Untuk membedakan kota satu dengan yang lainnya, selain menamai kota tersebut, kita juga perlu membuat sistem klasifikasi kota untuk mengelompokkan kota-kota tersebut.

Dalam ilmu perkotaan, sangat sulit mengelompokkan kota karena terdapat berbagai faktor yang saling berhubungan. Meskipun demikian, ada beberapa cara umum yang kerap digunakan untuk mengelompokkan kota-kota yang dianggap setara.

 

Berdasarkan Penduduk

  1. Megapolitan : > 5 juta jiwa
  2. Metropolitan : 1 juta – 5 juta jiwa
  3. Kota Besar : 500.000 – 1 juta jiwa
  4. Kota Sedang : 100.000 – 500.000 jiwa
  5. Kota Kecil : 20.000 – 100.000 jiwa

Ini adalah kategoriasasi kota berdasarkan penduduk yang umum diajarkan di Indonesia, baik oleh guru-guru, maupun oleh buku pelajaran geografi. Namun ternyata masih banyak cara lain untuk mengkategorikan kota.

 

Harold Maclean Lewis

Harold mengatakan bahwa tren pertumbuhan daerah urban dicerminkan oleh populasinya. Klasifikasinya sedikit mirip dengan konsep berdasarkan populasi diatas, namun terdapat beberapa perbedaan di kategori kotanya.

  1. Eopolis/Infantile :500 – 5.000 jiwa
  2. Polis/Juvenile :000 – 10.000 jiwa
  3. Mature Trade/ Industrial town :000 – 25.000 jiwa
  4. Metropolis / Medium sized city :000 – 50.000 jiwa
  5. Megalopolis / Intermediate city :000 – 100.000 jiwa
  6. Trade/Industry/Service sector city :000 – 250.000 jiwa
  7. Primate city :000 – 500.000 jiwa
  8. Tyranopolis/Metropolitan :000 – 1.000.000 jiwa
  9. Senile/Mega city : >1.000.000 jiwa

Namun jika menggunakan klasifikasi dari Harold Maclean Lewis, seharusnya sudah banyak sekali kota senile, karena saat ini sudah banyak kota yang memiliki penduduk diatas 1 juta jiwa, oleh karena itu menurut penulis klasifikasi Harold kurang tepat jika digunakan di zaman modern ini.

 

Berdasarkan Fungsi

Pembagian kota berdasarkan fungsinya untuk Indonesia ada 3 yaitu Pusat Kegiatan Nasional (PKN), Pusat Kegiatan Wilayah (PKW), dan Pusat Kegiatan Lokal. Sedangkan secara global, terdapat 4 kategori khusus untuk kota berdasarkan fungsinya, yaitu kota administratif, hukum, ekonomi, dan kegiatan khusus.

Selain dua kategori diatas, terdapat pula fungsi kota sebagai global cities, atau kota yang tidak hanya melayani daerah sekitarnya, melainkan melayani seluruh dunia pada bidang tertentu.

http://www.atkearney.com.au/documents/10192/4461492/FG-Global-Cities-Present-and-Future-GCI-2014-X.png/d6b567ba-7067-4dc1-b9c7-e9c088dedb1d?t=1397427123727Menurut A.T Kearney Global Cities Index, terdapat 5 kategori global cities yaitu

  • Business Activity

Meliputi kegiatan bisnis, pasar modal, perdagangan dan pusat kantor-kantor perusahaan besar. Kota-kota yang menjadi leader di business activity ini memiliki pengaruh ekonomi yang sangat besar terhadap perekonomian dunia, entah karena kebijakan-kebijakan diambil disitu, atau karena semua transaksi dan kegiatan bisnis mengacu pada mereka sebagai best practice.

  • Human Capital

Meliputi sumber daya manusia, rasio masyarakat yang menempuh pendidikan tinggi, jumlah institusi pendidikan, dan jumlah siswa/mahasiswa internasional yang ada di kota tersebut. Kota-kota human capital ini terkenal sebagai kota immigrasi, melting pot, dan kota pelajar berkelas internasional.

  • Information Exchange

Kota-kota yang menjadi global cities information exchange memiliki eksistensi yang tinggi pada media tukar informasi, seperti internet, televisi, atau media cetak. Kota-kota ini memiliki banyak firma yang bergerak pada bidang pertukaran informasi, sehingga menjadi sinonim dengan kota media. Selain itu, kota yang menajdi global cities dalam information exchange ini juga kerap memiliki jejak digital (digital footprint) yang tinggi, dengan eksistensi digital warganya yang dapat dirasakan di seluruh dunia. Idealnya, karena menjadi pusat pertukaran informasi dan memiliki jaringan telekomunikasi yang baik, kota-kota ini juga memiliki warga yang up to date dengan berita-berita kontemporer dunia.

  • Cultural Exchange

Kota-kota yang didanggap sebagai kota budaya memiliki daya tarik yang tinggi dalam bidang kebudayaan, mulai dari arsitekturnya, museumnya, event-eventnya, hingga makannya. Kota-kota ini kerap mengandalkan keragaman budaya mereka untuk menarik turis asing yang ingin mempelajari lebih lanjut mengenai budaya. Kota-kota yang memiliki keunggulan pada bidang kuliner juga kerap berlomba mengakumulasi bintang Michelin untuk restoran-restorannya agar terlihat lebih prestisius.

  • Political Engagement.

Kota-kota yang memiliki keunggulan di bidang politik memiliki dampak politik bukan hanya pada negaranya, melainkan pada wilayah dan juga benuanya. Umumnya mereka memiliki banyak organisasi-organisasi berdaya jangkau multinasional yang bermarkas disana, seperti NGO, think tanks, dan organisasi antarpemerintah. Mereka juga kerap menjadi tuan rumah pertemuan politik dan pembahasan politik, seperti Brussels untuk Uni Eropa.

 

Lewis Mumford

  1. Eopolis

Tahapan ini merupakan tahapan awal, pemukiman masih bersifat komunitas perdesaan dengan basis ekonomi agrikultur

  1. Polis

Setelah eopolis berkembang dan mengalami spesialisasi kerja serta mekanisasi, ia berubah menjadi polis.

  1. Metropolis

Metropolis merupakan kota yang menjadi ibu kota bagian provinsi atau wilayah setempat. Ia biasanya merupakan gabungan dari beberapa polis yang beraglomerasi

  1. Megalopolis

Megalopolis merupakan tahap dimana indikasi kemunduran sebuah kota mulai muncul. Masalah-masalah ini muncul antara lain karena terlalu suksesnya perkembangan kota itu sendiri, sehingga terhadi hal-hal yang tidak diinginkan, seperti overpopulasi, dan kemacetan deadlock. Hal ini umumnya terjadi ketika sebuah metropolis bergabung dengan metropolis lainnya, atau mengabsorbsi polis lain yang cukup besar sehingga manajemen kota tidak dapat bereaksi cukup cepat untuk menyelesaikan masalah yang timbul.

  1. Tyranopolis

Tahap ini mengindikasikan bahwa kondisi kota tersebut sudah menurun secara drastis, entah karena masalah internal ataupun eksternal. Contoh dari tyranopolis ini adalah kota yang terkena dampak peperangan dan krisis ekonomi.

  1. Necropolis

Tahap ini merupakan perkembangan dari tyranopolis, saat mencapai tahap ini, kota sudah ditinggalkan oleh penduduknya karena sudah tidak mungkin ditinggali. Contoh kota yang seperti ini adalah kota-kota di timur tengah dan afrika yang hancur terkena dampak peperangan.

 

Griffith Taylor

Menurut Griffith Taylor, semua kota di dunia pasti melewati empat tahap perkembangan, yaitu infantile, juvenile, mature, dan senile.

  1. Infantile

Tahapan awal semua kota dimana peraturan zonasi dan separasi belum dibuat. Semuanya masih menyatu dalam satu zona besar yang disebut kota.

 

  1. Juvenile

Pada tahap ini, zona residensial sudah dipisahkan dari zona komersial. Terdapat pula beberapa zona industri kecil yang mulai beroperasi.

 

  1. Mature

Pada tahap ini, sudah terjadi divisi antara zona residensial, komersial, dan industrial pada kota. Peraturan zonasi kota juga sudah mulai jelas dan terbentuk.

 

  1. Senile

Pada tahap ini, kota sudah terdegradasi baik dari segi fisik, sosial, maupun potensial ekonominya. Contohnya adalah kota-kota rust belt Amerika Serikat seperti Detroit

 

Ekistics Doxiadis

  1. Anthropos : 1 jiwa
  2. Room (seruang) : 2 jiwa
  3. House (rumah) : 5 jiwa
  4. Housegroup (hamlet) : 40 jiwa
  5. Small Neighborhood (village) : 250 jiwa
  6. Neighborhood (village) : 1.500 jiwa
  7. Small Polis (town) : 10.000 jiwa
  8. Polis (city) : 75.000 jiwa
  9. Metropolis kecil : 500.000 jiwa
  10. Metropolis : 4 juta jiwa
  11. Megalopolis kecil : 25 juta jiwa
  12. Megalopolis : 150 juta jiwa
  13. Eperopolis kecil : 750 juta jiwa
  14. Eperopolis : 7.5 milyar jiwa
  15. Ecumenopolis : 50 milyar jiwa

 

Referensi

AT Kearney. Global Cities 2017: Leaders in a World of Disruptive Innovation.

Doxiadis. (1968). Ekistics

Kumar, Ravindra. Trends in Urban Growth & Objectives of Sound Planning.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *