Kapal VoC

Gold, Glory, Gospel: 3G Semboyan Kolonialisme Eropa

Diposting pada

Gold, Glory, dan Gospel atau kerap disebut juga sebagai Gold, Glory, and God adalah semboyan yang mendasari aktivitas eksplorasi, eksploitasi, dan pada akhirnya kolonialisme serta imperialisme yang dilakukan bangsa Eropa pada tahun 1400 hingga 1750an.

Jika kita lihat kebelakang, hampir semua aktivitas kolonialisme tersebut mengacu pada ketika tujuan yang ada pada semboyan ini. Untuk mendapatkan kekayaan, untuk menyebarkan agama kristen katolik, dan untuk mendapatkan ketenaran dan kejayaan dari menemukan tanah-tanah jajahan baru.

Indonesia sendiri, merupakan salah satu target dari kolonialisme bangsa Eropa ini. Indonesia pernah dijajah oleh beberapa negara yang antara lain adalah Spanyol, Portugis, Belanda, dan Inggris. Umumnya, motif negara-negara tersebut untuk menguasai Indonesia adalah karena gold yang mana Indonesia memiliki banyak sekali rempah-rempah.

Pada saat itu, rempah merupakan komoditas dengan harga jual yang sangat mahal di Eropa. Selain karena perdagangannya dikontrol oleh kesultanan Turki Utsmani dan pada pedagang dari Venesia, belum ada jalur langsung yang dapat digunakan untuk mengirimkan rempah. Semuanya harus melewati India, Arab, dan Konstantinopel terlebih dahulu sebelum dijual secara bebas di Venesia, Genoa, ataupun Sevilla.

Oleh karena itu, bangsa Eropa berlomba-lomba untuk menemukan jalur perdagangan alternatif agar mereka bisa mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya. Dengan adanya semangat eksplorasi ini, perlahan-lahan muncul lah semboyan gold, glory, dan gospel yang kelak akan menjadi ruh dari aktivitas kolonialisme bangsa Eropa.

Sejarah dari Gold Glory Gospel

Momen dimana Christopher Columbus menemukan benua Amerika merupakan salah satu peristiwa penting dalam era kolonialisme
Momen dimana Christopher Columbus menemukan benua Amerika merupakan salah satu peristiwa penting dalam era kolonialisme

Tahun 1400-1700an merupakan era dimana aktivitas kolonialisme dan imperialisme bangsa Eropa sedang aktif-aktifnya. Mereka melakukan ekspansi besar besaran untuk menguasai daerah baru baik di benua Amerika maupun di Asia dan Afrika.

Semangat kolonialisme ini umumnya dapat disarikan menjadi 3 kata yaitu gold, glory, dan gospel. Hampir semua aktivitas kolonialisme memiliki tujuan akhir salah satu atau bahkan semua dari 3 kata tersebut.

Pelopor dari era kolonialisme ini salah satunya adalah Spanyol dan Portugis. Kedua negara ini memiliki banyak keunggulan yang menyebabkan mereka dapat mendominasi lautan dan perdagangan di seluruh dunia. Mereka merupakan pionir yang mendorong negara-negara Eropa lain untuk mulai melakukan kolonialisme secara besar besaran, mengikuti kedua negara ini.

Pada awalnya, semangat eksplorasi kedua negara ini didasari oleh jatuhnya kota Konstantinopel kepada kesultanan Turki Utsmani. Dengan dikuasainya Konstantinopel yang merupakan gerbang perdagangan antara Eropa dengan Asia, maka harus dicari jalur perdagangan lain.

Terlebih lagi, ada persaingan antara pemerintahan kedua negara tersebut dengan negara venesia dan genoa yang memonopoli perdagangan di laut mediterania. Oleh karena itu, semakin diperlukanlah jalur perdagangan lain yang dapat digunakan untuk mengakuisisi rempah-rempah dan sutra.

Seiring dengan ditaklukannya wilayah-wilayah kekuasaan baru di Afrika, Asia, dan Amerika, kepentingan yang dibawa tidak hanya berupa kepentingan para pedagang. Muncul pula kepentingan-kepentingan lain seperti misi penyebaan agama yang dibawa oleh vatikan serta ambisi-ambisi para raja untuk menguasai lebih banyak wilayah diseluruh dunia.

Oleh karena itu, seiring dengan berkembangnya kolonialisme dan imperialisme, tujuan utama nya bukan lagi hanya gold tetapi glory dan gospel juga menjadi tujuan. Namun, tentu saja tiap-tiap negara memiliki orientasi dan tujuan utama yang berbeda-beda dalam melakukan kolonialisme.

Mungkin saja, Belanda lebih mementingkan gold dengan eksploitasinya terhadap salah satu penghasil rempah terbesar di dunia yaitu kepulauan Indonesia. Selain itu, Belanda juga merupakan salah satu negara dengan skema eksploitasi paling efektif melalui perusahaan-perusahaan swasta dan pemanfaatan dana masyarakat. Salah satu perwujudannya adalah pembentukan perusahaan terbesar di dunia yaitu VoC yang sudah seperti negara sendiri.

Inggris mungkin lebih mementingkan glory dengan slogan the sun never sets on the british empire atau matahari tidak pernah tenggelam pada kerajaan Inggris. Wilayah kekuasaan Inggris yang tersebar di seluruh dunia dan ada di setiap zona waktu pasti akan senantiasa merasakan matahari. Secara implisit, harapannya juga dengan kerajaan yang sangat besar dan berkuasa itu, Inggris akan selalu menjadi negara adidaya penguasa dunia.

Spanyol mungkin saja lebih mementingkan gospel dengan banyaknya misi-misi religius yang dibentuk oleh kerajaan Spanyol di daerah-daerah kekuasaannya. Selain itu, Spanyol juga merupakan salah satu negara selain Portugis yang mendapatkan ketetapan dari vatikan untuk menyebarkan agama katolik ke seluruh penjuru dunia.

Namun, perlu diketahui bahwa semboyan gold, glory, dan gospel ini diawali dan dicetuskan oleh bangsa Spanyol dalam segala proses kolonisasi mereka terhadap ‘dunia baru’ di Amerika, Afrika, serta Asia.

 

Gold

Kekayaan merupakan salah satu motivasi utama aktivitas kolonialisme dan imperialisme bangsa barat
Kekayaan merupakan salah satu motivasi utama aktivitas kolonialisme dan imperialisme bangsa barat

Gold atau emas merupakan istilah bagi segala upaya untuk mendapatkan kekayaan atau keuntungan material dari aktivitas eksplorasi dan pada akhirnya eksploitasi yang dilakukan oleh negara-negara Eropa pada saat itu.

Umumnya, gold didapatkan dengan cara menjual rempah-rempah asia, budak-budak afrika, serta logam mulia yang berasal dari Amerika.

Seiring dengan berkembangnya perekonomian Eropa pasca abad kegelapan, muncul lah beberapa dinasti pedagang yang berhasil mengakumulasi kekayaan dan kekuatan politik yang cukup banyak di negara masing-masing.

Dinasti-dinasti ini berhasil meyakinkan raja-raja yang ada di Eropa pada saat itu untuk mencari jalur perdagangan alternatif agar dapat menghasilkan uang lebih banyak dari perdagangan rempah dan sutra Asia. Salah satunya adalah dengan cara mencari india, sebuah lokasi yang dipercaya merupakan pusat perdagangan rempah sebelum diekspor ke Eropa.

Lobi para pedagang yang kuat ini berhasil meyakinkan raja-raja Eropa pada saat itu untuk mengirimkan ekspedisi ke berbagai belahan dunia.

Salah satunya adalah Portugal yang mengirimkan kapal-kapalnya ke bagian selatan Afrika yang nantinya akan melewati tanjung harapan dan menemukan India. Berbeda dengan Portugal, Spanyol memilih untuk berlayar lurus ke barat hingga akhirnya Christopher Colombus menemukan benua Amerika.

Meskipun menempuh rute yang berbeda, kedua negara ini berhasil mendapatkan kekayaan yang sangat besar dari kegiatan eksplorasinya. Spanyol dengan emas, perak, dan coklat yang ada di benua Amerika. Portugal dengan gading, budak, kopi serta rempah-rempah yang berasal dari Afrika dan India.

Kesuksesan ekspedisi-ekspedisi inilah yang menjadi motor penggerak bagi bangsa Eropa untuk melakukan aktivitas eksplorasi dan yang lebih intens. Semangat eksplorasi ini pada akhirnya akan berubah menjadi eksploitasi dan akhirnya kolonialisme serta imperialisme.

Inggris pada akhirnya akan menguasai India dan memonopoli perdagangan teh. Portugal dan Belanda akan memonopoli perdagangan budak dan rempah Asia lewat markas-markasnya di Afrika dan Nusantara. Sedangkan Spanyol akan memonopoli perdagangan emas dan perak dari benua Amerika dengan spanish treasure fleet-nya yang tersohor.

 

Glory

Kejayaan di medan pertempuran dan ekspansi wilayah kekuasaan juga merupakan sala satu tujuan utama dari kolonialisme yang dilakukan oleh negara-negara Eropa
Kejayaan di medan pertempuran dan ekspansi wilayah kekuasaan juga merupakan sala satu tujuan utama dari kolonialisme yang dilakukan oleh negara-negara Eropa

Glory merupakan istilah yang menggambarkan bagaimana raja-raja di Eropa berusaha untuk meningkatkan prestis mereka dan negaranya dengan cara memperluas daerah jajahan.

Perlu diingat bahwa pada masa ini, benua Eropa baru saja keluar dari zaman kegelapannya. Pertempuran antar negara atau bahkan secara internal dari sebuah negara senantiasa terjadi setiap saat. Fakta ini ditambah dengan perang salib dan reconquista semenanjung Iberia dari bangsa moor merupakan katalis munculnya glorifikasi kemampuan militer dari sebuah negara.

Negara yang mampu memenangkan perang, memiliki angkatan bersenjata yang hebat, atau memiliki daerah jajahan yang banyak akan cenderung dianggap lebih tinggi dibandingkan negara-negara lain.

Tentu saja, untuk melakukan hal-hal tersebut, dibutuhkan orang-orang yang hebat pula. Oleh karena itu, negara-negara Eropa mengobral gelar kehormatan, titel raja, hingga uang dan tanah untuk mendorong tokoh-tokohnya melakukan hal-hal hebat yang dapat dibanggakan.

Karena di Eropa semua wilayah sudah ada yang menguasai, sangat sulit bagi negara-negara tersebut untuk memperluas jajahannya di benua Eropa. Ketersediaan lahan-lahan kosong dalam jumlah banyak di Amerika dan Afrika dianggap sebagai peluang besar bagi negara dan raja-rajanya untuk memperluas daerah jajahan masing-masing dan mendapatkan ketenaran di mata negara lain.

 

Gospel

Penyebaran agama katolik juga merupakan motif pendorong dalam melakukan kolonisasi. Bangsa Spanyol menganggap ini adalah pekerjaan mulia yang dimandatkan kepada mereka oleh vatikan dan paus pada saat itu
Penyebaran agama katolik juga merupakan motif pendorong dalam melakukan kolonisasi. Bangsa Spanyol menganggap ini adalah pekerjaan mulia yang dimandatkan kepada mereka oleh vatikan dan paus pada saat itu

Gospel atau God merupakan istilah yang menggambarkan semangat negara-negara Eropa untuk menyebarkan ajaran agama kristen katolik ke seluruh dunia. Semangat ini sangat ditunjukkan oleh negara Spanyol dalam segala aktivitas eksplorasi dan eksploitasinya di ‘dunia baru’.

Selain karena dampak dari reconquista terhadap kaum moor dari dinasti Almoravid dan Almohads yang masih membekas di ingatan para jendral dan raja Spanyol, ada pula persetujuan dalam bentuk papal bull dari vatikan yang mengamanatkan Spanyol untuk menyebarkan agama katolik ke suku-suku barbar yang ada di ‘dunia baru’.

Umumnya, semboyan gospel diwujudkan dengan membentuk misi-misi katolik di daerah-daerah yang sudah dikuasai. Misi atau missionary/mission ini bertujuan untuk mengajarkan agama katolik kepada masyarakat lokal dan perlahan-lahan mengkonversi mereka.

Bangsa Spanyol percaya bahwa dengan menyebarkan agama katolik ke seluruh dunia, mereka sedang mengerjakan suatu pekerjaan yang suci. Kita sering mendengar bahwa Spanyol sering kali melakukan agresi atas dasar penyebaran agama, bukan semata atas dasar kekayaan atau prestis.

Kepercayaan itulah yang menyebabkan Spanyol rela melakukan penyebaran agama secara paksa ke seluruh belahan dunia. Meskipun sering kali penyebaran agama ini menciptakan perubahan sosial yang positif bagi masyarakat lokal. Tidak jarang juga masyarakat lokal dibunuh dan diperbudak karena tidak mau menganut agama katolik yang dibawa oleh Spanyol.

 

Kesimpulan

Dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya, gold, glory, dan gospel merupakan kristalisasi dari semangat eksplorasi dan eksploitasi yang ditunjukkan oleh bangsa Eropa pada zaman kolonialisme.

Semangat ini memiliki banyak bentuk, mulai dari pembentukan misi katolik, perdagangan budak, perampasan tanah dari suku pribumi, hingga eksploitasi sumber daya alam negara jajahan.

Namun, semua tindakan itu pasti akan bermuara kepada salah satu diantara gold, glory, atau gospel. Bahkan, tidak jarang tindakan kolonialisme dan imperialisme suatu negara bermuara kepada tiga-tiganya. Karena pada zaman itu, garis pembatas antara kejayaan, kekayaan, dan keagamaan sangatlah tipis.

Iqbal Hakim

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *