Ekonomi Subsisten

Kegiatan ekonomi subsisten adalah kegiatan ekonomi yang tidak didasarkan pada aspek mencari keuntungan dan berfokus pada pemenuhan kebutuhan pribadi dari penduduk.

Pemenuhan kebutuhan ini umumnya dicapai dengan melakukan hunting and gathering, pertanian subsisten, dan barter. Dalam ekonomi subsisten, surplus barang sangatlah kecil, dan hanya digunakan untuk melakukan barter terhadap barang-barang yang sukar untuk diproduksi sendiri. Pada ekonomi subsisten, tidak ada proses industrialisasi.

Sejarah

Dalam sejarah dunia, sebelum adanya kota-kota pertama pada zaman revolusi neolitik, semua orang melakukan ekonomi subsisten. Seiring dengan berjalannya waktu, kemajuan pada bidang ilmu pengetahuan dan laju urbanisasi yang terus meningkat, mulai terciptalah gagasan ekonomi komersial.

Tidak semua orang terekspos ide ekonomi komersial ini, masih banyak penduduk yang tinggal di daerah terpencil, kaum-kaum adat, serta negara-negara miskin yang masih melakukan praktik ekonomi subsisten ini.

Komunitas yang menganut ekonomi subsisten tidak dapat menjadi lebih kaya seiring berjalannya waktu karena tidak ada surplus yang diciptakan, sistem ini hanya bisa berkembang jika diberikan tambahan modal oleh pihak eksternal.

Dampak dari stagnansi ini adalah negara yang masih menggunakan sistem ekonomi subsisten cenderung memiliki pertumbuhan ekonomi yang relatif lebih rendah dibandingkan negara-negara yang menggunakan sistem ekonomi komersial.

Keunggulan

Jika keunggulan suatu sistem ekonomi diukur dari margin keuntungannya, maka ekonomi subsisten dapat dianggap sangat tidak menguntungkan. Namun dalam kasus ekonomi subsisten, keunggulan tersebut tidak dapat diukur dari laba-rugi, melainkan dari terpenuhinya kebutuhan sehari-hari para anggota komunitas.

Salah satu keunggulan dari sistem ekonomi subsisten adalah mayoritas orang terlahir kedalam perannya dalam masyarakat. Contoh dari budaya ini adalah anak dari seorang nelayan, anak tersebut akan cenderung menjadi nelayan lagi jika tidak ada faktor penghambat eksternal maupun internal yang kuat karena setiap hari anak tersebut terpapar oleh gaya hidup seorang nelayan.

Kejelasan mengenai peran dalam suatu komunitas dan tidak adanya surplus barang yang berlebihan menciptakan sebuah pasar yang cenderung tidak terlalu kompetitif, dan juga menghasilkan generasi yang tidak materialistis.

Dalam sistem ekonomi subsisten, keputusan mengenai aktivitas ekonomi kedepannya dimusyawarahkan bersama, atau diputuskan oleh ketua suku yang dianggap terpercaya dan dapat mengemban amanah.

Oleh karena itu, dalam sistem ini, umumnya kegiatan-kegiatan ekonominya bersifat adil dan menguntungkan segala pihak.

Keunggulan yang jarang diperhatikan dari sistem ekonomi subsisten adalah dampak lingkungannya. Karena masih menggunakan peralatan sederhana dan tidak menggunakan bahan kimia ataupun bahan bakar fosil, umumnya mereka tidak bersifat destruktif terhadap lingkungan sekitarnya.

Kelemahan

Walaupun memiliki banyak kelebihan, kebanyakan orang beranggapan sistem ekonomi subsisten memiliki lebih banyak kekurangan. Kekurangan utama yang dimiliki oleh sistem ini adalah ketergantungan yang tinggi terhadap sumber daya yang diberikan oleh alam.

Hal ini dapat menyebabkan krisis jika terjadi perubahan drastis terhadap lingkungan sekitar, seperti yang terjadi pada saat musim kemarau, musim hujan, banjir, dan perubahan iklim.

Selain lingkungan, sumber daya manusia dalam sistem ekonomi subsisten juga sangat terbatas. Jika ada anggota pekerja yang sakit hingga tidak bisa berkerja, maka produksi pada bidang kerjanya akan mengalami penurunan, hal ini dapat menyebabkan seluruh komunitas terancam kekurangan bahan yang dihasilkan oleh bidang tersebut.

Apakah ekonomi subsisten penting?

Ekonomi subsisten penting untuk pelestarian budaya yang berkaitan dengan kegiatan ekonomi subsisten. Kegiatan-kegiatan ini merupakan sarana bagi budaya-budaya tersebut untuk melatih kebudayaan mereka setiap harinya dan menjaga agar kebudayaan tersebut tidak hilang. Banyak suku-suku di dunia ini yang masih mengandalkan ekonomi subsisten untuk bertahan hidup.

Orang-orang Inuit yang tinggal di daerah Arktik masih melakukan praktik ekonomi subsisten. Mereka dapat ditemukan di daerah Greenland, Alaska, dan Kanada. Mereka dapat bertahan hidup dengan melakukan barter dan melakukan hunting and gathering pada wilayah sekitar.

 

Kegiatan dalam Ekonomi Subsisten

Hunting and Gathering

Berburu dan mengambil makanan dari alam. Kegiatan ini umumnya dilakukan oleh komunitas-komunitas yang masih sangat tradisional seperti bushman di gurun kalahari, dan suku-suku di hutan amazon.

Artisanal fishing

Kegiatan artisanal fishing meliputi penangkapan ikan dengan metode-metode tradisional dan bertujuan untuk memenuhi kebutuhan pribadi, keluarga, ataupun komunitas.

Agrikultur

Kegiatan agrikultur subsisten umumnya terbagi menjadi hortikultur dan subsistence agriculture. Hortikultur adalah penanaman tanaman dengan memanfaatkan alat-alat sederhana, sedangkan subsistence agriculture adalah versi hortikultur yang lebih padat karya (memerlukan banyak orang).

Pastoralisme

Pastoralisme adalah kegiatan membudidayakan hewan ternak, kegiatan ini dapat dibagi menjadi tiga yaitu pastoral nomadism, transhumance/agro pastoralism, dan agrikultur ternak (ranch).

Pastoral nomadism adalah istilah yang digunakan ketika komunitas manusia mengikuti pergerakan hewan ternak yang selalu berpindah-pindah. Agro-pastoralism adalah istilah yang digunakan ketika hanya sebagian komunitas manusia yang mengikuti pergerakan hewan ternak, sedangkan sebagian lagi menetap di desa asal mereka. Ranching adalah istilah yang digunakan ketika ternak-ternak tersebut tidak bergerak bebas, mereka umumnya terkurung di balik pagar atau batas teritorial lainnya. Mayoritas peternak pada zaman modern ini menggunakan sistem ranching.

Distribusi

Distribusi dalam komunitas subsisten terbagi menjadi tiga yaitu redistribusi, reciprocity, potlatching, dan LETS.

Redistribusi adalah kegiatan untuk menyamaratakan tingkat ekonomi suatu komunitas. Ketika ada satu kelompok yang lebih kaya, mereka akan diminta untuk berbagi dengan komunitas yang lebih miskin agar terjadi kesetimbangan. Hal ini tidak menjadi masalah bagi komunitas subsisten asalkan mereka tetap dapat hidup berkecukupan karena mereka tidak mementingkan uang dan harta.

Reciprocity adalah ritual pertukaran barang, hadiah, atau jasa antara individual dengan kasta sosial yang sama. Reciprocity memiliki peran penting dalam memotivasi adanya pertukaran, kerjasama, dan kesepakatan dalam kegiatan sehari-hari.

Contoh dari reciprocity adalah ketika kita memberikan hadiah kepada orang lain dengan harapan orang tersebut akan merespon dengan memberikan hadiah kepada kita pula.

Potlatch adalah ritual dimana seseorang yang disebut sponsor memberikan barang secara gratis kepada orang lain dengan harapan dapat meningkatkan prestise dirinya.

Potlatch umumnya dilakukan ketika ada momen-momen khusus seperti kelahiran, kematian, perpindahan rumah, pernikahan, dan panen yang berlebih.

Local Exchange Trading System atau LETS merupakan organisasi lokal yang bersifat demokratis dan non profit. Organisasi ini bertujuan untuk memberikan informasi dan pengarsipan terkait dengan kegiatan transaksi antar anggota organisasi ataupun dengan orang luar.

Sistem LETS memungkinkan seseorang untuk menentukan harga dari jasa yang ditawarkan, memperkirakan harga sekarung beras, atau mencari apakah ada yang ingin melakukan barter.

Parasitis

Gaya hidup parasitis adalah ketika sebuah komunitas hidup dari hasil komunitas lainnya. Contoh dari parasitis adalah perompak, bajak laut, dan scavenger atau para pemungut ‘sampah’ .

Satu pemikiran pada “Ekonomi Subsisten”

Tinggalkan komentar