Dalam ilmu kependudukan, perlu diingat bahwa kondisi masyarakat selalu bersifat dinamis. Jumlah populasi, distribusi populasi, struktur populasi, dan pergerakannya selalu berubah seiring dengan waktu dalam skala yang berbeda-beda.

 

Definisi

Persebaran penduduk menjelaskan mengenai persebaran manusia pada permukaan bumi. Persebaran ini tidak bersifat rata dan sering mengalami perubahan drastis seiring dengan waktu.

Kepadatan penduduk menjelaskan mengenai jumlah manusia yang tinggal dalam wilayah dengan ukuran tertentu, biasanya 1 km2. Kepadatan penduduk didapatkan dengan membagi jumlah populasi total dari suatu daerah dengan luas daerah tersebut.

Secara umum, dapat dikatakan bahwa persebaran penduduk memberi tahu kita mengenai tempat tinggal manusia sedangkan kepadatan memberi tahu kita mengenai seberapa banyak orang yang tinggal dalam wilayah tersebut. Kedua informasi ini sangat penting dalam menentukan langkah perencanaan dan kebijakan karena subyek setiap perencanaan adalah manusia.

 

Cara Menggambarkan

Agar lebih mudah memahami mengenai persebaran dan kepadatan penduduk, dibutuhkan metode untuk menggambarkannya. Salah satu cara yang paling mudah adalah dengan menggunakan peta. Selain memberikan informasi aspasial yang terhubung dengan data, peta juga memberikan informasi spasial mengenai lokasi dari persebaran dan kepadatan penduduk tersebut.

Peta Persebaran Penduduk
Ilustrasi Peta Persebaran Penduduk

Persebaran penduduk umumnya digambarkan dengan menggunakan peta titik, yang mana satu titik merepresentasikan jumlah manusia tertentu. Dapat dilihat pada gambar diatas bahwa satu titik merepresentasaikan 100.000 orang. Titik yang lebih banyak menunjukkan bahwa daerah tersebut memiliki jumlah penduduk yang lebih tinggi.

Peta kepadatan penduduk
Ilustrasi Peta Kepadatan Penduduk

Kepadatan penduduk umumnya digambarkan dengan menggunakan peta chloropleth. Ketika sudah didapatkan kepadatan penduduk, kelas-kelas kepadatan tertentu diberikan warna yang berbeda, sehingga mudah dibedakan. Dapat dilihat pada gambar diatas bahwa semakin gelap warna pada peta, semakin banyak orang yang tinggal di negara tersebut per satu kilometer persegi.

Namun, peta chloropleth ini memiliki kelemahan dalam menyajikan informasi mengenai populasi. Dapat dilihat pada peta persebaran penduduk bahwa mayoritas warga Amerika Serikat dan Kanada tinggal di pinggir pantai timur atau barat, namun informasi ini hilang pada peta kepadatan penduduk chloropleth.

Selain itu terdapat pula kelemahan berupa distorsi informasi yang terjadi pada peta. Penggunaan warna yang kurang tepat dapat membuat perbedaan yang sebenarnya kecil terlihat besar di peta, atau sebaliknya, yang besar terlihat kecil. Oleh karena itu, dalam membuat peta chloropleth harus sangat hati-hati dalam memilih warna dan dalam menggunakannya, seorang ahli harus pula menggunakan peta titik persebaran penduduk sebagai acuan pembantu.

 

Faktor Yang Mempengaruhi

Dari peta-peta yang sudah disajikan diatas, kita dapat melihat bahwa terdapat wilayah-wilayah tertentu yang memiliki penduduk banyak dan wilayah-wilayah yang memiliki penduduk sangat sedikit. Mengapa hal ini dapat terjadi?

Ternyata, terdapat faktor-faktor kontrol yang mempengaruhi apakah wilayah tersebut akan menjadi daerah padat penduduk atau tidak. Faktor-faktor tersebut antara lain adalah

Fisik

Daerah dengan bentang alam yang mudah dibangun cenderung memiliki jumlah penduduk yang lebih banyak dibanding dengan daerah yang sukar dibangun.

Contoh daerah yang mudah dibangun adalah daerah dataran rendah, padang rumput, dan pinggir sungai. Contoh daerah yang sukar dibangun adalah dataran tinggi, pegunungan dengan lereng terjal, kawasan vulkanik aktif, dan dataran shield yang ter-erosi.

 

Iklim

Daerah dengan kondisi iklim ideal akan memiliki kepadatan penduduk yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan daerah dengan kondisi iklim ekstrim. Parameter iklim ideal antara lain adalah

  1. Curah hujan rata sepanjang tahun atau mengikuti pola yang mudah ditebak
  2. Tidak terdapat temperatur ekstrim
  3. Dengan sinar matahari (Costa De Sol, Bali, French Riviera) atau salju (Alps) yang cukup untuk menarik turis, namun tidak terlalu ekstrim seperti Gurun Sahara atau Pegunungan Himalaya.
  4. Memiliki musim tanam yang lama, sehingga dapat menunjang pertanian intensif

Iklim yang ideal dapat menunjang aktivitas agrikultur dengan baik sehingga banyak orang yang dapat tinggal di tempat tersebut. Selain itu, iklim yang ideal dapat membuat masyarakat nyaman tinggal, sehingga banyak yang ingin tinggal di tempat tersebut.

 

Tanah

Daerah dengan kualitas tanah yang tinggi dapat menampung lebih banyak penduduk dibanding daerah dengan tanah marginal. Kondisi tanah ideal antara lain adalah

  1. Tanah dengan kedalaman cukup untuk akar tumbuhan besar
  2. Tanah yang memiliki banyak material organik (humus)
  3. Tanah yang ada setiap saat, tidak membeku saat musim dingin dan tergenang saat musim hujan
  4. Tanah tidak terdegradasi dengan salinisasi, desertifikasi, atau leaching.

Kondisi tanah yang baik dapat menunjang aktivitas agrikultur yang intensif sehingga memungkinkan adanya banyak penduduk.

Kondisi tanah umumnya dipengaruhi oleh komposisi batuan dasar, proses pelapukan, laju erosi, serta iklim yang ada.

 

Vegetasi

Daerah dengan vegetasi lebat cenderung sulit untuk menunjang penduduk yang banyak. Selain karena sukar untuk membangun bangunan dan infrastruktur pada daerah dengan vegetasi lebat, biaya yang harus dikeluarkan untuk membersihkan area dari tumbuhan juga besar sehingga merugikan pengembang.

Contoh daerah dengan vegetasi lebat adalah hutan hujan dan hutan konifer, sedangkan daerah dengan vegetasi sedikit adalah padang rumput.

 

Suplai Air

Daerah dengan suplai air yang mumpuni dan terjaga akan mampu menunjang lebih banyak penduduk dibandingkan dengan daerah yang tidak memiliki sumber air. Semua manusia memerlukan air untuk bertahan hidup, tanpa adanya air, manusia akan mengalami dehidrasi.

Daerah yang tidak memiliki sumber air alami harus membangun infrastruktur khusus untuk memindahkan air seperti pipa, aqueduct, dan irigasi, infrastruktur tersebut tidak murah. Oleh karena itu, kota-kota besar umumnya dibuat pada daerah yang memiliki suplai air alami.

Suplai air tidak selalu berasal dari sungai ataupun air tanah. Curah hujan yang tinggi juga dapat meningkatkan suplai air lokal baik secara natural melewati proses groundwater recharge ataupun secara rekayasa dengan cara menampung air di bak dan kontainer.

 

Kebencanaan dan Penyakit

Daerah yang tidak berada dalam kawasan rawan bencana atau epidemi penyakit cenderung memiliki kepadatan penduduk yang tinggi. Keberadaan epidemi dan bencana dapat membuat penduduk takut untuk tinggal disitu sehingga meninggalkan lokasi, atau bahkan langsung membunuh penduduk yang tinggal pada daerah tersebut.

Kota yang memiliki cukup uang untuk membangun fasilitas mitigasi bencana seperti bunker, early warning, dan bangunan tahan bencana dapat bertahan dalam wilayah rawan bencana. Namun, tidak semua kota memiliki sumber daya yang cukup untuk membangun fasilitas-fasilitas seperti ini, sehingga kota-kota tersebut terjegal saat awal pertumbuhannya. Oleh karena itu, kota-kota besar jarang terdapat pada wilayah rawan bencana.

Sama seperti kebencanaan, kota yang memiliki cukup uang untuk membangun fasilitas kesehatan juga dapat bertahan dalam wilayah berpenyakit. Namun, tidak semua kota memiliki sumberdaya yang cukup. Sehingga, akhirnya kota-kota yang ada pada wilayah berpenyakit terjegal pada masa awal pertumbuhannya.

Karena kota-kota diatas terlalu berfokus untuk menyelesaikan masalahnya, entah kebencanaan atau penyakit, tidak cukup uang yang diinvestasikan untuk pengembangan ekonomi dan infrastruktur umum. Oleh karena itu, kota-kota tersebut sukar maju.

 

Sumber Daya Alam

Daerah dengan sumber daya alam yang melimpah akan cenderung memiliki konsentrasi penduduk yang lebih tinggi dibandingkan dengan daerah yang miskin sumber daya. Hal ini terjadi karena SDA menarik investasi dan pekerja dari luar, sehingga terjadi aglomerasi ekonomi. Seperti yang kita ketahui, manusia cenderung bergerak ke arah daerah yang memiliki aktivitas ekonomi tinggi. Oleh karena itu, daerah-daerah kaya SDA memiliki penduduk yang lebih banyak.

Contoh daerah yang kaya akan SDA adalah lembah Ruhr di Jerman yang kaya akan batubara dan Tembagapura di Papua yang menjadi markas Freeport.

 

Komunikasi

Daerah yang mudah untuk dibangun fasilitas komunikasi dan transportasi akan cenderung memiliki konsentrasi penduduk yang lebih tinggi dibandingkan daerah terpencil. Aksesibilitas yang rendah akan mempersulit jalur suplai dan pergerakan orang menuju dan keluar dari daerah tersebut. Seperti yang sudah kita pelajari pada teorema Hotelling dan bid-rent, aksesibilitas merupakan aspek penting dalam menentukan lokasi aktivitas ekonomi.

Daerah dengan jalur komunikasi yang sulit contohnya adalah Bolivia dengan pegunungannya yang terjal, Sahara dengan gurunnya yang sangat luas, dan Amazon dengan hutan hujannya yang lebat. Daerah dengan jalur komunikasi mudah contohnya adalah Great Plains Amerika dan North European Plains di Eropa yang datar sehingga mudah dibangun jalur transportasi seperti rel dan jalan raya. Selain jalur darat, jalur laut juga sangat berpengaruh terhadap aksesibilitas. Contohnya adalah Port Said di Suez, Singapura, Panama, Valpraiso di Chile, dan Rotterdam di Belanda.

 

Ekonomi

Faktor ekonomi memiliki pengaruh yang sangat tinggi kepada kepadatan penduduk. Ekonomi subsisten cenderung memerlukan wilayah yang luas untuk memenuhi kebutuhan masyarakatnya, sementara ekonomi komersial intensif hanya memerlukan sedikit tempat. Meskipun begitu, ekonomi subsisten di asia-tenggara dapat mengakomodasi kepadatan penduduk yang tinggi karena tanahnya yang subur dan sistemnya yang intensif.

Sektor ekonomi juga cukup berpengaruh pada kepadatan penduduk suatu daerah. Kota yang dipenuhi oleh gedung perkantoran akan memiliki kepadatan penduduk yang lebih tinggi dibandingkan dengan pabrik. Sedangkan kota yang dipenuhi oleh pabrik akan memiliki kepadatan penduduk yang lebih tinggi dibandingkan dengan kota pertanian.

Selain kedua faktor diatas, ketersediaan lapangan pekerjaan juga menjadi faktor penentu jumlah penduduk. Semakin banyak lapangan pekerjaan yang tersedia pada suatu wilayah, semakin banyak insentif bagi orang untuk pindah ke daerah tersebut.

 

Politis

Faktor politik  juga dapat mempengaruhi kepadatan dan penyebaran penduduk pada suatu daerah. Kebijakan seperti transmigrasi dapat mengubah pola persebaran penduduk pada suatu wilayah secara tiba-tiba. Dengan satu kebijakan, suatu daerah dapat tiba-tiba berubah menjadi padat penduduk dan daerah lainnya tiba-tiba kosong penduduk.

Selain transmigrasi, kebijakan investasi juga dapat mempengaruhi persebaran penduduk. Ketika pemerintah melakukan investasi besar pada suatu wilayah atau bahkan hingga menciptakan kawasan ekonomi khusus pada daerah tersebut, aktivitas ekonomi akan meningkat. Seperti yang sudah dijelaskan diatas, aktivitas ekonomi yang tinggi akan menarik orang-orang untuk pindah ke daerah tersebut. Sehingga kepadatan penduduknya meningkat dan persebaran penduduk terkonsentrasi di kota tersebut.

 

Referensi

Waugh, David (2014). Geography an Integrated Approach, Fourth Edition. Oxford University Press


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *