuat daya tarik untuk membeli barang tersebut.

Namun dengan adanya segudang peluang produsen haruslah tetap berhati-hati agar tidak membahayakan pasar yang ada di dalam negeri. Sebab kualitasnya sama namun harganya berbeda.

Tidak jarang politik dumping menyebabkan industri dalam negri suatu negara menjadi mati karena tidak dapat berkompetisi dengan barang-barang luar negri.

 

Jenis-Jenis Politik Dumping

Jenis-jenis politik dumping

Terdapat berbagai macam politik dumping yang dilakukan oleh negara-negara maju terhadap negara berkembang. Beberapa jenis politik dumping yang kerap dilakukan antara lain adalah

  • Persistent Dumping
  • Predatory Dumping
  • Sporadic Dumping
  • Market Expansion Dumping
  • Cyclical Dumping
  • State Trading Dumping
  • Strategic Dumping

Masing-masing dari ketiga jenis politik dumping tersebut memiliki proses, tujuan, dan fungsinya masing-masing. Agar kalian lebih paham, kita akan membahas secara lebih rinci dibawah ini.

Persistent Dumping

Persistent Dumping mempunyai definisi sebagai penjualan dumping yang dijalankan secara terus menerus serta menetap pada suatu target. Dumping dengan jenis satu ini juga sering disebut sebagai diskriminasi harga internasional.

Dalam kebijakan dumping ini, suatu negara secara terus menerus menjual barang dengan harga yang murah kepada negara lain, namun menjual denga harga yang mahal di pasar domestiknya.

Dumping seperti ini mungkin untuk dilakukan karena ada perbedaan yang cukup besar antara biaya produksi negara yang mengimpor barang dengan negara yang mengekspor barang.

Perbedaan biaya produksi ini menyebabkan lebih ekonomis bagi negara tersebut untuk mengimpor barang dari negara yang sedang melakukan politik dumping ketimbang memproduksinya sendiri.

Umumnya, yang menjalankan dumping seperti ini adalah para produsen barang, baik perusahaan atau koalisi beberapa perusahaan yang memiliki keunggulan kompetitif dan keunggulan komparatif yang tinggi.

Selain itu, untuk menjalankan kebijakan ini, sebuah perusahaan harus mempunyai pasar monopolistik yang ada di dalam negara sendiri.

Artinya, meskipun produk-produk tersebut dijual secara lebih mahal di dalam negri, tidak ada kompetitor lain yang bisa menjual barang yang sama, sehingga pangsa pasarnya tetap aman.

Tentunya politik ini dijalankan untuk memaksimalkan hasil keuntungan dari menjual produk barang dengan harga jauh lebih tinggi daripada di pasar domestiknya.

 

Predatory Dumping

Predatory Dumping merupakan politik dumping yang tujuan utamanya adalah melumpuhkan pesaing sebuah perusahaan.

Setelah pesaing yang dinilai menjadi penghalang itu tumbang, maka pelaku dumping ini secara otomatis akan menaikkan harga barang sesuai dengan keinginannya.

Dengan demikian, perdagangan yang terjadi dapat dimonopoli dan tentunya cara ini bisa memberikan pembatasan antara pesaing yang masuk dan jangka waktu yang lama.

Dalam melaksanakan dumping seperti ini, kerugian jangka pendek pasti akan terjadi ketika menjual dengan harga sangat murah. Namun keuntungan besar akan didapatkan oleh perusahaan setelah semuanya berjalan lancar dan tidak ada kompetisi lagi.

Negara-negara yang sedang berkembang harus sangat mewaspadai politik dumping jenis ini karena dapat mematikan perekonomian dalam negri dan menyebabkan ketergantungan pada barang impor.

Jangan sampai industri dalam negri menjadi sasaran politik dumping yang bersifat predatori dan akhirnya harus bertekuk lutu.

 

Sporadic Dumping

Sesuai dengan namanya, Sporadic Dumping bisa diartikan sebagai Politik Dumping yang dilakukan secara sporadis.

Proses dumping ini umumnya terjadi dalam waktu yang singkat, tidak terus-menerus, dan hanya dilakukan pada kesempatan-kesempatan tertentu saja.

Hal ini terjadi karena proses sporadic dumping memiliki tujuan untuk menghindari penumpukan barang di pabrik karena over produksi ataupun penjualan yang lebih lesu dari perkiraan.

Seperti yang sudah kita jelaskan diatas, menyimpan produk dalam gudang membutuhkan biaya yang tidak murah. Oleh karena itu, produk yang tidak terjual lebih baik dijual dengan harga murah.

Meskipun untuk yang dirasakan perusahaan lebih sedikit, setidaknya perusahaan tidak harus menyewa lebih banyak ruang penyimpanan.

 

Market Expansion Dumping

Market expansion dumping bertujuan untuk memperluas pangsa pasar

Sejalan dengan namanya, market expansion dumping adalah politik dumping yang bertujuan untuk memperluas pangsa pasar dari suatu perusahaan.

Perluasan pangsa pasar ini dilakukan dengan cara menjual produk-produk dengan harga yang sangat murah, sehingga orang-orang membelinya.

Meskipun keuntungan yang didapatkan lebih rendah karena harga jualnya pun rendah, perusahaan tetap mengalami keuntungan karena yang membeli produknya menjadi semakin banyak.

Asumsi dari perusahaan adalah, produk tersebut memiliki elastisitas harga yang tinggi sehingga jika harganya diturunkan, yang membeli akan semakin banyak.

 

Cyclical Dumping

Cyclical dumping sangat mirip dengan sporadic dumping, yaitu dilakukan ketika terjadi kelebihan produksi ataupun penumpukan barang di pabrik dan gudang.

Umumnya, kelebihan produksi pada dumping siklis ini terjadi karena faktor-faktor yang memiliki siklus tertentu, seperti siklus hutang negara, siklus boom-bust ekonomi, dan sejenisnya.

Dalam siklus-siklus tersebut, akan ada saat dimana biaya produksi menjadi sangat murah sehingga terjadi overproduksi dan kelebihan barang.

 

State Trading Dumping

Dumping jenis ini hampir sama dengan dumping-dumping lainnya, namun yang membedakannya adalah aspek akuisisi yang sangat menonjol.

 

Strategic Dumping

Strategic dumping adalah politik dumping yang bertujuan untuk merugikan negara saingan yang mengimpor barang dari negara pelaku dumping.

Salah satu cara yang ditempuh adalah dengan memaksa negara pengimpor tersebut membuka batasan perdagangan agar produk-produk negara pelaku dumping dapat lebih mudah masuk.

Namun, negara pelaku dumping akan mempersulit negara targetnya untuk menjual barang di pasar domestik negara ini.

Hal ini bertujuan agar negara tersebut tidak bisa membalas menggunakan politik dumping pada komoditas yang berbeda dan sebagai pengamanan pada pasar domestik negara pelaku dumping.

 

Dampak Politik Dumping

Dampak politik dumping

Secara umum, politik dumping memiliki beberapa dampak, ada yang positif ada pula yang negatif. Sekarang, kita akan mengulas secara lebih mendalam dampak-dampak dari kebijakan perdagangan ini.

Dampak Positif Politik Dumping

Politik dumping merupakan salah satu strategi persaingan di dunia bisnis yang dinilai tidak sehat karena dapat merugikan negara targetnya. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa praktik Politik Dumping ini bisa sangat menguntungkan.

Keuntungan dari penerapan kebijakan ini adalah untuk memperluas serta meningkatkan pangsa pasar karena proses penjualan yang dilakukan oleh produsen mencapai kancah internasional.

Lebih menariknya lagi dumping akan menarik perhatian importir supaya ikut dalam transaksi perdagangan yang dilakukan eksportir.

Tak hanya itu saja, ada dampak positif lain yakni memenuhi kebutuhan komoditas sejumlah negara yang tidak bisa memenuhi kebutuhannya sendiri.

Terkadang, ada negara-negara yang tidak mampu memproduksi barang-barang tertentu, seperti elektronik berteknologi tinggi atau bahan kimia olahan.

Dumping disini dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan negara tersebut akan barang yang tidak dapat mereka produksi.

 

Dampak Negatif Politik Dumping

Dampak negatif paling utama dari politik dumping adalah mematikan industri dalam negri pada negara yang ditarget oleh kebijakan perdagangan ini.

Hal ini terjadi karena mereka tidak dapat bersaing dengan barang-barang luar negri yang diimpor dan dijual secara murah.

Padahal, kualitas dari barang tersebut bisa jadi tidak berbeda jauh dibandingkan dengan barang buatan dalam negri. Hal ini mungkin terjadi karena negara pengekspor memiliki keunggulan komparatif yang lebih tinggi.

Kematian produsen dalam negri ini berbahaya karena negara tersebut artinya akan kesulitan untuk melakukan transisi menjadi negara yang terindustrialisasi.

Ketika sebuah negara tidak bisa bergerak dari mengekspor bahan mentah menjadi pengolah bahan mentah, maka negara tersebut akan sulit bertransformasi menjadi negara maju.

 

Apakah Boleh Melakukan Politik Dumping?

Apakah boleh melakukan politik dumping?

Secara hukum penerapak kebijakan dagang dumping tidak dilarang oleh World Trade Organization (WTO). Hal ini terjadi karena lembaga tersebut menginginkan adanya perdagangan bebas antar negara.

Sangat sulit bagi negara-negara yang di dumping-kan untuk melawan kebijakan dagang ini. Karena, langkah-langkah menutup pasar akan dianggap sebagai proteksionisme dan dapat digugat oleh negara pelaku dumping ke WTO.

Namun, jika sebuah negara dapat menunjukkan bahwa politik dumping yang dilakukan oleh negara lain berdampak buruk pada perekonomian negaranya. Maka negara tersebut dapat memaksa negara yang melakukan dumping untuk berhenti.

Ketika hal ini terjadi, WTO pun akan mendukung negara yang merasa dirugikan tersebut. Karena, pada dasarnya perdagangan bebas harus menguntungkan kedua belah pihak.

Meskipun begitu, pada praktiknya, politik dumping ini masih sering dilakukan oleh negara-negara, terutama yang piawai dalam berpolitik luar negri serta memiliki ekonomi yang kuat.

 

Contoh Penerapan Politik Dumping

Agar kalian bisa lebih membayangkan bagaimana cara kerja politik dumping dalam perdagangan internasional pada kehidupan sehari-hari kita akan membahas beberapa contoh penggunaan kebijakan ini.

Dumping Produk Elektronik Jepang ke Pasar Dunia

Contoh penerapan politik dumping adalah ketika Jepang menjual elektronik dengan harga sangat murah

Jepang merupakan negara yang sangat terkenal akan produk-produk elektroniknya pada masa 1980an. Pada saat itu, produk elektronik Jepang dianggap paling hebat dan berkualitas di seluruh dunia.

Pada saat itu, merk-merk ternama seperti Fujitsu, Kyocera, Sony, Toshiba, Sharp, JVC, Casio, Panasonic, Hitachi, dan Seiko merajai pasar elektronik dunia.

Merk-merk ini memiliki kepercayaan konsumen yang sangat tinggi sehingga Jepang mampu menguasai seluruh pasar elektronik dan semikonduktor yang ada di dunia.

Jika ada yang tidak menggunakan produk jepang, maka akan dianggap tidak berkualitas atau mudah rusak.

Selain terkenal akan kualitasnya, produk elektronik Jepang pada saat itu juga sangat murah. Hal ini terjadi karena mereka memiliki kapasitas produksi yang sangat tinggi dan biaya produksi yang relatif rendah.

Meskipun begitu, Jepang tetap menjual produk elektronik mereka sesuai dengan harga wajar pada pasar dalam negri.

Kebijakan inilah yang menyebabkan Jepang dianggap melakukan dumping produk elektronik dan semi konduktor.

Saat itu, tidak ada negara yang bisa mengalahkan jepang dalam produksi barang elektronik, hingga akhirnya Korea Selatan dan China berhasil mengalahkan jepang di awal-awal tahun 2000an.

 

Kebijakan Common Agricultural Policy Uni Eropa dan Dumping Produk Agrikultur

Subsidi pertanian uni eropa adalah contoh politik dumping

Uni Eropa memiliki kebijakan pertanian yang cukup unik, yaitu common agricultural policy atau disingkat CAP. Kebijakan ini merupakan subsidi besar-besaran kepada industri pertanian di negara-negara Uni Eropa.

Kebijakan ini memberikan batasan-batasan harga untuk pasar domestik Uni Eropa agar harga menadi lebih stabil dan petani tidak dirugikan.

Selain itu, kebijakan ini juga menjamin subsidi dan skema reimbursement agar petani Uni Eropa mampu menjual produk-produk pertaniannya secara murah di pasar global.

Kebijakan ini dianggap mendekati dukungan negara dalam melakukan politik dumping karena subsidi dan garansi harga ini membuat produk agrikultur Uni Eropa menjadi sangat murah di pasar dunia namun relatif mahal di pasar domestiknya.

CAP ini dianggap merugikan banyak petani yang berada di luar Uni Eropa karena mereka tidak bisa menghasilkan produk pertanian dengan harga yang lebih murah dari petani Uni Eropa.

Pada akhirnya, petani-petani kecil dari negara berkembang terpaksa gulung tikar karena dikalahkan oleh petani negara maju.

 

Referensi

National Research Council. 1997. International Friction and Cooperation in High-Technology Development and Trade: Papers and Proceedings. Washington, DC: The National Academies Press. https://doi.org/10.17226/5902.

Van Den Boosche, Peter (2017). The Law and Policy of the World Trade Organization. Cambridge: Cambridge University Press

Iqbal Hakim

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *