Migrasi adalah perpindahan penduduk dari suatu tempat ke tempat lainnya dalam jangka waktu tertentu. Migrasi dapat bersifat permanen atau sementara.

Migrasi umumnya dilakukan untuk mendapatkan kualitas hidup yang lebih baik, entah itu dari segi ekonomi, sosial, maupun religius.

Migrasi merupakan salah satu faktor utama yang mempengaruhi kepadatan dan persebaran penduduk. Wilayah yang lebih menarik untuk para migran akan memiliki kepadatan penduduk yang lebih tinggi dibandingkan dengan wilayah yang tidak menarik.

Migrasi juga merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi pertumbuhan penduduk. Migrasi yang tinggi akan menyebabkan pertumbuhan penduduk yang tinggi pula sedangkan angka emigrasi yang tinggi justru akan menyebabkan pertumbuhan penduduk negatif.

Ruang Lingkup Migrasi

Terdapat dua ruang lingkup migrasi secara umum, yaitu internal dan eksternal. Ruang lingkup internal migrasi merujuk kepada perpindahan dalam negara sendiri antar wilayah sedangkan eksternal meliputi perpindahan antar negara. Namun, Jay Weinstein dan Vijayan Pillai pada tahun 2011 mengklasifikasi lingkup ketiga dari migrasi, yaitu migrasi terpaksa.

Internal

Migrasi internal bersifat antar wilayah namun tetap berada di dalam negara yang sama. Pergerakan ini umumnya disebabkan oleh perbedaan nilai faktor pendorong dan penarik antar wilayah.

Pada kasus migrasi internal, umumnya perpindahan terjadi dari wilayah yang kurang berkembang secara ekonomi ke wilayah yang berkembang secara ekonomi. Salah satu contohnya adalah perpindahan penduduk ke kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya dari desa-desa disekitarnya.

Berikut ini adalah beberapa contoh kasus migrasi internal yang dapat kita amati pada kegiatan sehari-hari

  1. Perpindahan rural-urban. Perpindahan ini kerap disamakan dengan urbanisasi dan merupakan salah satu faktor pendorong pertumbuhan populasi kota yang tinggi serta lambatnya kemajuan di desa-desa.
  2. Perpindahan regional terjadi antar provinsi, kabupaten, atau antar pulau. Perpindahan ini umumnya disebabkan karena faktor ekonomi, sosial, atau keluarga.
  3. Perpindahan intra-urban/dalam kota. Perpindahan ini terjadi ketika kita tetap berada dalam kota yang sama namun berubah posisinya. Contohnya adalah ketika kita melakukan commuting atau berpindah rumah.
  4. Perpindahan dari kota konurbasi atau kota besar. Perpindahan ini umumnya terjadi pada pensiunan atau pekerja yang lelah dengan kehidupan perkotaan yang sangat dinamis dan penuh stress. Perpindahan ini juga dikenal sebagai urban-rural.
  5. Perpindahan karena faktor politis/kebijakan. Perpindahan ini umumnya disebabkan oleh kebijakan yang memaksa, menarik, atau mendorong seseorang untuk pindah. Kebijakan tersebut dapat berupa transmigrasi, pemberian upah jika ingin bermigrasi, atau paksaan relokasi kepada masyarakat tertentu.
 

Eksternal

Migrasi eksternal meliputi perpindahan antar negara. Pergerakan ini, sama seperti migrasi internal, disebabkan oleh perbedaan faktor pendorong dan penarik antar negara.

Pada kasus migrasi eksternal, secara politis, proses migrasi lebih dipengaruhi oleh kebijakan negara tujuan dibandingkan dengan negara asal. Dokumen-dokumen yang harus dibawa dan persyaratan lainnya menjadi kendala bagi terjadinya migrasi eksternal.

Migrasi eksternal umumnya terjadi antara negara yang maju dengan negara yang berkembang. Banyak pekerja atau dari negara berkembang memilih untuk tinggal di negara maju sembari berkerja atau melanjutkan studi, namun banyak juga pekerja dari negara maju yang ditempatkan di negara berkembang dan merasa nyaman, sehingga melanjutkan untuk tinggal disitu.

Berikut ini adalah beberapa contoh migrasi eksternal yang dapat kita amati pada kehidupan sehari-hari

  1. Pengungsi dapat dianggap sebagai migrasi terpaksa yang bermigrasi secara eksternal ketika dia berpindah negara untuk mendapatkan suaka. Contoh paling nyata dari pengungsi ini adalah para pengungsi Rohingya, Suriah, serta minoritas-minoritas Afrika yang terpapar perang sipil dan konflik kekuasaan.
  2. Pekerja ekspatriat dapat dianggap sebagai migrasi eksternal karena dia berpindah negara untuk berkerja. Contohnya adalah insinyur perminyakan dari Amerika yang berkerja untuk Shell dan ditempatkan di Kuwait.
  3. Pelajar yang menempuh pendidikan tinggi di luar negri dapat dianggap sebagai migran eksternal. Contohnya adalah pelajar Indonesia yang sedang berkuliah di Inggris
  4. Pensiunan dapat dianggap sebagai migran eksternal ketika dia pensiun di negara lain selain negara asalnya. Contohnya adalah pensiunan asal Amerika yang pensiun di Swiss karena menyukai alamnya.
 

Terpaksa

Migrasi terpaksa tidak terkait lingkup spasial seperti internal dan eksternal namun lebih dipengaruhi lingkup kemauan. Seorang migran dapat dibilang terpaksa ketika dia dipaksa baik secara langsung ataupun tidak langsung untuk berpindah dari tempat tinggalnya.

Contoh nyata dari migrasi terpaksa adalah pengungsi yang pergi dari daerah peperangan di Suriah dan Afrika. Selain itu, pengungsi yang pergi dari wilayah bencana seperti Lombok dan Palu juga dapat dianggap sebagai migran terpaksa. Karena, pada dasarnya, mereka tidak mau meninggalkan tempat tinggalnya, hanya saja karena terjadi perang atau bencana, mereka terpaksa mencari tempat yang lebih aman.

 

Durasi Migrasi

Migrasi memiliki durasi yang berbeda-beda. Meskipun menurut BPS, seseorang harus tinggal di suatu tempat dalam rentang waktu tertentu untuk dianggap sebagai migrasi, ada pula yang berpendapat bahwa setiap kegiatan berpergian melewati batas wilayah adalah migrasi.

Oleh karena itu, secara umum terdapat 4 kategori migrasi jika dilihat dari jangka waktu menetapnya. Keempat kategori tersebut adalah

Permanen

Migrasi dianggap permanen ketika para migran bermigrasi untuk selamanya, atau berniat untuk menetap pada wilayah tersebut selamanya.

Berikut ini adalah beberapa contoh dari migrasi permanen

  • Transmigrasi
  • North-South shift di Inggris
  • Urbanisasi ke kota-kota besar
  • Perdagangan budak
  • Perpindahan dari negara koloni ke negara inang
  • Migrasi antar negara
 

Semi Permanen

Migrasi dianggap semipermanen ketika para migran hanya berniat untuk menetap selama beberapa tahun pada wilayah tujuannya.

Migrasi ini umumnya terjadi pada pelajar yang belajar di daerah/negara lain, pekerja dengan penempatan luar kota/negri, serta diplomat dan korps diplomatiknya.

Contoh dari migrasi semipermanen antara lain adalah

  • Korps diplomatik
  • Pekerja ekspatriat
  • Mahasiswa & Pelajar
 

Musiman

Migrasi dapat dikategorikan sebagai musiman ketika para migran hanya menetap selama beberapa minggu atau bulan pada tempat tujuannya.

Migrasi seperti ini umumnya terjadi pada saat musim panen dimana para petani dan tuan tanah membutuhkan tenaga tambahan untuk memanen tumbuhan selama durasi musim panen.

Oleh karena itu, para petani membuka lapangan kerja bagi para buruh tani yang ingin membantu panen. Penambahan lapangan pekerjaan ini menciptakan faktor penarik migrasi. Setelah musim panen, pekerja tambahan tersebut akan digaji dan mereka pun kembali ke tempat asalnya.

Contoh lain migrasi musiman adalah mahasiswa yang menempuh pendidikan tinggi di universitas luar kota dengan jarak yang cukup jauh. Misalnya mahasiswa tersebut berasal dari Papua dan berkuliah di Bandung.

Karena faktor jarak dan harga transportasi yang tinggi, mahasiswa tersebut hanya dapat pulang pada saat libur semester, sehingga dalam setahun, dia akan menetap selama 2 semester di Bandung.

 

Komuter/Ulang-alik

Migrasi dan komuter secara fundamental memiliki perbedaan dalam jangka waktu dan tujuan berpindahnya. Migrasi untuk menetap atau semi menetap sedangkan komuter untuk datang/singgah saja.

Namun, pada kasus ini, akan disimplifikasi sehingga komuter dan migrasi dianggap sama, yaitu perpindahan tempat, hanya saja durasi waktu dan tujuannya berbeda.

Komuter umumnya terjadi pada pekerja dan mahasiswa yang memiliki tempat tinggal pada wilayah yang berbeda dengan tempat kerja/kuliah nya. Contohnya adalah pekerja yang tinggal di Tangerang dan berkerja di DKI Jakarta atau mahasiswa yang tinggal di Cimahi dan berkuliah di Bandung.

 

Penyebab Migrasi

Ada banyak teori yang menjelaskan mengenai alasan orang-orang melakukan migrasi. Teori yang sering digunakan ketika membahas penyebab migrasi adalah teori push and pull factors.

Teori ini dikemukakan oleh Everett S.Lee untuk menjelaskan mengapa orang-orang berpindah tempat tinggal. Teori ini berfokus pada dua aspek yaitu faktor pendorong dan faktor penarik migrasi.

Faktor Pendorong

Faktor pendorong adalah faktor-faktor yang menyebabkan seseorang ingin meninggalkan suatu tempat. Faktor pendorong membuat orang tersebut tidak nyaman untuk tinggal di daerah asalnya, sehingga dia mencari tempat tinggal baru.

Berikut ini adalah beberapa contoh faktor pendorong migrasi

  • Kurangnya infrastruktur di daerah asal
  • Rendahnya ketersediaan fasilitas pendidikan di daerah asal
  • Kurangnya kesempatan kerja/aktivitas ekonomi di daerah asal
  • Masalah dengan tetangga atau lingkungan sekitar
  • Konflik atau bencana pada daerah asal
  • Dipaksa pindah oleh kebijakan pemerintah atau oleh lingkungan
 

Faktor Penarik

Faktor penarik adalah faktor yang menyebabkan seorang ingin pindah ke suatu tempat. Faktor penarik membuat tempat tersebut terlihat sangat hebat dan menarik untuk ditinggali sehingga orang-orang mau untuk berpindah.

Berikut ini adalah beberapa contoh faktor penarik migrasi

  • Infrastruktur yang lengkap dan tersedia dengan baik
  • Banyak tersedia lapangan pekerjaan
  • Aksesibilitas terhadap perguruan tinggi yang memadai
  • Kebijakan migrasi yang mudah
  • Keberadaan keluarga atau kerabat yang dekat pada lokasi tujuan
  • Pertumbuhan ekonomi tinggi
 

Model Migrasi

Ketika kita sudah mengetahui alasan orang-orang melakukan migrasi, kita perlu memodelkan migrasi tersebut dan mengetahui hukum yang berlaku dalam bermigrasi. Salah satu acuan dasar teori migrasi yang sering digunakan adalah prinsip milik Ravenstein.

Prinsip Migrasi Ravenstein

Ravenstein mengamati bahwa perilaku migrasi orang-orang mengikuti pola tertentu. Pola-pola tersebut dituangkan dan disarikan menjadi prinsip migrasi.

Berikut ini adalah prinsip migrasi yang disebutkan oleh Ravenstein

  1. Migran lebih suka berpindah ke tempat yang dekat. Semakin jauh jarak tempat tujuan, semakin sedikit jumlah migran yang akan berpindah kesana
  2. Migrasi terjadi dalam gelombang dan sedikit-sedikit, tidak langsung banyak. Selain itu, terdapaat pula arus lawan (urbanisasi dan counter-urbanisasi).
  3. Emigrasi adalah kebalikan dari imigrasi
  4. Migrasi adalah perpindahan masuk atau keluar dari suatu wilayah, net migrasi adalah nilai selisih antara yang keluar dengan yang masuk
  5. Migran yang bermigrasi melewati jarak jauh cenderung berakhir di kota industri atau pusat ekonomi
  6. Perempuan bermigrasi lebih sering dibandingkan dengan pria, namun pria menempuh jarak yang lebih jauh ketika bermigrasi
  7. Penduduk kota cenderung lebih malas bermigrasi dibandingkan dengan penduduk desa.

Selain 7 prinsip diatas, terdapat beberapa tambahan prinsip dalam migrasi yang dimasukkan dan diamati setelah Ravenstein mempublikasikan karyanya

  1. Migrasi umumnya terjadi secara bertahap.
  2. Orang-orang semakin banyak meninggalkan daerah pedesaan
  3. Orang-orang bermigrasi umumnya karena masalah ekonomi
  4. Rata-rata migran berumur 20-34 tahun
  5. Terkecuali perpindahan jarak dekat, pada negara berkembang, laki-laki memiliki mobilitas migrasi yang lebih tinggi
  6. Semakin banyak migran yang tidak dapat menemukan tempat tinggal pada daerah tujuannya sehingga menyebabkan terbentuknya daerah kumuh atau slum area.
 

Tren Migrasi

Setelah membahas mengenai teori-teori yang berkaitan dengan migrasi, ada baiknya kita melihat aplikasi teori tersebut pada dunia nyata.

Kita perlu mengamati fenomena migrasi antar negara dan internal dalam negara di negara-negara dunia. Dengan pengamatan ini, diharapkan bahwa kita dapat menarik kesimpulan mengenai migrasi secara umum.

Tren Migrasi Dunia

Secara umum, migrasi di dunia semakin hari semakin meningkat. Hal ini disebabkan oleh kebijakan open borders yang meningkatkan mobilitas masyarakat antar wilayah. Oleh karena itu, migrasi menjadi lebih mudah dilakukan di era modern.

Migrasi besar-besaran awalnya terjadi pada saat kelaparan besar di Irlandia. Fenomena ini menyebabkan masyarakat Irlandia berpindah ke Amerika Serikat untuk memulai kehidupan yang baru. Kenapa ke Amerika Serikat? Karena negara tersebut sudah menganut demokrasi, memiliki banyak tanah yang bebas, dan dianggap tidak bersifat tirani, sehingga menarik bagi para migran.

Negara Penerima Migran Terbanyak

  • Amerika Serikat (49,777,000)
  • Saudi Arabia (12,185,000)
  • Jerman (12,165,000)
  • Rusia (11,165,000)
  • Inggris Raya (8,842,000)
  • Uni Emirat Arab (8,313,000)
  • Prancis (7,903,000)
  • Kanada (7,861,000)
  • Australia (7,036,000)
  • Spanyol (5,947,000)

Kira-kira, Indonesia menampung berapa banyak migran ya? Ternyata kita menampung sejumlah 346,000 orang, atau peringkat 86 dunia.

 

Negara Penyumbang Migran Terbanyak

  • India (16,588,000)
  • Meksiko (12,965,000)
  • Rusia (10,636,000)
  • China (9,962,000)
  • Bangladesh (7,400,000)
  • Suriah (6,864,000)
  • Pakistan (4,700,000)
  • Ukraina (5,942,000)
  • Filipina (5,681,000)
  • Inggris Raya (4,912,000)

Indonesia pada saaat ini menyumbang sebanyak 4,234,000 migran ke berbagai negara. Angka ini mendapatkan kita posisi 13 di urutan negara yang mengirimkan migran paling banyak!

 

Koridor Migrasi Tersibuk di Dunia

  • Libya-Uni Eropa
  • Meksiko-Amerika Serikat
  • Maroko-Uni Eropa
  • Rusia-Ukraina
  • Bangladesh-India
  • Nepal-India
  • Turki-Jerman
  • Asia Selatan-Negara Teluk
  • Algeria-Prancis
  • Kazakhstan-Rusia
  • Kuba-Amerika Serikat
  • China-Amerika Utara
  • India-Amerika Utara
  • Filipina-Amerika Utara
  • Vietnam-Amerika Utara
  • Korea Selatan-Amerika Utara
  • China-Australia
  • China-Hong Kong
  • Vietnam-Australia
  • Hong Kong-Kanada
 

Tren Migrasi Lokal

Migrasi lokal umumnya terjadi sesuai dengan prinsip ravenstein dan faktor pendorong/penarik, yaitu menuju kota-kota besar atau pusat pertumbuhan ekonomi

Tren ini menyebabkan kota-kota besar menjadi semakin besar dan desa-desa menjadi semakin sedikit populasinya. Oleh karena itu, terjadi peningkatan primasi kota, sehingga Indonesia nantinya dapat didominasi oleh beberapa kota yang sangat besar dan dikelilingi oleh kota-kota satelit serta hinterland berupa daerah pertanian dan pedesaan minim penduduk.

Contoh nyata dari fenomena migrasi lokal adalah banyaknya orang-orang yang bermigrasi ke kota besar dari daerah sekitarnya. Kota-kota seperti Jakarta, Bandung, Medan, dan Surabaya menerima ratusan bahkan ribuan migran setiap harinya. Oleh karena itu, sangat sulit mendapatkan data kependudukan yang akurat mengenai kondisi demografis ataupun struktur populasi pada wilayah tersebut.

 

Dampak Migrasi

Migrasi dapat memiliki dampak positif maupun negatif pada suatu negara/wilayah. Dampak yang dirasakan sangat tergantung pada kesiapan wilayah tersebut dan kualitas para migran.

Namun, dampak yang diakibatkan oleh migrasi tidak terbatas pada wilayah yang didatangi oleh migran, migrasi juga mempengaruhi wilayah asal migran.

Dampak Positif

Pada kasus ini, dampak positif akan dilihat dari perspektif global dan lokal. Perspektif global menyoroti dampak positif dari migrasi eksternal masyarakat Indonesia serta imigrasi pekerja asing yang masuk ke indonesia.

Perspektif lokal akan menyoroti dampak migrasi internal yang dilakukan masyarakat Indonesia antar provinsi, kota, kabupaten, atau satuan wilayah lainnya.

Global

  • Pembentukan komunitas diaspora yang nantinya dapat menjadi tokoh pembangun negri.
  • Pemicu transfer ilmu dari institusi pendidikan dan riset luar negri
  • Menjadi sumber remmitance
  • Migran asing ekspatriat akan meningkatkan kualitas pekerjaan serta produktivitas dalam bidang-bidang tertentu yang dikuasainya
  • Menjadi salah satu sarana pertukaran budaya dan propagasi budaya Indonesia di luar serta budaya luar di Indonesia.
 

Lokal

  • Menjadi sarana pertumbuhan penduduk bagi boomtown dan kota-kota yang memiliki konsentrasi industri tinggi. Kota-kota tersebut memerlukan pekerja dalam jumlah banyak sehingga perlu migrasi.
  • Menjadi salah satu faktor yang diharapkan dapat mensuplai tenaga kerja di kawasan ekonomi khusus. Diharapkan migran akan datang ke kota-kota di sekitar KEK untuk berkerja di KEK tersebut.
  • Migrasi dapat meningkatkan keberagaman budaya dalam suatu wilayah. Hal ini dikarenakan penduduknya berasal dari berbagai wilayah, sehingga terwujdukanlah slogan berbeda-beda tetap satu.
  • Migrasi dapat menunjang pertumbuhan ekonomi. Proses migrasi memerlukan banyak uang sehingga memunculkan bisnis-bisnis penunjang seperti travel agent dan jasa pindah rumah
  • Migrasi dapat menjadi sarana pemerataan penduduk jika dikontrol dengan baik oleh pemerintah dan lembaga terkait
  • Migrasi menciptakan kebutuhan fasilitas dan perumahan pada wilayah yang dituju. Hal ini akan mendorong pertumbuhan industri konstruksi dan konsultasi pada wilayah yang dituju
  • Migrasi dapat meningkatkan arus kas kepada daerah asal migran. Ketika migran tersebut bekerja di kota, dia akan mengirimkan uang ke daerah asalnya untuk menyokong kehidupan keluarga atau orangtuanya. Hal ini meningkatkan sirkulasi uang yang beredar di daerah asal.
 

Dampak Negatif

Sama seperti dampak positif, dampak negatif juga akan dilihat dari dua perspektif, global dan lokal. Perspektif global akan berfokus pada dampak negatif migrasi penduduk luar negri ke Indonesia dan sebaliknya, sedangkan lokal akan berfokus pada dampak negatif migrasi penduduk antar satuan wilayah di Indonesia.

Global

  • Migrasi secara global dapat menyebabkan fenomena brain drain pada negara asal. Fenomena ini terjadi ketika orang-orang pintar dari negara asal pergi ke negara maju untuk mengejar karir dan pendidikan, namun tidak kembali membangun negri.
  • Migrasi akan menyebabkan konflik antar negara apabila migrasi tersebut bersifat tidak terkontrol dan terjadi secara illegal. Contoh nyata dari ini adalah Meksiko dengan Amerika Serikat serta Spanyol dengan Maroko dan negara-negara Afrika.
  • Dapat menyebabkan degradasi budaya lokal dikarenakan terlalu banyak penduduk asing yang membawa budayanya. Hal ini dapat dilihat di kota-kota Internasional yang sudah menjadi tempat berkumpul orang-orang dari berbagai belahan dunia. Contoh kota tersebut antara lain adalah Denpasar, Jakarta, Bangkok, Chiang Mai, serta kota-kota besar lainnya
 

Lokal

  • Dapat menyebabkan overpopulasi pada kota-kota besar yang menjadi primadona tujuan migrasi. Contoh yang baik dari fenomena ini adalah Jakarta dan Bandung. Kedua kota ini merupakan kota besar yang memiliki aktivitas ekonomi berkembang dan kualitas hidup yang relatif lebih tinggi dibandingkan dengan wilayah sekitar. Oleh karena itu, banyak migran yang berdatangan ke kedua kota ini, sehingga industri perumahan tidak cukup sigap dalam memenuhi permintaan rumah. Hal ini akan menyebabkan terjadinya wilayah kumuh atau slum area.
  • Dapat menyebabkan brain drain secara lokal. Orang-orang hebat dari desa akan cenderung pindah ke kota sehingga tidak dapat membangun desa.
  • Penurunan populasi desa menyebabkan aktivitas ekonomi dan sosial di desa menjadi stagnan. Selain itu, pemerintah juga akan lebih mengabaikannya karena terdapat wilayah wilayah lain yang memiliki populasi lebih besar dan dianggap lebih penting.
  • Migrasi yang terjadi secara besar-besaran dapat mengganggu struktur sosial bagi daerah yang didatangi maupun daerah yang ditinggali.
&nbsp:

Referensi

Migration Policy, Total Immigration and Emigration Population


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *