Kapal VoC

Latar Belakang Kedatangan Bangsa Barat ke Indonesia

Diposting pada

Sejak zaman dahulu kala, Indonesia sudah terkenal akan kekayaan alamnya yang sangat berlimpah. Oleh karena itu, tidak heran bangsa barat sangat bersemangat dalam mencari Jewel of the East atau “mutiara dari timur” ini.

Tanahnya yang sangat subur karena abu vulkanik, keberadaan lautan luas yang kaya akan ikan, hutan-hutan dengan keanekaragaman hayati yang tinggi, dan rempah rempah yang melimpah turut menjadi faktor mengapa Indonesia senantiasa dibidik oleh bangsa barat.

Benar saja, semenjak dahulu kala, Indonesia sudah menjadi negara adidaya maritim yang berfokus pada perdagangan dan produksi pertanian/perikanan. Hal ini ditunjukkan oleh kerajaan Sriwijaya yang mengontrol lautan nusantara serta Majapahit yang membentang hingga semenanjung Malaya.

Namun, semua kekuatan dari kerajaan-kerajaan di nusantara tidak banyak berarti dibandingkan dengan bedil dan meriam yang dimiliki oleh bangsa Eropa. Akhirnya, satu per satu gugur, entah itu dari timah panas prajurit kumpeni atau dari peperangan internal yang disebabkan oleh politik devide et impera.

Perlawanan dari kerajaan-kerajaan Indonesia bukan tanpa arti, banyak kasus dimana pahlawan nusantara menang melawan penjajah Eropa. Sumber daya mereka juga kerap habis jika harus melawan taktik gerilya dari kerajaan-kerajaan nusantara.

Namun, mengapa mereka mau menghabiskan banyak sekali sumber daya untuk menguasai nusantara? Kali ini, kita akan membahas secara mendalam latar belakang mengapa bangsa barat sangat ingin menguasai Indonesia.

Latar Belakang Kolonialisme Bangsa Barat

Sebelum kita dapat menjelaskan mengenai alasan dibalik kedatangan bangsa barat ke Indonesia, kita harus terlebih dahulu membahas mengenai alasan dibalik kolonialisme mereka.

Secara umum, terdapat 7 alasan yang menjadi latar belakang kolonialisme oleh bangsa Barat.

  • Adanya perang salib dan semangat Reconquista
  • Jatuhnya konstantinopel kepada umat muslim
  • Semangat menjelajah yang besar bangsa Eropa
  • Perkembangan ilmu pengetahuan yang pesat
  • Pelayaran perdagagan China dibawah admiral Cheng Ho
  • Pesatnya perkembangan ekonomi dan perdagangan di Eropa

Nah, sekarang, kita akan coba bahas satu per satu secara mendalam tiap alasan tersebut.

Perang Salib dan Semangat Reconquista

Kekalahan bangsa barat di pertempuran Hattin merupakan salah satu katalis semangat eksplorasi

Perang salib merupakan sebutan bagi serangkaian peperangan yang melibatkan kerajaan-kerajaan Eropa dengan Turki dan kekhalifahan Islam lainnya di Timur Tengah.

Perang ini dikenal sebagai perang salib oleh orang-orang Katolik dan perang suci oleh umat muslim. Perang ini berlangsung secara sporadis selama 200 tahun dan terbagi menjadi 7 babak peperangan.

Salah satu penyebab dari perang ini adalah perebutan kota suci Yerusalem antara umat muslim dan katolik yang sama-sama menganggap bahwa kota ini suci kepada agama mereka.

Kota ini direbut dari tangan kristen oleh pahlawan Islam yaitu Salahuddin Al-Ayyubi dalam perang Hattin. Namun, bangsa barat dikepalai oleh raja Richard Lionheart dari Inggris memimpin crusade untuk kembali menaklukkan kota ini.

Perang salib lah yang melahirkan organisasi-organisasi seperti kesatria templar, knights hospitaller, dan organisai-organsasi religius katolik lainnya yang kerap dicampur-aduk kan dalam budaya populer.

Reconquista pada dasarnya relatif sama dengan perang salib, namun, peristiwa ini terjadi di semenanjung Iberia antara Portugal, Spanyol, dan ummat islam di Andalusia. Setelah peperangan yang panjang, bangsa Spanyol akhirnya dapat menguasai semenanjung Iberia dan daerah-daerah di Afrika Utara,

Peperangan ini menimbulkan ketegangan antara negara-negara muslim di timur tengah yang menjadi gerbang perdagangan antara Asia dan Eropa. Akibatnya, perdagangan menjadi tersendat dan Eropa kehilangan akses kepada jalur sutra yang menghubungkan China dan India dengan Eropa.

Bangsa Eropa juga semakin meng-glorifikasi kemampuan militer dan kejayaan menguasai wilayah baru. Kedua hal ini turut menjadi katalis aktivitas kolonialisme bangsa Eropa selama beberapa abad kedepan.

Jatuhnya Konstantinopel Kepada Umat Muslim

Karena motif utama bangsa eropa adalah berdagang dan mengakumulasi kekayaan, dikuasainya konstantinopel, salah satu gerbang perdagangan dengan Asia, oleh Turki Utsmani menjadi sebuah permasalahan.

Mereka tidak lagi dapat berdagang dan berkeliaran dengan bebas di kota tersebut dibandingkan, jauh berbeda dibandingkan saat Konstantinopel dikuasai oleh Kekaisaran Romawi Timur atau Bizantium.

Terlebih lagi, Turki Utsmani adalah kesultanan bercorak Islam yang religius. Pada saat itu, luka-luka dari perang salib masih cukup membekas di ingatan para penguasa Eropa. Terlebih lagi, tidak ada perlakuan khusus dan insentif dari Turki Utsmani bagi para pedagang Eropa, berbeda dengan Bizantium

Oleh karena itu, para pedagang Eropa harus menemukan cara lain untuk mendapatkan rempah, sutra, dan barang-barang eksotis dari Asia. Hal inilah yang mendorong mereka untuk mencari rute-rute alternatif ke arah barat.

 

Semangat Menjelajah yang Besar dari Bangsa Eropa

Semangat eksplorasi bangsa eropa sangat tinggi pada saat itu

Bangsa Eropa, terutama Spanyol, Portugal, dan Inggris memiliki semangat eksplorasi yang sangat besar. Semangat ini dipupuk oleh cerita-cerita fantastis dari perjalanan Marco Polo dan Ibnu Batutta yang berkeliling dunia dan bercerita tentang tempat-tempat eksotis nan jauh.

Semangat eksplorasi ini diprakarsai oleh putra raja Portugal yaitu Pangeran Henry sang navigator yang berhasil membangkitkan semangat eksplorasi di Portugal dan Spanyol.

Kemudian, Christopher Columbus juga berlayar ke barat untuk menemukan India, meskipun ternyata dia menemukan Amerika, tetap saja banyak harta karun yang berhasil dibawa pulang.

Oleh karena itu, bangsa Eropa pada zaman ini mengasosiasikan petualangan dengan kekayaan dan kejayaan. Hal ini menyebabkan negara-negara Eropa lainnya mengikuti perlombaan untuk menjelajahi dan menguasai dunia baru.

 

Perkembangan Ilmu Pengetahuan yang Pesat

Ilmu pengetahuan bangsa Eropa yang berkembang pesat sejak zaman rennaisance menyebabkan bangsa Eropa semakin maju. Salah satu yang menjadi kemajuan adalah ilmu perkapalan dan navigasi laut menggunakan bintang-bintang.

Teknologi perkapalan yang lebih modern menyebabkan kapal-kapal layar Eropa dapat menyebrangi laut Atlantik yang memiliki cuaca buruk dan ombak yang besar. Selain itu, kapal-kapal ini juga mampu membawa cukup banyak makanan dan kebutuhan lainnya untuk mencapai tempat-tempat yang jauh.

Ilmu navigasi yang lebih baik juga membuat para petualang Eropa mampu menemukan tempat yang mereka tuju. Sekarang, hilang di laut dan tersesat menjadi lebih jarang dibandingkan dengan zaman dahulu.

Selain itu, ilmu kartografi juga sudah cukup maju sehingga para petualang selalu dibekali dengan peta yang relatif akurat mengenai lokasi-lokasi sepanjang perjalanannya.

Jika peta tersebut sudah tidak akurat, maka para petualang akan mengoreksinya sendiri, sehingga semakin banyak eksplorasi yang dilakukan, semakin akurat pula peta-peta yang dimiliki bangsa Eropa.

 

Pelayaran perdagagan China dibawah admiral Cheng Ho

Pelayaran Cheng Ho membangun jaringan perdagangan di Asia Arab dan Afrika

Pelayaran perdagangan China oleh admiral Cheng Ho merupakan salah satu aktivitas perdagangan internasional paling besar yang ada di Asia dan Afrika pada zamannya.

China saat itu memiliki ratusan kapal-kapal berukuran besar yang dikawal oleh kapal-kapal perang. Armada ini bertujuan untuk menyebarkan pengaruh China ke negara-negara sekitarnya dan memfasilitasi kerjasama ekonomi dengan China.

Harapannya, China dapat berkembang secara ekonomi tanpa harus menguasai negara lain. Hal ini sejalan dengan langkah-langkah yang diambil oleh China dan Amerika Serikat saat ini, yaitu kolonialisme menggunakan penanaman modal.

Pelayaran Cheng Ho ini mampu membangun infrastruktur perdagangan yang baik di Afrika dan Asia. Hal ini juga membawa keuntungan yang sangat besar bagi China dan membangun jaringan perdagangan yang saling terkait di wilayah Afrika-Arab-India-China.

Jaringan perdagangan dan pertukaran ide secara massal yang difasilitasi oleh pelayaran-pelayaran ini turut berperan besar dalam menginspirasi bangsa Eropa. Kelak, mereka akan meniru konsep ini selama masa kolonialisme, meskipun dengan cara yang lebih militer.

 

Pesatnya perkembangan ekonomi dan perdagangan di Eropa

Pesatnya perkembangan ekonomi dan perdagangan antar wilayah di Eropa pasca abad kegelapan menjadi salah satu katalis bangsa Eropa untuk berpetualang.

Eropa saat itu tidak mampu menghasilkan cukup sumber daya alam untuk memenuhi kebutuhan ekonominya yang berkembang secara sangat pesat. Oleh karena itu, dibutuhkan perdagangan untuk mendatangkan sumber daya dari wilayah sekitar.

Sayangnya, satu-satunya gerbang perdagangan aktif di timur yaitu Alexandria dan Konstantinopel dikuasai oleh kekhalifahan Turki Utsmani atau bangsa Islam lainnya. Hal ini menyebabkan bangsa barat harus memutar otak untuk menemukan rute perdagangan lain yang lebih murah.

Ya, saat itu kekhalifahan Utsmani dan keluarga besar pedagang-pedagang Venisia mengontrol perdagangan di laut mediterania. Monopoli ini menyebabkan keuntungan yang didapatkan oleh pedagang Eropa rendah, karenah keuntungan sudah diambil oleh Venisia dan Turki Utsmani.

Satu-satunya jalur perdagangan yang masih kosong dan belum ada yang menguasai adalah lewat barat, mengelilingi Afrika.

 

Tujuan Kolonialisme Bangsa Barat

Motivasi utama kolonialisme bangsa barat adalah kekayaan, kejayaan, dan penyebaran agama

Tujuan utama dari kolonialisme bangsa barat dapat diwakilkan oleh semboyan gold, glory, dan gospel. Semboyan ini mewakili 3 aspek utama yang diharapkan oleh bangsa Eropa dari aktivitas kolonialisme mereka yaitu, mendapatkan uang, kekuasaan, dan penyebaran agama.

Gold sendiri adalah semangat untuk mengakumulasi kekayaan dan menumbuhkan perekonomian negara. Bangsa barat pada kasus ini mencari rempah rempah dan sutra yang berasal dari Timur karena kedua barang ini memiliki harga yang sangat tinggi jika dijual.

Glory adalah semangat untuk menguasai wilayah baru dan mendapatkan kejayaan bagi diri sendiri maupun bagi negara. Pada zaman ini, budaya militerisme sangat diagung-agungkan sehingga negara yang menguasai tanah paling banyak dan paling sering memenangkan peperangan dianggap paling hebat.

Gospel pada dasarnya adalah semangat bangsa barat untuk menyebarkan agama katolik ke seluruh dunia. Vatikan mendorong negara-negara barat untuk secara aktif menyebarkan agama katolik dengan embel-embel tugas mulia dari tuhan.

Nah, 3 semangat inilah yang menjadi dasar dari aktivitas kolonialisme bangsa barat selama beberapa abad kedepan. Hal ini pun akan berujung kepada perburuan mutiara dari timur yang akan kita bahas dibawah ini.

Perburuan Mutiara dari Timur

Nah, mungkin kalian sering mendengar sebutan “perburuan mutiara dari timur” atau the hunt for the pearl of the east. Ini adalah istilah yang menggambarkan perjuangan bangsa barat untuk menemukan pulau-pulau berharga yang ada di Asia.

Pada kasus ini, pearl of the east adalah kepulauan maluku yang memiliki banyak sekali rempah-rempah berkualitas tinggi. Oleh karena itu, bangsa barat ingin berdagang dan pada akhirnya menguasai daerah ini.

Motivasi utama yang melatari perburuan mutiara dari timur adalah alasan ekonomi. Rempah saat itu sangat mahal harganya di pasar eropa. Selain menghangatkan badan, rempah juga membuat rasa masakan-masakan menjadi lebih enak dan dapat digunakan untuk mengawetkan daging.

Oleh karena itu, siapapun yang mengontrol perdagangan rempah dapat mengontrol perdagangan dunia. Hal inilah yang menjadi latar belakang kedatangan bangsa barat ke Indonesia.

 

Latar Belakang Kedatangan Bangsa Barat ke Indonesia

Akumulasi kekayaan merupakan salah satu alasan yang melatarbelakangi kedatangan bangsa barat ke Indonesia

Nah, kita tadi sudah membahas banyak alasan mengapa bangsa barat mulai melakukan kolonialisme, baik di Asia maupun di Amerika. Sekarang, kita akan membahas lebih lanjut mengenai mengapa mereka memilih Indonesia secara spesifik.

Secara umum, terdapat 4 alasan besar mengapa bangsa Eropa memilih Indonesia sebagai target kolonialisme mereka. Alasan-alasan tersebut antara lain adalah.

Menguasai Perdagangan dari Timur

Indonesia terletak di lokasi yang sangat strategis untuk mengontrol perdagangan dari China dan Jepang ke Afrika dan Eropa. Semua kapal yang ingin membawa barang dari China dan Jepang harus melewati Selat Malaka terlebih dahulu sebelum dapat mencapai India dan Afrika, lalu Eropa.

Oleh karena itu, negara Eropa manapun yang menguasai Indonesia, terutama selat Malaka dan laut Natuna dan Jawa, dapat mengontrol jalur perdagangan yang sangat berharga.

Terlebih lagi Indonesia memiliki batas-batas wilayah yang mayoritasnya adalah kawasan perairan. Hal ini mempermudah bangsa barat untuk menguasai dan menjaga perbatasannya dengan kapal tanpa harus menghabiskan uang untuk membangun benteng dan menempatkan pasukan.

Perwujudan dari penguasaan perdagangan ini salah satunya adalah British East India Company atau EIC yang menguasai India dan semenanjung Malaya. Perusahaan ini memonopoli hampir semua perdagangan yang melewati sub-benua India.

Kalian mungkin familiar dengan kapal-kapal angkatan laut Inggris yang sering mengejar Jack Sparrow dan kawan-kawan di film Pirates of the Carribean. Nah, itu adalah perwujudan merchant marine yang dimiliki oleh EIC.

Di dunia nyata, EIC sebenarnya tidak terlalu banyak mengurusi urusan perekonomian di sekitar Karibia dan benua Amerika. Namun, memang perusahaan ini merupakan salah satu perusahaan yang sangat besar di zamannya.

Saking menguntungkannya perdagangan di Timur, perusahaan-perusahaan dagangnya saja memiliki angkatan laut tersendiri. Contoh lain yang mungkin kita cukup familiar adalah VoC yang menguasai hampir seluruh wilayah Indonesia pada saat itu.

Perdagangan dari timur yang sangat menguntungkan ini adalah salah satu alasan yang menjadi latar belakang kedatangan bangsa barat ke Indonesia.

 

Menguasai Produksi Rempah-Rempah

VoC Merupakan salah satu perusahaan besar yang didirikan oleh belanda untuk menguasai perdagangan rempah-rempah

Alasan lain mengapa bangsa barat ingin menguasai Indonesia adalah untuk menguasai rempah-rempah yang melimpah ruah di nusantara. Indonesia pada saat itu adalah salah satu produsen utama dari rempah-rempah seperti cengkeh dan pala.

Karena rempah-rempah memiliki nilai jual yang sangat tinggi di Eropa, maka bangsa barat berbondong-bondong datang untuk berdagang rempah.

Seiring dengan waktu, semakin banyak pedagang rempah yang membeli rempah-rempah Indonesia dan menjualnya di Eropa. Hal ini membuat harga rempah dunia turun sehingga keuntungan mereka pun menurun.

Oleh karena itu, beberapa bangsa barat seperti Belanda dan Portugis berinisiatif untuk memonopoli perdagangan rempah agar mendapatkan keuntungan bagi mereka sendiri.

Caranya tentu saja adalah dengan datang ke Indonesia dan menguasai sumber produksinya secara langsung.

Keserakahan inilah yang menjadi pemicu konflik-konflik antar negara barat dan kerajaan-kerajaan Indonesia selama beberapa ratus tahun kedepan.

Kolonialisme ini baru bisa dihilangkan sepenuhnya setelah Belanda gagal dalam agresi militer keduanya. Jauh setelah Indonesia merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945.

Keinginan untuk menguasai produksi rempah-rempah inilah yang menjadi salah satu alasan yang melatarbelakangi kedatangan bangsa Eropa di Indonesia.

 

Memperluas Wilayah Kekuasaan

Alasan lain mengapa bangsa barat sangat ingin untuk menguasai Indonesia adalah untuk memperluas wilayah kekuasaannya. Indonesia memiliki wilayah yang luas, tanah yang sangat subur, dan kerajaan-kerajaan yang terpecah-pecah.

Oleh karena itu, bangsa Eropa menganggap bahwa akan sangat mudah untuk menguasai Indonesia. Terlebih lagi negara kita yang bersifat kepulauan memungkinkan mereka untuk melakukan blokade dan mengisolasi kerajaan-kerajaan yang ada dengan angkatan laut dan kapal yang lebih modern.

Hal ini terbukti benar karena kerajaan-kerajaan Indonesia satu per satu kalah atau bahkan berkerjasama dengan bangsa Eropa ini. Akhirnya, hampir semua wilayah Indonesia dikuasai oleh bangsa barat, entah itu Inggris, Belanda, atau Portugis.

Tentu saja, sesuai dengan salah satu aspek 3G yaitu glory, keinginan untuk menguasai wilayah jajahan, terutama yang sangat strategis menjadi salah satu latar belakang kedatangan bangsa barat ke Indonesia.

 

Menyebarkan Agama Katolik

Salah satu alasan lain untuk menguasai Indonesia adalah demi menyebarkan agama katolik dan nantinya kristen oleh Belanda. Namun, motivasi ini tidak terlalu besar jika kita bandingkan dengan motivasi mencari rempah dan menguasai perdagangan.

Tercatat, pendirian misi dan gereja-gereja tidak terlalu masif jika dibandingkan dengan pendirian perkebunan, pabrik pengolahan rempah, pelabuhan, dan gudang-gudang.

Namun, tetap tidak dapat dipungkiri, penyebaran agama merupakan salah satu latar belakang dibalik kolonialisme bangsa Barat di Indonesia. Hanya saja, dampaknya tidak sebesar motivasi ekonomi dan kejayaan yang sudah kita bahas sebelumnya.

 

Bangsa Barat yang Datang ke Indonesia

Indonesia dijajah oleh 6 negara selama lebih dari 300 tahun

Tercatat, terdapat 6 negara yang pernah memiliki wilayah kolonial di Indonesia. Dari keenam negara tersebut, 4 yang paling berpengaruh adalah Inggris, Belanda, Portugis, dan Spanyol.

Penjajahan yang dilakukan oleh negara-negara ini sangatlah lama dan mengeruk banyak sumber daya alam Indonesia. Masyarakat kita juga dieksploitasi, banyak yang meninggal dan dijadikan buruh kerja paksa di perkebunan-perkebunan sesuai dengan kebijakan cultuurstelsel.

Selama lebih dari 200 tahun, perjuangan para pahlawan Indonesia kurang efektif melawan belanda. Perjuangan mereka yang kedaerahan sangat mudah dipatahkan dengan kebijakan devide et impera dan kepemilikan senjata yang modern.

Untungnya, para pejuang kemerdekaan kita berhasil menyatukan perlawanan dengan sumpah pemuda dan perlahan-lahan mengusir para penjajah.

 

Referensi

Age of Discovery

Iqbal Hakim

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *