Genetika Sungai: Concordant dan Discordant

Diposting pada

Sungai pada dasarnya merupakan aliran air yang mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang lebih rendah. Sungai sendiri memiliki banyak jenis pola aliran, sangat tergantung dengan bentang alam yang dilewatinya dan kondisi batuan yang ada disekitarnya.

Selain pola alirannya, sungai juga dapat diklasifikasikan berdasarkan arah aliran dari sungai tersebut. Sebuah sungai yang dipengaruhi oleh topografi wilayah sekitarnya adalah

Genetika Sungai yang Concordant

Sungai concordant pada dasarnya adalah sungai yang alirannya mengikuti dan dipengaruhi oleh bentang alam yang ada disekitarnya. Sungai-sungai berjenis concordant merupakan jenis sungai paling umum di dunia. Nah, untuk arah alirannya sendiri, bisa searah atau berbalik arah terhadap arah perlapisan batuan.

Mungkin pertama kali kita harus mengklarifikasi terlebih dahulu ya, arah aliran disini maksudnya adalah arah aliran sungai relatif terhadap jurus perlapisan batuan yang ada pada lokasi tersebut. Tidak ada sungai yang mengalir dari tempat yang lebih rendah ke tempat yang lebih tinggi (kecuali di One Piece).

Ilustrasi sungai konsekuen, subsekuen, resekuen, dan obsekuen
Ilustrasi sungai konsekuen, subsekuen, resekuen, dan obsekuen
(ESCI 307, Fall 2003, Lecture 3)

Gambar diatas tersebut adalah ilustrasi dari jenis-jenis sungai yang termasuk kedalam sungai concordant beserta dengan lokasi relatifnya terhadap perlapisan batuan. Penjelasan dari tiap-tiap jenis sungai itu akan dijelaskan dibawah ini.

Sungai Konsekuen

Sungai konsekuen adalah sungai yang mengalir searah dengan kemiringan perlapisan batuannya. Aliran sungai ini secara langsung dipengaruhi oleh kondisi topografi dari wilayah sekitarnya.

Nama konsekuen sendiri berasal dari kata consequent yang artinya konsekuensi dari kondisi lereng setempat. Mayoritas sungai-sungai di benua India merupakan sungai Konsekuen.

Pada gambar diatas, kita dapat melihat bahwa sungai konsekuen memiliki arah yang sejajar dengan perlapisan batuan. Selain itu, sungai ini juga mengikuti kelerengan umum dari bentang alam diatas, yaitu miring ke kiri.

 

Sungai Subsekuen

Sungai subsekuen merupakan tributary atau sungai anak dari sungai utama, yang umumnya bersifat konsekuen. Sungai ini berkembang disepanjang suatu zona perlapisan batuan yang non-resisten sehingga mudah ter-erosi dan menciptakan sungai.

Umumnya, sungai subsekuen memiliki umur yang lebih muda dari sungai konsekuen. Contohnya adalah sungai Chambal, Sind, dan Tons yang bergabung dengan sungai Ganga di India.

Dapat dilihat pada gambar diatas bahwa sungai subsekuen terbentuk pada titik temu antar lapisan batuan. Pada lokasi tersebut, terdapat kelemahan dalam bentuk batuan mudah ter-erosi atau rekahan. Sehingga, air mudah mengerosi dan membentuk aliran sungai.

 

Sungai Resekuen

Sungai resekuen adalah anak sungai dari sungai subsekuen. Artinya, sungai resekuen ini berkembang belakangan dibandingkan dengan sungai subsekuennya.

Sungai resekuen sama seperti sungai konsekuen karena arah aliran mereka mengikuti jurus perlapisan batuan dan kemiringan lereng. Namun, sungai ini berada pada perlapisan yang berbeda dengan sungai konsekuen.

Seperti yang dapat dilihat pada gambar diatas, sungai resekuen bermuara pada sungai subsekuen.

 

Sungai Obsekuen

Sungai obsekuen adalah sungai yang arah alirannya berbanding terbalik dengan jurus perlapisan batuan. Sungai seperti ini muncul ketika ada escarpment yang merupakan perlapisan batuan yang tererosi.

Seperti yang dapat dilihat pada gambar diatas, kita dapat melihat bahwa sungai obsekuen terbentuk pada escarpment salah satu lapisan batuan.

Kita juga dapat melihat, meskipun arah alirannya berbanding terbalik dengan konsekuen dan arah perlapisan batuan, sungai ini tidak mengalir keatas. Sungai ini tetap mengalir ke daerah yang lebih rendah dan bermuara di sungai subsekuen.

 

Sungai Insekuen

Sungai insekuen pada dasarnya adalah sungai yang alirannya pada suatu lereng tidak dikontrol oleh faktor kemiringan atau struktur perlapisan batuan yang ada.

 

Genetika Sungai yang Discordant

Berbeda dengan sungai concordant sungai yang tergolong kedalam sungai discordant adalah sungai-sungai yang tidak terlalu dipengaruhi oleh topografi yang ada disekitar sungai tersebut.

Sungai Anteseden

Sungai Anteseden

Sungai anteseden adalah sungai yang muncul terlebih dahulu dibandingkan dengan struktur perlapisan yang terbentuk pada alirannya. Artinya, bentang alam yang ada disekitar sungai tersebut hampir pasti lebih muda dibandingkan dengan sungainya.

Berdasarkan ilustrasi diatas, terdapat 3 proses dalam pembentukan sungai anteseden

  1. Sungai mengalir secara normal pada suatu bentang lahan yang relatif normal
  2. Terdapat aktivitas tektonik yang signifikan di daerah tersebut, sehingga terjadi pengangkatan muka tanah. Terbentuklah hanging wall atau pegunungan yang memotong jalur sungai tersebut
  3. Karena kemampuan erosi sungai yang kuat, sungai tersebut berhasil memotong melewati lapisan batuan yang terangkat tersebut.

Jadi, secara umum dapat disimpulkan bahwa sungai anteseden adalah sungai yang relatif tua terhadap wilayah sekitarnya dan umumnya memiliki laju erosi yang cukup tinggi.

Pada sungai anteseden, umumnya sungai tersebut tetap memiliki pola aliran dendritik meskipun berada pada daerah barisan pegunungan. Seharusnya, pada daerah pegunungan, aliran sungai memiliki sifat trellis karena dipengaruhi oleh kelerengan.

Namun, karena laju erosi vertikal yang kuat, sungai ini dapat mempertahankan dengan baik bentuk alirannya, tanpa terpengaruh oleh topografi tersebut. Hal inilah yang menyebabkan sungai ini disebut sebagai sungai discordant, karena tidak dipengaruhi oleh topografi sekitarnya.

Sungai-sungai yang berada pada pegunungan Himalaya umumnya tergolong sebagai sungai anteseden. Sungai-sungai yang cukup terkenal antara lain adalah sungai Indus, sungai Gangga, dan sungai Brahmaputra.

 

Sungai Superposed

Sungai superimposed

Sungai superposed atau superimposed adalah sungai yang terbentuk diatas suatu lapisan atau bentang alam. Seiring dengan berjalannya waktu, erosi vertikal yang disebabkan oleh sungai ini memotong struktur tersebut sehingga sungai semakin dalam dan mengalir semakin jauh ke arah muara.

Dapat dilihat pada ilustrasi diatas, terdapat 3 tahap terbentuknya sungai superimposed.

  1. Terdapat lapisan batuan yang lebih resisten/berbeda dibandingkan dengan batuan disekitarnya
  2. Lama kelamaan, batuan tersebut tertutup oleh sedimen sehingga berada di bawah tanah. Namun, muncul sungai yang mengalir diatas struktur lapisan tersebut
  3. Seiring dengan berjalannya waktu, erosi vertikal dari sungai mengerosi lapisan sedimen, sehingga akhirnya air sungai juga mengerosi lapisan batuan resisten tersebut.

Berdasarkan penjelasan diatas, kita dapat menarik kesimpulan bahwa sungai superimposed adalah sungai yang terbentuk lebih belakang dibandingkan dengan struktur batuannya.

Namun, daya erosi yang tinggi dari sungai ini berhasil memotong lapisan batuan yang ada, sehingga tercipta sungai seperti yang dapat kita lihat.

Artinya, sungai yang terbentuk di lapisan batuan atas (gambar 2) akan memiliki karakteristik yang sama dengan gambar 3, padahal, struktur batuannya berbeda. Nah, hal ini disebabkan oleh daya erosi vertikal yang sangat tinggi dari sungai tersebut.

Sama seperti anteseden, sungai ini disebut discordant karena tidak dipengaruhi oleh perlapisan batuan dan topografi yang ada disekitarnya. Justru, sungai ini yang mempengaruhi wilayah sekitarnya.

Contoh sungai anteseden adalah sungai Son di daerah Madhya Pradesh India.

 

Referensi

Waugh, David. Geography: an Integrated Approach. Nelson Thornes, 2009.

Iqbal Hakim

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *