Butir-Butir Pancasila dan Penerapannya dalam Kehidupan

Diposting pada

Butir Pancasila merupakan rincian atau penjelasan mendetail mengenai tiap-tiap sila yang ada di Pancasila. Butir-butir ini nantinya dapat digunakan sebagai pedoman bagi bangsa maupun negara Indonesia dalam mengamalkan dengan benar nilai dan makna Pancasila.

Tanpa adanya butir-butir yang menjelaskan secara detail aplikasi dari setiap sila Pancasila, maka akan sulit bagi Pancasila untuk menjalankan fungsinya sebagai jiwa dan landasan berfikir serta berkegiatan bagi bangsa Indonesia.

Daftar Isi

Pancasila

Pancasila merupakan dasar negara Indonesia yang memiliki 5 sila. Setiap sila tersebut memiliki lambangnya tersendiri yang bertujuan untuk menggambarkan makna dan nilai yang terkandung dalam setiap sila.

Pancasila sendiri merupakan ideologi terbuka, yang bebas dikombinasikan dengan ideologi apapun, asalkan tidak menyalahi nilai dan makna dasar yang terkandung dalam Pancasila. Oleh karena itu, sudah sepatutnya semua orang mengetahui apa sebenarnya isi dari tiap butir yang ada pada Pancasila, serta bagaimana penerapannya dalam kehidupan sehari hari.

Berdasarkan ketetapan MPR No. 11/MPR/1978 mengenai Ekaprasetia Pancakarsa, diuraikanlah kelima asas dalam Pancasila menjadi 36 butir yang menjadi sebuah pedoman praktis pelaksanaan Pancasila dikehidupan sehari – hari.

Tetapi pada perkembangannya, 36 butir pedoman tersebut diperbarui, tepatnya sejak tahun 2003 melalui Tap MPR No. I/MPR/2003. 36 butir pedoman ini ditambahkan sehingga menjadi 45 butir Pancasila. Penjabaran jumlah dan isi butir Pancasila untuk setiap sila adalah sebagai berikut

  • Sila pertama dijabarkan menjadi 7 butir
  • Sila kedua dijabarkan menjadi 10 butir
  • Sila ketiga dijabarkan menjadi 7 butir
  • Sila keempat dijabarkan menjadi 10 butir
  • Sila kelima dijabarkan menjadi 11 butir

Sila Pertama: Ketuhanan yang Maha Esa

Ketuhanan yang maha Esa
Sila Pertama: Ketuhanan yang Maha Esa (Pexels)

1. Bangsa Indonesia menyatakan kepercayaanya dan ketaqwaanya kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Penerapan: Meyakini adanya Tuhan Yang Maha Esa dan menjalankan perintahnya dalam kegiatan sehari-hari. Berdasarkan butir ini, seharusnya setiap warga Indonesia memiliki keyakinan akan Ke-Tuhan-an Yang Maha Esa dan percaya serta bertaqwa kepada Tuhan tersebut.

 

2. Manusia Indonesia percaya dan taqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.

Penerapan: Meyakini Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan kepercayaannya masing-masing, menjalankan tuntutan dan larangan kepercayaan yang dianut, serta tidak mengganggu kepercayaan orang lain.

 

3. Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama antara pemeluk agama dengan penganut kepercayaan yang berbeda-beda terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

Penerapan: Menghormati dan mau untuk berkerjasama serta menjalin hubungan yang baik dengan penganut kepercayaan lain dalam kehidupan sehari-hari.

Kita tidak boleh diskriminatif dan tidak hormat kepada orang-orang yang memiliki agama atau kepercayaan yang berbeda dengan kita, terlepas dari kita merupakan agama minoritas ataupun mayoritas.

 

4. Membina kerukunan hidup di antara sesama umat beragama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa

Penerapan: Meskipun berbeda agama, kita tetap harus menjalin hubungan baik dan menjaga kerukunan, karena, pada dasarnya kita adalah satu bangsa, yaitu bangsa Indonesia.

Jika butir Pancasila ini tidak diterapkan, maka Indonesia yang sangat beragam budaya, kepercayaan, dan agamanya dapat hancur seketika, jauh dari harapan para pendiri bangsa kita.

 

5. Agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa adalah masalah yang menyangkut hubungan pribadi manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa.

Penerapan: Hubungan agama adalah hubungan personal antar individu, tidak layak bagi orang lain untuk mengintervensi hubungan seseorang dengan Tuhan-nya atau agama nya. Oleh karena itu, kita harus saling menghormati setiap orang dalam hak nya beragama, dan setiap orang bebas untuk memilih agama apa yang hendak dianutnya.

 

6. Mengembangkan sikap saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaanya masing masing

Aspek Keagamaan Sangat Kental di Indonesia
Aspek Keagamaan Sangat Kental di Indonesia. Jangan Sampai Kita Merusaknya dengan Fanatisme Buta dan Pemaksaan Dalam Beragama (Pexels)

Penerapan: Ketika ada pemeluk agama lain sedang beribadah, kita harus menghormatinya dan mengindari aktivitas yang dapat mengganggu mereka.

Contohnya adalah menghindari mengadakan konser dekat dengan masjid saat muslim sedang menjalankan sholat jum’at dan sholat ied, katolik ketika mengadakan misa, atau ummat hindu ketika mereka mengadakan hari nyepi.

 

7. Tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa kepada orang lain.

Penerapan: Seperti yang sudah dijelaskan pada butir 5, agama dan kepercayaan seseorang merupakan hal pribadi antara dia dengan Tuhan-nya.

Oleh karena itu, kita sebagai warga negara tidak boleh mengintervensi dan memaksakan agama atau kepercayaan kepada warga negara lainnya yang berbeda kepercayaan atau agamanya.

 

Sila Kedua: Kemanusiaan yang Adil dan Beradab

Meskipun kita berbeda-beda, tetapi kita tetap satu
Meskipun kita Berbeda-Beda, tetapi kita Tetap Satu (Pexels)

1. Mengakui dan memperlakukan manusia sesuai dengan harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa.

Penerapan: Seharusnya, kita sebagai warga negara Indonesia menghormati dan memperlakukan sesama dengan terhormat dan bermartabat. Semua orang memiliki hak asasi yang melekat karena merupakan ciptaan Tuhan, oleh karena itu, kita juga harus menghormati hak-hak tersebut.

2. Mengakui persamaan derajat, persamaan hak dan kewajiban asasi setiap manusia, tanpa membeda-bedakan suku, keturunan, agama, kepercayaan, jenis kelamin, kedudukan sosial, warna kulit dan sebagainya.

Penerapan: Kita harus mengakui dan menghormati adanya perbedaan diantara manusia, khususnya warga negara Indonesia. Indonesia terdiri dari ribuan suku yang memiliki budaya dan tradisi yang berbeda-beda, sehingga terdapat keragaman budaya yang sangat tinggi di Indonesia.

Sesuai dengan slogan kita, bhinneka tunggal ika, berbeda-beda itu boleh, namun harus tetap satu bangsa dan satu negara, Indonesia. Keberagaman ini merupakan kekuatan Indonesia yang harus selalu dijaga.

3. Mengembangkan sikap saling mencintai sesama manusia.

Penerapan: Sebaiknya, kita saling mencintai sesama manusia, jangan sampai ada benci diantara kita karena sama-sama merupakan warga Indonesia dan ciptaan Tuhan YME. Kecintaan ini nantinya akan sangat berguna untuk mengembangkan masyarakat yang rukun dan madani

4. Mengembangkan sikap saling tenggang rasa dan tepa selira.

Penerapan: Tenggang rasa dan tepa selira memiliki makna yang mirip, yaitu mencoba memahami dan menjaga perasaan orang lain di sekitar kita. Hal ini sangat penting untuk mewujudkan masyarakat yang rukun.

