Garis Kontur: Pengertian, Peraturan, serta Cara Membuat dan Membacanya

Garis kontur adalah garis yang menghubungkan lokasi-lokasi berbeda yang berada pada ketinggian yang sama. Jika dua lokasi dihubungkan oleh garis kontur yang sama, maka dapat dipastikan kedua lokasi tersebut memiliki ketinggian yang sama.

Garis kontur umumnya digunakan pada peta topografi yang merupakan peta khusus untuk menyajikan informasi mengenai ketinggian dan bentuk rupa bumi. Pada peta batimetri, garis kontur digantikan dengan garis isobath.

Peraturan Dasar Garis Kontur

Dalam membaca dan menggambarkan garis kontur, terdapat beberapa peraturan umum yang harus ditaati. Peraturan tersebut adalah sebagai berikut.

1. Semakin dekat jarak antar garis, semakin terjal daerah tersebut

Karena garis kontur merupakan representasi dari ketinggian suatu lokasi, jarak antar garis kontur menjadi representasi perbedaan ketinggian dan jarak dari suatu lokasi.

Semakin jauh jarak antara dua titik ketinggian, semakin landai lereng yang ada pada daerah tersebut. Hal ini juga berlaku sebaliknya, ketika jarak antar dua titik ketinggian dekat, maka semakin curam lereng yang ada pada daerah tersebut.

Informasi ini dapat digunakan untuk mempermudah pemodelan konstruksi, arsitektur, serta perencanaan wilayah/kota. Selain itu, kelerengan juga sangat penting dalam melakukan navigasi, hiking, serta perencanaan ekspedisi.

 

2. Garis kontur tidak pernah memotong garis kontur lainnya, namun selalu menutup.

Garis kontur tidak akan pernah memotong garis kontur lainnya. Ketika garis kontur memotong, maka dapat diasumsikan bahwa lokasi tersebut memiliki dua nilai ketinggian. Suatu lokasi tidak mungkin memiliki dua nilai ketinggian yang berbeda.

Garis kontur akan selalu menutup dengan garis yang memiliki nilai ketinggian sama. Tidak mungkin garis kontur berhenti tiba-tiba pada suatu ujung, kecuali jika garis tersebut keluar dari area peta.

 

3. Garis kontur jika memotong sungai, akan berbentuk V terbalik dengan arah ke hulu sungai

efek sungai terhadap garis kontur
Efek sungai terhadap garis kontur

Ketika memotong suatu sungai, garis kontur akan cenderung berbentuk V terbalik ke arah hulu sungai. Hal ini terjadi karena garis kontur merepresentaasikan lokasi dengan ketinggian yang sama.

Suatu sungai yang mengalir ke hilir tidak memiliki ketinggian yang sama dengan lokasi sekitarnya. Hal ini terjadi karena sungai memiliki kedalaman, sehingga dasar sungai yang berketinggian sama dengan lokasi sekitarnya ada pada daerah yang lebih ke hulu.

 

4. Garis kontur jika memotong jalan, akan selalu berbentuk U ke arah lokasi yang lebih rendah.

Ketika memotong jalan buatan manusia, garis kontur umumnya akan berbentuk U mengarah ke lokasi yang lebih rendah. Hal ini disebabkan oleh ketinggian jalan yang umumnya lebih tinggi dari lokasi sekitarnya.

 

5. Garis kontur selalu menunjukkan ketinggian yang sama

Garis kontur selalu menunjukkan ketinggian yang sama sepanjang garis tersebut. Tidak mungkin suatu garis garis tiba-tiba berubah nilai ketinggiannya atau terdapat dua nilai ketinggian pada satu garis.

 

Cara Membuat Garis Kontur

Garis kontur dibuat dengan cara memetakan informasi ketinggian suatu obyek yang didapat dari survei dunia nyata dan menginterpretasikannya dengan menggunakan garis.

Ilustrasi Pembuatan Garis Kontur
Ilustrasi Pembuatan Garis Kontur

Dapat dilihat pada garis diatas bahwa pada awalnya, garis kontur berasal dari informasi ketinggian suatu obyek. Informasi tersebut kemudian dipetakan menjadi titik-titik yang nantinya akan dihubungkan dengan garis.

Garis-garis yang ada menghubungkan titik-titik dengan ketinggian yang sama. Garis inilah yang disebut sebagai garis kontur.

 

Cara Membaca Garis Kontur

Garis kontur memiliki korelasi dengan ketinggian asli dari suatu bentang alam. Setiap garis kontur melambangkan nilai ketinggian tertentu dari suatu obyek. Perhatikan gambar dibawah ini

Ilustrasi Korelasi Garis Kontur dengan Obyek
Ilustrasi korelasi antara ketinggain obyek dengan garis kontur (Rei)

Berdasarkan gambar diatas, dapat dilihat bahwa garis-garis membulat yang ada pada peta kontur berkorelasi dengan garis-garis yang ada pada bukit yang merupakan obyek yang dipetakan.

Dari gambar diatas juga dapat diambil kesimpulan bahwa semakin dekat jarak antar garis, semakin terjal pula kelerengan obyek yang dipetakan tersebut.

Garis kontur punggungan dan jurang
Punggungan (ridge) umumnya memiliki kontur U sedangkan jurang V.

Punggungan dan jurang (valley) juga memiliki karakteristik kontur yang berbeda satu dengan yang lainnya. Punggungan umumnya memiliki bentuk kontur yang lebih landai dan berbentuk U, sedangkan jurang umumnya memiliki kontur yang lebih terjal dan berbentuk V.

 

Interval Kontur

Interval kontur adalah perbedaan ketinggian antar dua garis kontur di dunia nyata. Interval kontur dalam satu peta harus sama agar peta dapat diukur dengan akurat.

Interval kontur dapat dihitung dengan menggunakan rumus berikut

CI = Skala Peta : 2000

Pada rumus tersebut, interval kontur memiliki nilai sama dengan skala peta dibagi 2000. Rumus diatas umumnya digunakan ketika hendak menggambar garis kontur pada peta yang skalanya diketahui.

Rumus tersebut pun dapat diubah-ubah sesuai dengan informasi yang ada, berikut adalah variasi rumus tersebut jika ditanya skala peta dan diketahui interval konturnya.

Skala Peta = CI x 2000

 

Indeks Kontur

Indeks kontur adalah garis kontur yang ditebalkan. Indeks kontur berguna untuk memudahkan pembaca peta dalam menganalisa pola kenaikan atau penurunan ketinggian suatu tempat.

Indeks kontur umumnya ditempatkan pada garis kontur keempat atau kelima dalam suatu peta topografi.

 

Kemiringan Lereng

ilustrasi cara menghitung kemiringan lereng
Ilustrasi cara menghitung kemiringan lereng

Kemiringan lereng pada peta dapat dihitung dengan menggunakan informasi jarak antar dua titik serta perbedaan ketinggian antara dua titik.

Perhitungan ini menggunakan rumus segitiga phytagoras sederhana yang mengasumsikan bahwa kemiringan adalah selisih tinggi dibagi dengan jarak antar titik pengukuran.

Kelerengan = Tinggi : Jarak

Rumus diatas akan menghasilkan angka kelerengan yang jika dikalikan dengan 100, akan menjadi persen kelerengan.

Contohnya adalah sebuah sudut dengan jarak antar ketinggian 1m dan perbedaan tinggi 1m. Sudut ini akan memiliki kelerengan 1 dan persentase kelerengan 100%.

Selain itu, terdapat pula rumus yang menghasilkan derajat. Berikut adalah rumus tersebut

Derajat lereng = arctan(Tinggi : Jarak)

Pada rumus diatas, kita akan menggunakan fungsi matematika arcus tangent atau tan-1. Oleh karena itu, perhitungan derajat lereng umumnya digunakan menggunakan software atau kalkulator saintifik.

 

Referensi

Slope

Contour Line

Tinggalkan komentar