Keunggulan Sistem Informasi Geografi Beserta Kelemahannya

Keunggulan dari sistem informasi geografi adalah kemampuannya untuk mengolah data dalam jumlah banyak secara cepat, tepat, dan fleksibel. Berbeda dengan manusia, system computer SIG memungkinkannya untuk melakukan banyak proses dalam waktu yang sangat singkat atau bahkan bersamaan.

Keunggulan-keunggulan ini menjadikan SIG primadona bagi peneliti pada ilmu-ilmu spasial seperti perencanaan wilayah, geografi, geosains, dan geodesi. Namun, SIG juga memiliki beberapa kelemahan yang dapat menghambat penelitian yang dilakukan.

Kali ini, kita akan mengenal lebih jauh kelebihan dan kekurangan yang ada pada sistem informasi geografis.

Keunggulan Sistem Informasi Geografi

Seperti yang sudah dijabarkan diatas, SIG memiliki banyak sekali keunggulan yang membuatnya menjadi primadona bagi para peneliti ilmu spasial. Berikut ini adalah keunggulan-keunggulan yang membuat SIG sangat dicintai.

  • Pemrosesan data yang lebih singkat
  • Lebih fleksibel dalam melakukan visualisasi data
  • Pengelolaan data yang lebih mudah
  • Biaya yang relative lebih murah dalam mengolah data
  • Pengolahan dan analisis data yang lebih akurat serta praktis
  • Fleksibilitas dalam memilih format data

Berikut ini adalah penjabaran dari keunggulan sistem geografi yang sudah disebutkan diatas.

Pemrosesan Data yang Lebih Singkat

Penggunaan perangkat keras yang dengan spesifikasi tinggi mampu meningkatkan kecepatan proses data SIG hingga jauh diatas kemampuan manusia
Penggunaan perangkat keras yang dengan spesifikasi tinggi mampu meningkatkan kecepatan proses data SIG hingga jauh diatas kemampuan manusia

Sistem Informasi Geografi dapat membantu geografer untuk mengolah data-data spasial dengan lebih cepat. Dengan adanya computer sebagai salah satu komponen hardware dalam SIG, para geografer hanya perlu memberikan perintah dan nanti akan dilaksanakan oleh komputer.

Komputer tidak merasakan Lelah, tidak butuh istirahat, dan dapat disuruh melakukan apa saja asal ada perintahnya, berbeda dengan manusia. Hal ini membuat para peneliti dapat bekerja dan mengolah lebih banyak data dalam waktu yang lebih singkat.

Oleh karena itu, geografer yang menggunakan SIG untuk mengolah data spasial dan aspasialnya mendapatkan keuntungan waktu, dimana data mereka diolah dengan lebih cepat, sehingga dapat menghasilkan output yang lebih cepat pula.

 

Lebih Fleksibel Melakukan Visualisasi Data

Karena sistem informasi geografi merupakan aplikasi yang berbasis GUI atau graphics user interface, pengguna SIG dapat dengan mudah melihat bentuk visual dari data yang sedang mereka olah. Kini, para geografer dapat melihat, sebenarnya hasil overlay mereka seperti apa dalam bentuk peta.

Kemudahan ini membantu mereka dalam menentukan layout peta yang ideal untuk menunjukkan informasi tersebut sejelas mungkin. Selain itu, sekarang ahli SIG juga dapat mengajak ahli desain grafis untuk mendesain visualisasi dari data yang sudah diolah.

Hal ini mungkin terjadi karena system GUI adalah WYSIWYG (what you see is what you get), artinya, apa yang kita lihat di layar sama dengan apa yang akan dijadikan output nanti. Orang-orang desain grafis dapat dengan mudah melakukan editing grafis untuk memperindah dan memperjelas data tersebut.

Dahulu, sebelum adanya SIG yang menggunakan GUI seperti sekarang, orang-orang yang melakukan visualisasi data harus mahir melakukan coding juga. Karena dahulu, layouting output data harus digunakan dengan menggunakan coding atau bahkan harus diprint terlebih dahulu lalu dilakukan secara manual.

 

Pengelolaan data yang lebih mudah dan terstruktur

Dengan adanya database yang terstruktur, pengelolaan data di SIG dapat dilakukan dengan lebih mudah
Dengan adanya database yang terstruktur, pengelolaan data di SIG dapat dilakukan dengan lebih mudah

Dengan adanya system database terstruktur yang ada pada sistem informasi geografi, pengelolaan data menjadi lebih mudah dan terstruktur. Sekarang, para geografer hanya perlu untuk memasukkan data kedalam database dan mengatur parameter penyimpanannya.

Dengan adanya system database modern, data-data yang sudah disimpan dapat dipertahankan selamanya. Data-data tersebut tidak akan rusak seiring dengan berjalannya waktu, tidak seperti peta-peta dan dokumen fisik yang sekarang disimpan dalam gudang. Selain itu, database digital yang dimiliki SIG juga memudahkan akses data, sekarang, geografer hanya perlu mengetik perintah dan data tersebut akan langsung datang.

Hal-hal diatas membuat pengelolaan data sangat mudah jika menggunakan SIG dan databasenya. Oleh karena itu, salah satu keunggulan dari SIG adalah mudahnya pengelolaan data, sehingga diharapkan dapat meningkatkan produktivitas dan juga menurunkan biaya yang diperlukan untuk melakukan analisis.

 

Biaya yang relatif lebih murah dalam mengolah data

Sistem informasi geografi memiliki biaya penggunaan yang jauh lebih murah dibandingkan analisis fisik terhadap data-data spasial dan aspasial. Namun, hal ini menjadi kenyataan apabila kita melihat analisis tersebut dari kacamata yang luas, bukan hanya satu proses yang terisolasi.

Proses-proses yang dimaksud meliputi akuisisi data, input data, penyimpanan data, pengolahan data, dan output data. Setelah itu, data yang sudah ada dan disimpan mungkin digunakan lagi untuk analisis lain jika dianggap relevan. Oleh karena itu, data-data SIG dapat digunakan untuk banyak penelitian, bukan hanya satu.

Memang benar kalau dilihat dari segi per-projek, SIG memang dapat dibilang mahal. Biaya pengadaan software, hardware, serta pelatihan manusia agar mampu menggunakan perangkat SIG memang tidak murah. Terlebih lagi jika kita harus selalu mengikuti standar industri dengan mengupdate perangkat ke versi terbaru setiap ada inovasi, akan memakan biaya yang sangat mahal.

Namun, mahal tersebut jika SIG hanya digunakan untuk satu atau dua projek saja. Jika SIG digunakan untuk belasan bahkan puluhan projek, tentu saja akan lebih murah karena lebih praktis dan cepat dalam mengolah data. Terlebih lagi, terdapat opportunity cost atas waktu yang hilang jika harus menggunakan metode manual.

Maka, dapat kita asumsikan bahwa SIG memiliki keunggulan dari segi penghematan biaya dalam mengelola dan mengolah data.

 

Pengolahan dan analisis data yang lebih mudah serta akurat

Sistem Informasi Geografi dengan pengolahan berbasis komputernya mengurangi potensi terjadinya human errors
Sistem Informasi Geografi dengan pengolahan berbasis komputernya mengurangi potensi terjadinya human errors

Penggunaan software pengolah data seperti SIG tentu akan membuat hasil pengolahan data akan semakin akurat. Dibandingkan dengan pengolahan data secara manual, perhitungan dengan komputer akan lebih akurat hasilnya. Hal ini dikarenakan sebuah komputer tidak membuat human errors yang seringkali mengurangi akurasi penelitian manusia.

Jika terjadi kesalahan, umumnya kesalahan itu disebabkan oleh operator SIG ataupun peneliti yang melakukan analisis. Kesalahan-kesalahan tersebut umumnya disebabkan oleh penentuan parameter yang kurang tepat, penggunaan coding yang salah, atau bahkan metode analisis yang tidak tepat. Human errors seperti inilah yang mungkin membuat penelitian-penelitian dengan menggunakan SIG kurang akurat.

Kemudahan juga menjadi salah satu keunggulan SIG terbesar. Pengolahan data dengan menggunakan komputer tentunya akan dibantu oleh banyak pilihan aplikasi yang dapat mempersingkat proses serta menghemat waktu dalam mengolah data. Tidak hanya dalam pengolahan data, dalam menampilkan hasil serta kesimpulan data pun lebih cepat sehingga keputusan dapat diambil dengan lebih taktis dan tepat.

Contohnya adalah dalam perencanaan ataupun evaluasi rencana banjir di suatu kota. Jika kita menggunakan metode manual, tentu saja ada ratusan peta yang harus dioverlay menggunakan kertas kalkir dan spidol. Hal ini memakan waktu yang sangat lama, selain itu, kemungkinan kesalahannya juga tinggi, terutama ketika operator petanya mengalami kelelahan. Sehingga, akan memerlukan waktu yang sangat lama untuk melihat daerah banjir dan menciptakan rencana mitigasinya. Terlebih lagi, ada kemungkinan hasil analisis tersebut salah karena factor human error tadi.

Bandingkan dengan penggunaan SIG, kita hanya tinggal meng-input data, melakukan overlay, meminta computer untuk mengolah dan melihat daerah mana saja yang rawan, lalu akan keluar outputnya. Para pemangku kepentingan pun dapat segera merapatkan langkah strategis untuk memitigasi banjir di lokasi-lokasi rawan yang sudah diidentifikasi.

 

Fleksibilitas dalam memilih format data

Salah satu keunggulan SIG lain yang kerap kita lupakan adalah fleksibilitasa dalam memilih format data, baik itu sebagai input maupun output dari proses pengolahan. Karena semua data SIG berada dalam bentuk digital, maka data-data tersebut sangat mudah diubah-ubah formatnya.

Dari segi input, kebanyakan software SIG (ArcGIS, QGIS) sudah mampu menerima hampir semua jenis data digital. Jika ada yang tidak bisa diolah, kita pun dapat mencari software untuk mengkonversi format data tersebut menjadi format yang diterima. Oleh karena itu, SIG sangat fleksibel dalam menerima data, sebuah keunggulan yang sangat penting di Indonesia, melihat data kita yang masih belum terintegrasi antar kementrian dan antar Lembaga.

Dari segi output, software SIG dapat menghasilkan banyak sekali format file. Mulai dari shp (shapefile) dan gdb (geodatabase) untuk keperluan arsip dan penyuntingan ulang di lain waktu, hingga format jpeg dan pdf jika kita sudah yakin dan ingin mempublikasikan layout peta kita. Oleh karena itu, SIG juga sangat dicintai karena memungkinkan terjadinya kolaborasi antar peneliti yang lebih mudah. Sekarang, mereka hanya perlu sharing file shp dan gdb untuk melanjutkan penelitian orang lain.

 

Kelemahan Sistem Informasi Geografi

Sistem informasi geografis bukanlah system sempurna yang tidak memiliki kelemahan sama sekali. Namun, jika kita bandingkan, keunggulan SIG dalam mengolah data jauh lebih banyak dibandingkan kelemahannya.

Agar dapat menjadi pengguna SIG yang baik, kita harus mengetahui apa saja kelemahannya agar dapat kita antisipasi dan kita perbaiki saat menggunakan SIG. Berikut ini adalah beberapa kelemahan dari sistem informasi geografi.

  • Teknologi pendukungnya sering beranti-ganti mengikuti perkembangan zaman. Hal ini akan menimbulkan kesulitan karena harus selalu membeli alat yang baru seiring dengan berkembangnya teknologi pendukung yang ada
  • Membutuhkan sumber daya manusia yang ahli. Sayangnya, di Indonesia, masih banyak orang yang belum melek teknologi sehingga tidak bias belajar SIG
  • Data 3D masih buruk visualisasinya. Hal ini dapat dengan mudah diselesaikan dengan cara berkerjasama dengan ahli desain grafis untuk meningkatkan kualitas visualisasi data
  • Format yang terlalu beragam. Bagi sebagian orang, format data yang dihasilkan sangat beragam sehingga sulit untuk menyesuaikannya. Namun, hal ini dapat dengan mudah diselesaikan dengan menyetujui format apa yang akan digunakan oleh sebuah instansi/Lembaga
  • Kelengkapan data. Sulit untuk memproses data yang diperoleh hanya sebagian-sebagian (bersifat temporal). Sayangnya, data-data di Indonesia kebanyakan bersifat parsial dan tidak lengkap
  • Update software. Keharusan untuk senantiasa meng-update software SIG terbaru agar dapat mengolah data secara maksimal dan berada dalam standar kerja industri geospasial.

Namun, dapat dilihat bahwa kelemahan-kelemahan tersebut selalu ada solusinya sehingga dapat ditanggulangi dengan baik agar tidak menimbulkan kerugian.

Iqbal Hakim

Latest posts by Iqbal Hakim (see all)

Tinggalkan komentar