Contohnya adalah dengan tidak bergosip mengenai tetangga yang sedang mengalami musibah, atau mengikuti perayaan yang diadakan oleh saudara kita untuk menghormatinya

5. Mengembangkan sikap tidak semena-mena terhadap orang lain.

Kita Harus Memperlakukan Orang Lain Layaknya Kita Ingin Diperlakukan Oleh Orang Tersebut
Kita Harus Memperlakukan Orang Lain Layaknya Kita Ingin Diperlakukan oleh Orang Tersebut (Pexels)

Penerapan: Tidak boleh memperlakukan orang lain sesuka kita tanpa memperhatikan keinginan, kebutuhan, ataupun perasaan orang tersebut. Kita harus mencoba memposisikan diri kita sebagai orang tersebut, seperti yang sudah dijelaskan pada butir keempat, harus ditumbuhkan sikap tepa selira.

6. Menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.

Penerapan: Kita sebagai masyarakat harus sadar dan mau untuk mengamini serta melaksanakan nilai-nilai kemanusiaan yang terkandung dalam Pancasila maupun dokumen hak asasi manusia lainnya yang beredar di masyarakat.

7. Gemar melakukan kegiatan kemanusiaan.

Penerapan: Membantu orang lain ketika mereka mengalami kesusahan. Contohnya adalah mengikuti kegiatan volunteer seperti mengajar di daerah terpencil, menjadi tim relawan bencana, atau menggalakan dan menyalurkan bantuan bagi teman-teman yang kurang beruntung.

8. Berani membela kebenaran dan keadilan.

Penerapan: Kita harus terus menjunjung tinggi kebenaran dan keadilan, meski bukan dalam posisi mayoritas, karena, jumlah bukan menjadi penentu benar atau salah.

Selain itu, kita juga harus bisa bijak dan adil dalam memandang suatu masalah dan menentukan benar salahnya, seperti kata pepatah, kita harus “merdeka sejak dalam pikiran

9. Bangsa Indonesia merasa dirinya sebagai bagian dari seluruh umat manusia.

Penerapan: Kita harus merasa bahwa diri kita merupakan bagian dari bangsa Indonesia, dan bangsa Indonesia harus merasa dirinya menjadi bagian dari seluruh umat manusia. Ketika terjadi kejahatan dan penindasan kepada suatu kaum, maka kita harus membela kaum tersebut, sesuai dengan nilai-nilai Pancasila kita.

Contoh nyata dari penerapan butir ini adalah ketika Indonesia dan rakyatnya mengecam persekusi suku Rohingya di Myanmar. Persekusi yang dilakukan oleh pemerintah Myanmar tidak sesuai dengan sila kemanusiaan yang adil dan beradab, serta keadilan sosial bagi seluruh rakyat.

Contoh lainnya yang lebih dekat adalah ketika teman-teman kita di Aceh dan Palu mengalami musibah, banyak lapisan masyarakat, termasuk mahasiswa dan organisasi masyarakat (ormas) yang berbondong-bondong memberikan bantuan. Bantuan yang diberikan bermacam-macam, mulai dari material, uang, hingga tenaga sukarela.

10. Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama dengan bangsa lain.

Penerapan: Manusia pada dasarnya merupakan makhluk social yang tidak dapat hidup dan memenuhi seluruh kebutuhannya secara mandiri. Oleh karena itu, kita harus menjalin kerjasama dengan manusia lain, termasuk bangsa dan negara lain.

Agar tercipta kerjasama yang baik, kesepakatan yang dibentuk harus dilandasi oleh asas saling menghormati dan asas kepercayaan. Sehingga, kita sebagai masyarakat Indonesia harus mulai membiasakan diri untuk saling menghormati dan memiliki kesadaran untuk bekerjasama yang tinggi.

 

Sila Ketiga: Persatuan Indonesia

Sila Ketiga: Persatuan Indonesia (Pexels)

1. Mampu menempatkan persatuan, kesatuan, serta kepentingan dan keselamatan bangsa dan negara sebagai kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan golongan.

Penerapan: Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, kita harus mampu mementingkan kepentingan bersama, yaitu kepentingan bangsa Indonesia diatas kepentingan individu dan golongan kita. Jika kita mementingkan kepentingan golongan dan pribadi, maka akan banyak terjadi perselisihan dan perpecahan.

Contoh paling nyata dari butir ini yang harus dihindari adalah tindakan korupsi. Korupsi merupakan tindakan yang sangat merugikan negara, karena kita mengambil uang negara dan memasukkannya kedalam kantong kita dan teman-teman kita sendiri.

Kita tidak sadar bahwa tindakan kita secara tidak langsung akan mengurangi jumlah uang yang dapat disalurkan untuk membantu warga negara yang lain, baik dalam bentuk subsidi, pembangunan infrastruktur, atau program/proyek unggulan lainnya.

2. Sanggup dan rela berkorban untuk kepentingan negara dan bangsa apabila diperlukan.

Penerapan: Butir Pancasila ini menyerukan kepada kita agar mau dan rela untuk berkorban demi kepentingan negara dan bangsa jika diperlukan. Contoh pengorbanan yang mungkin kita harus lakukan adalah menjadi relawan militer jika bangsa Indonesia diserang oleh pihak asing.

Kita juga diharapkan untuk kembali ke Indonesia meskipun sudah sukses dan mapan diluar, agar dapat membangun bangsa dan negara kita menjadi lebih baik.

3. Mengembangkan rasa cinta kepada tanah air dan bangsa.

Penerapan: Kita harus cinta kepada tanah air Indonesia, karena pada dasarnya, kita merupakan warga negara Indonesia dan Indonesia adalah tempat kelahiran dan tempat hidup dan berkembang kita.

Selain cinta tanah air, kita juga harus cinta kepada bangsa Indonesia, kepada sesama teman, saudara, dan tetangga kita. Kedua sikap ini dapat menumbuhkan jiwa patriot yang sangat penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

4. Mengembangkan rasa kebanggaan berkebangsaan dan bertanah air Indonesia.

Penerapan: Jika pada butir ketiga kita dituntut untuk cinta kepada tanah air dan bangsa, pada butir ini kita dituntut untuk bangga pada tanah air dan bangsa Indonesia. Kebanggaan berarti kita mau mengakui dengan senang hati bahwa Indonesia adalah tanah air dan bangsa kita.

Kita merasa senang dan tersanjung ketika orang-orang mengasosiasikan diri kita dengan bangsa Indonesia. Kebanggaan ini sangat penting untuk menumbuhkan sense of belonging dan sense of pride menjadi bangsa Indonesia bagi seluruh masyarakatnya.

Contohnya adalah Susi Susanti yang dengan bangga mengakui dirinya sebagai warga Indonesia. Contoh lainnya adalah BJ. Habibie yang meskipun ditawari kewarganegaraan Jerman atas kontribusinya kepada industry dan sains negara tersebut, tetap teguh dan dengan bangga menyebutkan bahwa dirinya adalah orang Indonesia.

5. Memelihara ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

Penerapan: Butir Pancasila ini bermakna bahwa bangsa Indonesia harus berpartisipasi dalam menjaga ketertiban dunia berdasarkan asas-asas Pancasila yang antara lain adalah kemerdekaan, perdamaian, dan keadilan sosial. Kita sebagai masyarakat Indonesia idealnya turut mendukung upaya-upaya yang dilakukan pemerintah untuk mewujudkan hal tersebut.

Mengapa hal ini penting? karena pada dasarnya, semua orang, terlepas bangsa dan negaranya apa, berhak untuk merasakan kemerdakaan, perdamaian, dan keadilan sosial. Kita sebagai bangsa Indonesia yang menganut Pancasila, seharusnya membantu mereka agar dapat mencapai hal tersebut.

Contoh nyatanya adalah dengan mengirimkan pasukan perdamaian ke daerah-daerah konflik di Timur Tengah dan Afrika untuk menjaga perdamaian negara yang masih belum stabil. Contoh lainnya adalah advokasi kasus persekusi kaum Rohingya di Myanmar yang dilakukan oleh pemerintahan Indonesia di forum PBB dan mahkamah internasional.

6. Mengembangkan persatuan Indonesia atas dasar Bhinneka Tunggal Ika.

Meskipun kita Berbeda-beda, Kita harus Tetap Satu
Meskipun Kita Berbeda-beda, tetapi Kita Harus Tetap Satu

Penerapan: Dalam mewujudkan persatuan Indonesia, kita harus selalu merujuk kepada semboyan kita yaitu Bhinneka Tunggal Ika, atau berbeda-beda tetapi tetap satu. Artinya, kita tidak boleh membeda-bedakan orang atas dasar suku, warna kulit, ras, agama, ataupun golongan. Karena, pada dasarnya kita sama-sama orang Indonesia.

7. Memajukan pergaulan demi persatuan dan kesatuan bangsa.

Penerapan: Kita harus bergaul dengan semua elemen masyarakat Indonesia, tanpa memandang golongan, agama, suku, dan rasnya. Masyarakat yang memiliki pergaulan yang erat adalah masyarakat yang kuat, sehingga dapat menunjang cita-cita persatuan dan kesatuan bangsa.

 

Sila Keempat: Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan

Sila Keempat: Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan
Sila Keempat: Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan

1. Sebagai warga negara dan warga masyarakat, setiap manusia Indonesia mempunyai kedudukan, hak dan kewajiban yang sama.

Penerapan: Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, setiap warga negara Indonesia memiliki kedudukan, hak dan kewajiban yang sama, tidak ada yang lebih dan tidak ada yang kurang. Pemulung dan pejabat sama sama memiliki hak untuk sejahtera dan kewajiban untuk membela negara.

2. Tidak boleh memaksakan kehendak kepada orang lain.

Penerapan: Butir Pancasila ini menjelaskan bahwa, sebagai warga negara yang baik, kita harus menyadari bahwa tiap orang memiliki kehendaknya masing-masing. Oleh karena itu, kita tidak boleh memaksakan kehendak kita kepada orang lain, apalagi dengan menggunakan ancaman ataupun kekerasan.

3. Mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan untuk kepentingan bersama.

Penerapan: Di Indonesia, semua keputusan idealnya diambil berdasarkan musyawarah mufakat untuk mendapatkan hasil yang terbaik dan menguntungkan bagi semua pihak. Jika permusyawaratan tidak berhasil menghasilkan mufakat, maka dapat ditempuh jalur pemungutan suara untuk mendapatkan hasil yang terbaik bagi mayoritas orang.

4. Musyawarah untuk mencapai mufakat diliputi oleh semangat kekeluargaan.

Penerapan: Dalam melakukan musyawarah mufakat, perlu dikedepankan aspek kekeluargaan. Artinya, kita tidak boleh memaksa, mengancam, ataupun melakukan tindakan-tindakan berlebihan dalam bermusyawarah untuk memenangkan pendapat kita atau malah membungkan pendapat orang lain.

Selain itu, ketika sudah terdapat kesepakatan dari musyawarah, maka semua pihak harus menghormati keputusan tersebut dan rela untuk mengikutinya. Jangan sampai ada yang membangkang atau mengkhianati hasil yang sudah ada.

5. Menghormati dan menjunjung tinggi setiap keputusan yang dicapai sebagai hasil musyawarah.

Penerapan: Seperti yang sudah dijelaskan pada butir ke empat, musyawarah yang dilakukan harus berdasarkan kekeluargaan, sehingga menguntungkan semua pihak. Setelah tercapai sebuah kesepakatan, maka semua pihak yang terlibat harus menghormati dan mematuhi kesepakatan tersebut, karena mereka jugalah yang menyetujuinya.

6. Dengan i’tikad baik dan rasa tanggung jawab menerima dan melaksanakan hasil keputusan musyawarah.

Jika sudah tercapai hasil musyawarah, kita harus menerima dan menjalankannya dengan bertanggungjawab serta itikad baik.
Jika sudah tercapai hasil musyawarah, kita harus menerima dan menjalankannya dengan bertanggungjawab serta itikad baik.

Penerapan: Seperti yang sudah dijelaskan pada butir ke empat dan ke lima, seluruh hasil musyawarah merupakan keputusan bersama yang harus dipertanggungjawabkan secara bersama pula.

Oleh karena itu, kita harus ikhlas menerima keputusan akhir yang diambil dan melaksanakan hasil tersebut dengan sebaik-baiknya. Jangan sampai terdapat dendam atau itikad buruk untuk menggagalkan pelaksanaan keputusan yang telah disepakati dalam forum musyawarah.

7. Di dalam musyawarah diutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan golongan.

Penerapan: Butir Pancasila ini menjelaskan bahwa dalam melakukan musyawarah, kita harus dapat melihat gambar yang lebih besar. Bisa jadi apa yang kita mau tidak baik bagi orang lain dan bangsa Indonesia secara umum. Oleh karena itu, kita harus mengesampingkan ego kita ketika melakukan musyawarah untuk mufakat.

Contohnya adalah kita sebagai perusahaan sawit, kita ingin melakukan ekspansi kebun, agar murah kita menginginkan membakar hutan saja. Namun, warga setempat dan pemerintah daerah kurang setuju karena dapat merusak lingkungan. Kita harus melihat gambar yang lebih besar, yaitu menjaga lingkungan, jangan hanya melihat kepentingan sendiri.

Contoh lainnya adalah ketika kita merupakan perusahaan yang melakukan ekspor-impor untuk bahan mentah batubara. Semakin banyak kita melakukan ekspor, tentu saja semakin untung perusahaan kita. Namun, pemerintah merasa bahwa ada baiknya kita mementingkan kebutuhan PLN dibandingkan dengan pasar ekspor, karena sedang ada ekspansi PLTU.

Dalam meja diskusi, ada baiknya kita memperhatikan kepentingan yang lebih besar yaitu kepentingan bangsa Indonesia untuk menjaga ketahanan listrik dan sumber daya alamnya agar dapat memenuhi kebutuhan rakyatnya.

8. Musyawarah dilakukan dengan akal sehat dan sesuai dengan hati nurani yang luhur.

Penerapan: Dalam melakukan musyawarah, kita harus senantiasa menjaga emosi kita, agar tidak mempersulit diri kita maupun rekan diskusi kita dalam menentukan solusi terbaik. Karena, pada dasarnya, negosiasi yang baik adalah negosiasi yang dilakukan dengan kepala dingin.

Selain itu, kita juga tidak boleh masuk kedalam musyawarah dengan niat buruk untuk merugikan suatu pihak. Hal ini tidak sesuai dengan tuntutan untuk memiliki hati nurani yang luruh saat bermusyawarah.

9. Keputusan yang diambil harus dapat dipertanggungjawabkan secara moral kepada Tuhan Yang Maha Esa, menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia, nilai-nilai kebenaran dan keadilan mengutamakan persatuan dan kesatuan demi kepentingan bersama.

Penerapan: Butir Pancasila ini menjelaskan bahwa dalam setiap musyawarah yang dilakukan, kita harus tetap mengingat nilai-nilai Pancasila yang terkandung dalam kelima silanya, yaitu ketuhanan yang maha esa, keadilan sosial, persatuan Indonesia, dan kemanusiaan yang adil dan beradab.

Setiap keputusan yang diambil harus sesuai dengan norma norma agama yang ada, asas keadilan sosial, serta memperhatikan asas-asas kemanusiaan yang melekat dalam hak asasi. Selain itu, kebijakan yang diambil juga tidak boleh menjerumuskan bangsa Indonesia kedalam perpecahan.

10. Memberikan kepercayaan kepada wakil-wakil yang dipercayai untuk melaksanakan pemusyawaratan.

Penerapan: Terkadang, tidak semua forum musyawarah dapat dibuka secara umum kepada masyarakat luas, mungkin karena faktor efisiensi yang berkurang, kebutuhan akan hasil yang cepat, atau memang karena ada asumsi bahwa tidak semua orang mengerti pokok pembahasan yang ada dalam forum musyawarah tersebut.

Oleh karena itu, kita harus mempercayai wakil-wakil yang sudah kita pilih sendiri dalam pemilihan umum, untuk mewakilkan kepentingan-kepentingan kita dalam forum musyawarah berskala besar, seperti nasional atau provinsi.

Apakah wakil tersebut selalu dapat dipercaya untuk mendukung kepentingan kita? Jawabannya tidak, pasti ada saatnya harus dicapai kompromi dengan pihak lain. Contohnya adalah pembangunan jalan tol yang kerap harus menggusur beberapa rumah demi kepentingan koneksi antar provinsi dan sebagai jalur transport bagi ratusan ribu orang setiap harinya.

 

Sila Kelima: Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia

Sila Kelima: Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia
Sila Kelima: Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia

1. Mengembangkan perbuatan yang luhur, yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan kegotongroyongan.

Penerapan: Setiap warga negara Indonesia wajib untuk bersikap luhur dan berkegiatan yang mencerminkan sikap kekeluargaan dan kegotongroyongan. Selain itu, kita sebagai warga negara juga wajib membina suasana kekeluargaan dan gotong royong dalam kehidupan sehari-hari kita.

Contohnya adalah dengan menghidupkan budaya silaturahim antar tetangga, budaya kerja bakti, budaya gotong royong, dan budaya melakukan aktivitas komunal untuk menjaga persahabatan dan hubungan antar tetangga.

2. Mengembangkan sikap adil terhadap sesama.

Penerapan: Kita harus senantiasa bersikap adil terhadap orang-orang disekitar kita. Jangan sampai karena kita tidak suka dengan seseorang maka kita senantiasa melakukan tindakan atau membuat keputusan yang merugikannya. Jangan pula sebaliknya, karena kita suka dengan seseorang, kita bersikap tidak adil kepada orang lain hanya untuk menyenangkannya.

3. Menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban.

Penerapan: Dalam kegiatan berbangsa dan bernegara, setiap warga negara memiliki hak dan kewajiban, keduanya harus seimbang, kita tidak boleh menuntut lebih tanpa memenuhi seluruh kewajiban kita.

Contoh yang paling mendasar dari hak dan kewajiban adalah mengemudi, kita tidak dapat menuntuk hak mengemudi dengan tenang dan nyaman jika kita melanggar aturan lalu lintas yang sudah ada dan menjadi kewajiban kita untuk mentaati.

4. Menghormati hak orang lain.

Penerapan: Semua orang memiliki hak, kita boleh saja menuntut hak kita asal itu tidak mengganggu hak orang lain. Contohnya adalah mengantri, kita memiliki hak untuk dilayani oleh fasilitas puskesmas public, namun, kita tidak boleh menyerobot antrian karena semua orang juga memiliki hak dilayani yang sama dengan kita.

5. Suka memberi pertolongan kepada orang lain agar dapat berdiri sendiri.

Penerapan: Butir Pancasila ini menunjukkan bahwa salah satu nilai yang erat di bangsa Indonesia adalah kekeluargaan dan gotong royongnya, kita idealnya membantu sesama agar bisa berdikari (berdiri diatas kaki sendiri).

Contohnya adalah dengan membuka lapangan pekerjaan dan mempekerjakan orang-orang disekitar kita agar mereka dapat memiliki penghasilan tetap dan mendapatkan hidup yang lebih baik.

6. Tidak menggunakan hak milik untuk usaha-usaha yang bersifat pemerasan terhadap orang lain.

Penerapan: Dalam menjalankan hak kita, kita tidak boleh melakukan pemerasan kepada orang lain. Contohnya adalah menjalankan usaha peminjaman uang namun dengan bunga yang sangat tinggi layaknya lintah darat. Jika peminjam tidak dapat membayar, maka kita menyewa debt collector untuk menerornya. Tindakan ini tidak baik dan kurang sesuai dengan nilai nilai Pancasila.

7. Tidak menggunakan hak milik untuk bertentangan dengan atau merugikan kepentingan umum.

Penerapan: Butir Pancasila ini menjelaskan bahwa dalam menjalankan hak kita, kita tidak boleh merugikan orang lain. Contohnya adalah sebuah pabrik yang beroperasi di dekat sungai, namun membuang limbahnya di sungai agar murah dan cepat hilang. Tindakan ini merupakan eksternalitas negatif yang memiliki dampak buruk bagi lingkungan sekitarnya.

8. Suka bekerja keras.

Penerapan: Bangsa Indonesia, jika ingin mencapai keadilan sosial bagi seluruh rakyat, harus mau bekerja keras untuk membangun perekonomian bangsa. Kerja keras ini meliputi seluruh elemen kehidupan kita, mulai dari belajar, berkerja, hingga berorganisasi.

9. Suka menghargai hasil karya orang lain yang bermanfaat bagi kemajuan dan kesejahteraan bersama.

Penerapan: Butir Pancasila ini menjelaskan bahwa bangsa Indonesia bukan merupakan bangsa yang gemar plagarisme. Jika ada karya yang bermanfaat dan inovatif, maka harus kita hargai dan teliti Bersama, apakah ada yang bisa dikembangkan lebih lanjut atau tidak.

10. Suka melakukan kegiatan dalam rangka mewujudkan kemajuan yang merata dan berkeadilan sosial.

Penerapan: Bangsa Indonesia sudah selayaknya senang dan aktif berpartisipasi dalam aktivitas yang mewujudkan kemajuan merata dan keadilan sosial. Aktivitas ini bermacam-macam, mulai dari menjadi relawan, berdonasi, membaktikan keilmuan yang dimiliki, hingga kita membangun lapangan pekerjaan bagi masyarakat luas.

11. Tidak menggunakan hak milik untuk hal-hal yang bersifat pemborosan dan gaya hidup mewah.

Masih Banyak Saudara Kita yang Kurang Beruntung. Oleh Karena Itu, Sebaiknya Kita TIdak Berfoya-foya dan menghamburkan uang
Masih Banyak Saudara Kita yang Kurang Beruntung. Oleh Karena itu, Sebaiknya Kita Tidak Berfoya Foya dan Menghamburkan Uang

Penerapan: Soekarno, penggagas Pancasila sangat tidak menyukai gaya hidup bermewah-mewahan dan menghamburkan harta jika tindakan tersebut tidak memiliki dampak sosial yang jelas. Beliau ingin bangsa Indonesia bersifat marhaenisme atau mendukung wong cilik yang kurang beruntung.

Butir Pancasila ini bertujuan untuk mewujudkan keinginan tersebut. Sebaiknya, kita sebagai warga negara menggunakan harta kita untuk aktivitas yang berguna, seperti membuka lapangan usaha, bersedekah, dan membantu orang-orang disekitar kita yang kesusahan.

Iqbal Hakim

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *