Pergerakan Tanah

Pergerakan tanah atau lebih akuratnya disebut pergerakan massa (mass wasting) adalah fenomena dimana tanah, batu, pasir, dan regolith lainnya bergerak ke bawah lereng secara massal.

Ketika gaya gravitasi yang dialami oleh massa pada lereng melebihi kekuatan resistensi dari massa tersebut, terjadilah mass wasting. Semakin besar kekuatan material massa dan gaya gesek internal antar partikel maka semakin stabil pula lereng tersebut. Sudut paling tajam yang mana suatu lereng tertentu akan tetap stabil disebut sebagai angle of repose.

Kecepatan terjadinya mass wasting sangat bervariasi, ada yang cepat ada pula yang sangat lambat. Gerakan-gerakan seperti creep akan terjadi dengan sangat lambat sedangkan gerakan slides dan falls akan terjadi dengan sangat cepat.

 

Efek Air

Air memiliki peran yang sangat penting dalam mempengaruhi gerakan tanah. Air dapat meningkatkan dan mengurangi kekuatan resistensi lereng terhadap gerakan massa.

Air dalam jumlah sedikit dapat meningkatkan kekuatan kohesi dari tanah karena efek dari tegangan permukaan air. Hal ini menyebabkan tanah lembab/agak basah lebih kuat jika dibandingkan dengan tanah yang kering.

Namun, air dalam jumlah yang terlalu banyak dapat menurunkan kekuatan kohesi tanah. Air yang terlalu banyak meningkatkan tekanan pori (pore pressure) dari massa tanah sehingga mengurangi gaya gesek antar partikel tanah.

Kalau masih bingung, coba bayangkan kita sedang di pantai dan ingin membuat istana pasir. Pasir yang akan kita jadikan bahan untuk istana biasanya dicampur terlebih dahulu dengan air agar lebih kuat. Jika pasirnya kering maka antar partikel tidak akan menempel dan istana kita akan runtuh, namun jika airnya terlalu banyak, antar partikel pasir akan jadi licin sehingga istana kita juga akan runtuh.

Selain itu, semakin banyak air yang ada pada massa di lereng maka semakin berat pula massa tersebut. Massa yang berat umumnya lebih tidak stabil dibandingkan massa yang ringan, terutama jika berada di lereng yang terjal.

 

Jenis

Terdapat dua jenis utama pergerakan massa, yaitu creep dan slides. Jenis pergerakan massa yang terjadi sangat dipengaruhi oleh jenis massa yang ada di lereng, kemiringan lereng, tumbuhan penutup, dan kadar air yang ada pada massa tersebut.

Creep

Soil Creep
Ilustrasi Soil Creep

Pergerakan massa creep terjadi secara perlahan dan dalam jangka waktu yang relatif lama. Pergerakan ini meliputi gerakan ke menuruni lereng dari batuan, tanah, pasir, dan obyek lainnya karena gravitasi secara perlahan-lahan dengan skala waktu yang panjang.

Creep merupakan salah satu alasan mengapa pohon dan semak-semak membengkok perlahan-lahan. Mereka harus tetap mendapatkan matahari namun akarnya selalu bergerak seiring dengan pergerakan tanah, oleh karena itu, batangnya terlihat membengkok ke arah matahari atau biasanya ke arah atas lereng

 

Landslide / longsor

Longsor
Ilustrasi Longsor pada Tebing Berbatu

Longsor atau dalam bahasa inggris disebut landslide adalah fenomena pergerakan massa secara massal turun dari lereng. Longsor dapat terjadi dengan kecepatan yang tinggi ataupun rendah, namun, terlepas dari tinggi-rendahnya kecepatan, jangka waktu longsor pasti lebih singkat dibandingkan dengan creep.

Terdapat tiga jenis longsor yaitu slide, flow, dan fall. Ketiga jenis ini sangat dipengaruhi oleh bentuk bidang gelincir, kadar air, dan kecepatan gerakan massa.

Selain ketiga jenis diatas, terdapat pula avalanche yang umumnya dikorelasikan dengan runtuhan salju pada pegunungan-pegunungan bersalju.

 

Pemicu

Dalam dunia nyata, terdapat banyak sekali pemicu pergerakan massa, berikut ini adalah beberapa pemicu yang ditenggarai menjadi penyebab utama terjadinya mass wasting.

  • Gempa bumi
  • Getaran akibat aktivitas vulkanik serta letusan gunung api
  • Beban di lereng yang meningkat
  • Peningkatan kadar air pada massa lereng
  • Kurangnya akar tumbuhan yang mengkonsolidasi tanah dan material di lereng
  • Undercutting lereng karena ekskavasi, erosi, atau konstruksi
  • Pelapukan material penyusun lereng
  • Bioturbasi

Gempa bumi dapat meningkatkan getaran yang terjadi pada lereng sehingga menyebabkan solifluction atau liquefaksi. Hal ini akan menurunkan resistensi material sehingga meningkatkan kemungkinan terjadinya pergerakan massa.

Pertumbuhan penduduk yang tidak terkontrol juga dapat menyebabkan terjadinya pergerakan massa. Konstruksi dan alih fungsi lahan dapat mengurangi kestabilan lereng sehingga menyebabkan longsor atau amblesan tanah.

Fenomena ini umumnya terjadi pada daerah boomtown yang sedang menjadi primadona migrasi, kawasan pusat industri, atau pusat pertumbuhan yang sedang dibangun oleh pemerintah.

 

Mitigasi

Untuk mencegah terjadinya pergerakan tanah, perlu dilakukan langkah-langkah mitigasi terhadap wilayah sekitar yang dikhawatirkan akan terdampak. Langkah-langkah mitigasi tersebut antara lain adalah

  • Afforestasi
  • Reboisasi
  • Konstruksi sistem teras/guludan
  • Stabilisasi lereng

Afforestasi dan reboisasi dapat mencegah terjadinya pergerakan tanah dengan cara meningkatkan jumlah pohon yang ada pada permukaan tanah. Akar-akar dari pohon ini akan membantu mengikat tanah sehingga lebih resisten terhadap gaya-gaya eksternal.

Teras di Lereng Machu Picchu
Sistem Teras di Lereng Machu Picchu

Konstruksi teras atau guludan dapat mencegah terjadinya pergerakan tanah dengan cara mengurangi laju runoff air sehingga turut mengurangi laju erosi. Selain itu, konstruksi teras juga sering dilakukan secara bersamaan dengan stabilisasi lereng.

Upaya stabilisasi lereng umumnya dilakukan dengan cara mengurangi kemiringan lereng dan memasang pasak besi atau kayu untuk meningkatkan gaya gesek antar partikel tanah.

Namun, terdapat pula metode stabilisasi lereng secara alami seperti penanaman tumbuhan dan pelarangan pembangunan di dekat lereng. Umumnya, metode stabilisasi alami lebih murah dan sustainable dibandingkan dengan stabilisasi buatan.


Tinggalkan komentar