5 Aspek Perkotaan

Dalam membahas kota, selain memahami dan mengetahui definisinya, kita juga perlu memahami aspek-aspek dari kota tersebut. Namun lagi-lagi pendapat para ahli dalam menentukan aspek suatu perkotaan sangatlah banyak.

Salah satu ahli yang sering dikutip mengenai hal ini adalah Melville C. Branch, menurutnya ada 3 aspek yaitu fisik, sosial, dan ekonomi, tetapi jika dijabarkan secara umum, pendapat para ahli dapat dimasukkan ke dalam 5 aspek dibawah ini.

Aspek Fisik

buildings, coast, coastline

Jika ditinjau secara fisik, kota cenderung lebih terbangun (built up) dengan bangunan-bangunan yang terletak saling berdekatan dan memiliki fasilitas yang lebih lengkap jika dibandingkan dengan desa. Faktor-faktor yang mempengaruhi karakteristik fisik kota ini antara lain adalah

  • Topografi

Faktor topografis seperti kemiringan dan bentukan bentang lahan dapat mempengaruhi unsur-unsur yang berada di dalam kota. Pada umumnya jaringan jalan berkembang melewati kemiringan-kemiringan yang relatif landai agar tidak perlu rekayasa tanah, dan gedung-gedung serta perumahan cenderung memilih tempat yang lebih landai jika memungkinkan.

Hal diatas dikarenakan sulitnya membangun pada daerah berkemiringan tinggi, selain besarnya biaya yang diperlukan untuk melakukan cut and fill pada bidang tanah tersebut, risiko teknis yang dihadapi oleh para insinyur juga cukup beragam, mulai dari mass wasting, hingga melemahnya pondasi karena erosi dan gravitasi.

  • Bangunan

Bangunan merupakan unsur kota yang jelas terlihat, bangunan yang didirikan seharusnya memilih lokasi yang strategis dan mudah untuk dibangun, guna meminimalisir biaya dan kesulitan konstruksi.

Pola penempatan bangunan dalam kota bersifat unik, persis seperti sidik jari kita, pola penempatan bangunan serta pola bangunan dapat digunakan untuk menentukan alur sirkulasi (pergerakan manusia) dalam suatu kota, menandai daerah yang ramai dan sepi, serta daerah yang relatif kaya (affluent) dengan daerah yang relatif lebih miskin.

Hal tersebut mungkin dilakukan karena bangunan selalu merepresentasikan lingkungan dimana ia berada, lingkungan yang bagus akan memiliki bangunan yang relatif bagus, dan lingkungan yang buruk juga akan memiliki bangunan yang buruk serta kurang terawat.

Seiring dengan berkembangnya kota, pola penempatan bangunan serta pola bangunan itu sendiri juga akan berubah menyesuaikan dengan perkembangan kota tersebut.

  • Suprastruktur & Infrastruktur

Suprastruktur dan infrastruktur merupakan fasilitas kota yang antara lain adalah jembatan, gorong-gorong, jaringan penerangan jalan, jaringan listrik, jalan raya dan fasilitas pengolahan limbah.

Suprastruktur dan infrastruktur berperan penting dalam mengatur kota, karena umumnya kota berkembang sesuai dengan ketersediaan suprastruktur dan infrastruktur ini. Karena fakta ini, kita kerap menemukan istilah growth pole-growth center dan pola-pola perumahan ribbon ketika membaca mengenai perkembangan wilayah dan kota.

  • Ruang terbuka

Ruang terbuka selain berupa taman, tempat bermain, dan hutan kota, juga dapat berupa tempat yang open top atau terbuka keatas, tempat-tempat tersebut antara lain adalah areal makam dan lahan pertanian. Umumnya, semakin ke pinggiran kota, ruang terbuka akan semakin banyak. Hal ini dapat terjadi karena ruang-ruang terbuka tersebut tidak efisien tempat, sehingga membutuhkan luas tanah yang lebih besar, dan menurut teori bid rent alonso, harga tanah akan semakin murah sebanding dengan jaraknya dari pusat kota.

  • Iklim

Iklim juga mempengaruhi fisik suatu kota, rata-rata curah hujan akan mempengaruhi pola pembangunan drainase, perancangan jalan, jenis bangunan, dan pola persebaran pohon kota.

Suhu rata-rata juga dapat berpengaruh, semakin dingin suhu maka akan semakin membutuhkan jaringan pemanas dan material bangunan insulatif yang mempertahankan panas, sedangkan semakin panas suhu maka akan semakin membutuhkan jaringan pendingin (air conditioner) serta material bangunan yang juga mudah melepas kalor.

Kota yang mengalami musim dingin tentu saja akan berbeda dengan kota-kota di daerah tropis, mulai dari perancangan atapnya yang khusus untuk menahan beban salju yang menumpuk, hingga adanya unit pemanas sentral yang menyalurkan panas ke berbagai rumah, layaknya perusahaan air keran.

  • Densitas

Kepadatan perkotaan menunjukkan sebaran konsentrasi bangunan dan kegiatan produktifnya. Kondisi dianggap terlalu padat ketika jumlah manusia yang memanfaatkan fasilitas penunjang seperti jalan, akses kereta, dan ruang terbuka menjadi terlalu banyak, sehingga melebihi kemampuan pelayanan fasilitas-fasilitas tersebut.

Kepadatan perkotaan dapat dilihat menggunakan koefisien dasar bangunan (KDB), ketinggian bangunan (KB), dan kuantitas ruang terbuka. Kepadatan juga dapat diukur dengan menghitung jumlah penduduk-per-rumah (dwelling density), penduduk-per-satuan ruang (population density), dan jumlah bangunan-per-satuan ruang (building density).

  • Vegetasi

Unsur vegetasi dapat meningkatkan daya tarik kota dan menjaga kebersihan udara, selain itu vegetasi juga dapat mengurangi laju erosi tanah, bahaya tanah longsor, dan berfungsi mengurangi polusi suara, vegetasi berkayu seperti pohon juga dapat bertindak sebagai pematah angin (windbreak).

Karena manfaat-manfaat yang disebutkan diatas, vegetasi umumnya ditanam di sepanjang jalan raya, jalur kereta, dan ruang-ruang pergerakan lainnya. Pada ruang pergerakan pejalan kaki (pedestrian), keberadaan vegetasi pohon dapat memberikan perlindungan dari teriknya matahari (shade), sehingga meningkatkan kenyamanan orang berjalan kaki.

  • Estetik

Setiap individu dan kebdudayaan sangatlah beragam selera estetikanya, oleh karena itu setiap kota selalu mempunyai unsur estetika yang berbeda, dan berkembang sendiri sesuai dengan budaya yang ada di wilayah tersebut.

Perbedaan yang sangat kontras adalah antara kota-kota di Eropa dan Amerika Serikat. Di Eropa, kota-kotanya sangat compact dan memiliki densitas tinggi, selain itu mayoritas orang juga tinggal di dalam pusat kota dengan memanfaatkan perumahan bersama seperti flats dan apartement, penduduknya juga lebih senang untuk menggunakan transportasi publik. Sedangkan di Amerika Serikat, kotanya cenderung mengalami sprawl, mayoritas penduduknya lebih menyukai tinggal di luar kota, di daerah suburban, menggunakan kendaraan pribadi untuk berpergian, dan tinggal di rumah-rumah landed house.

 

Aspek Sosial

Jika dipandang dari aspek sosial, kota merupakan konsentrasi penduduk yang membentuk suatu komunitas yang bertujuan untuk meningkatkan produktivitas melalui konsentrasi (economics of scale) dan spesialisasi tenaga kerja, serta meningkatkan keragaman intelektual, kebudayaan, dan kegiatan rekreasi di kota-kota. Menurut riset psikologi secara sosial, umumnya masyarakat kota cenderung

  • Individual

Individualis karena mereka merasa sudah tidak terikat lagi dengan tradisi. Mereka lebih mementingkan kesenangan dan kesejahteraan diri sendiri dibandingkan orang lain, jika suatu tindakan akan menguntungkan dia namun merugikan orang lain, masyarakat kota akan dengan senang hati melakukan hal tersebut.

  • Gesselschaft

Memandang kerjasama sebagai gesselschaft atau korporasi dimana semua ada untung-ruginya, tidak secara gemeinschaft yang berarti kerjasama dan gotong-royong.

  • Keluarga

Manusia cenderung enempatkan dirinya sebagai individu, dibandingkan dengan bagian dari keluarga. Oleh karena itu, keluarga utuh (nuclear family) lebih umum ada di desa dibandingkan dengan di kota.

  • Pernikahan dan Hubungan Cinta

Banyak kasus percintaan dan pernikahan antar-golongan dan karena sama-sama cinta/suka, bukan lagi karena dijodohkan atau metode-metode lainnya. Atmosfir hubungan yang lebih terbuka ini juga kerap menyebabkan banyak terjadi pergaulan bebas, selain itu angka perceraian juga relatif lebih tinggi dibandingkan di pedesaan.

  • Pekerjaan

Secara umum pekerjaan di kota didominasi oleh sektor industri, jasa dan administratif. Pembagian pekerjaan dan spesialisasi tugas sudah sangat lumrah terjadi, hal ini dilakukan untuk meningkatkan produktivitas.

  • Ketimpangan Kelas

Kota memiliki semua jenis penduduk, dari yang paling kaya hingga yang paling miskin. Rumah-rumah mewah, dan villa megah terkadang terlihat kontras dengan pemukiman kumuh di sampingnya, terkadang di antaranya ada apartemen dan perumahan-perumahan kelas menengah, sungguh terlihat perbedaannya, padahal mereka berada dalam kota yang sama.

  • Heterogenitas

Jika pedesaan dianggap sebagai simbol homogenitas budaya, maka kota-kota dilihat sebagai simbol heterogenitas. Penduduk perkotaan umumnya terdiri dari ras dan golongan yang berbeda, mereka juga memiliki budaya, kondisi hidup, makanan kesukaan, dan temperamen yang berbeda-beda.

  • Jarak Sosial/Kesenjangan Hubungan Sosial

Kesenjangan sosial merupakan hasil dari anonimitas dan heterogenitas. Kebanyakan interaksi antar individu di perkotaan bersifat impersonal dan tersegmentasi. Terdapat rasa ketidakpedulian terhadap hidup orang lain, salah satu manifestasi ini adalah budaya NIMBY.

  • Sistem interaksi

Sistem interaksi komunitas perkotaan didasar pada grup-grup ketertarikan (interest group). Lingkup kontak sosial (social circle) yang ada di kota lebih luas dari yang ada di pedesaan. Hal ini disebabkan oleh heterogenitas kota itu sendiri, sehingga untuk berinteraksi dengan lebih intens, dibutuhkan suatu ketertarikan bersama. Mayoritas kontak dan hubungan yang terjadi di kota adalah hubungan sekunder yang bersifat impersonal dan berlangsung dalam rentang waktu yang singkat.

  • Mobilitas Sosial

Pada lingkungan perkotaan, status sosial yang disandang oleh seseorang tidak terpaku pada faktor hereditas, seperti siapa ayahnya, dan apa nama keluarganya, melainkan berdasarkan faktor pencapaian pribadi, kecerdasan, dan koneksi yang ia bangun. Hal ini membuktikan bahwa mobilitas sosial di kota lebih tinggi, sehingga orang yang awalnya dianggap rendah dapat naik ke posisi yang tinggi jika ia berusaha keras.

  • Materialisme

Dalam komunitas perkotaan, eksistensi manusia umumnya berkorelasi kuat dengan kekayaan yang ia miliki. Status sosial dan pandangan masyarakat ditentukan bukan oleh siapa dia, melainkan dia punya apa, oleh karena itu kehidupan perkotaan kental dengan yang namanya simbol kekayaan (status symbols) seperti mobil mewah, jam mewah, tas branded, dan pakaian desainer.

  • Rasionalitas

Penduduk perkotaan umumnya lebih senang beradu argumen dan memikirkan sesuatu menggunakan pendekatan rasional, umumnya, hubungan mereka dengan orang lain dibangun dan diputuskan berdasarkan pertimbangan cost benefit, jika setelah ditimbang maka hubungan itu akan lebih merugikan dia, maka hubungan itu akan segera diputuskan. Hubungan yang terjadi juga umumnya bersifat kontraktual, ketika kontrak tersebut habis, umumnya hubungan juga ikut putus.

  • Anonimitas

Karena populasi penduduk yang besar dan heterogen, masing masing individu umumnya tidak mengenal individu lainnya yang tinggal berdekatan dengannya, mereka hanya sebatas tahu bahwa ada tetangga yang tinggal didekatnya. Dari segi pemerintahan, orang juga kerap berubah menjadi data statistik, hanya satu angka dalam lautan angka lainnya, berbeda dengan di desa, yang mana pemerintahan lokalnya (kepala desa, atau yang sejenis) mengenal dengan nama semua orang yang tinggal di desanya.

  • Perubahan Drastis Budaya

Masyarakat perkotaan umumnya sudah meninggalkan tradisi dan unsur-unsur sakral yang kental dari komunitas pedesaan. Semakin lama berada di kota mereka akan semakin terpengaruh oleh gaya hidup ultramodern yang rasional dan bersifat individual serta materialistis.

  • Klub dan Asosiasi

Karena mayoritas interaksi masyarakat perkotaan adalah impersonal, dan bersifat formal, maka penduduk kota ingin merasakan dan membangun hubungan sosial yang murni karena saling ingin berhubungan. Oleh karena itu terdapat klub, asosiasi, dan grup-grup serta perkumpulan sekunder lainnya yang disatukan oleh tujuan yang sama atau kesukaan yang sama.

  • Kontrol Sosial

Kontrol sosial dalam komunitas perkotaan umumnya bersifat formal. Perilaku individu diatur oleh polisi, hukum tertulis, pengadilan, dan ancaman penjara. Beda dengan di desa, kontrol sosial utamanya adalah cemoohan tetangga, dan petuah-petuah dari yang ketua adat dan sosok otoritas.

 

Aspek Demografis

Aspek demografis dari perkotaan adalah jumlah penduduknya yang banyak, dan kepadatan penduduknya yang tinggi. Selain itu, kota juga menjadi sasaran immigrasi dari desa, ataupun kota lain. Umumnya agar suatu pemukiman dapat dikategorikan sebagai kota, ia harus memiliki penduduk sejumlah 50.000 jiwa, dan memiliki kepadatan penduduk minimal 1.000 jiwa per mil, atau sekitar 625 jiwa per kilometer persegi (US Census Bureau).

 

Aspek Administratif

Setiap kota memiliki batasan batasan formal yang menentukan sampai mana wilayah yurisdiksi kota tersebut, oleh karena itu, sebuah kota dapat dibilang memiliki aspek administrasi untuk lokasi. Selain itu kota juga dikelapai oleh seorang walikota, ia dan jajarannya bertugas memastikan berjalannya kegiatan dengan lancar di kota tersebut, ini merupakan salah satu aspek administrasi lainnya.

 

Aspek Ekonomi

Free stock photo of dawn, sunset, industry, sunrise

Kota menurut aspek ekonomi adalah pemukiman yang memiliki fungsi sebagai penghasil produksi barang dan jasa, sehingga dapat mendukung kehidupan penduduknya dan menunjang keberlangsungan pemukiman itu sendiri. Kota sebagai aglomerasi dari aktivitas ekonomi merupakan penyumbang produk domestik bruto yang besar bagi sebuah negara. Kegiatan ekonomi dalam kota umumnya dibagi menjadi empat yaitu

  • Publik

Kegiatan ekonomi sektor publik meliputi pelaksanaan pemerintahan kota, penyediaan sarana dan prasarana oleh pemerintah, pemberian dana bantuan oleh pemerintah, dan sektor-sektor lainnya yang dijalankan oleh pemerintah atau negara dengan menggunakan uang pajak.

  • Private/swasta

Kegiatan ekonomi sektor swasta meliputi semua perusahaan yang mencari untung (for profit) dan tidak dimiliki oleh negara. Perusahaan-perusahaan seperti Microsoft, Nestle, FedEx, Gojek, Indofood, dan Lenovo merupakan contoh dari perusahaan swasta.

  • Khusus

Sektor ekonomi khusus meliputi organisasi-organisasi non-profit, volunteer, dan NGO (Non Governmental Organization). Mereka tidak diselenggarakan oleh pemerintahan, ataupun oleh manajemen swasta yang for profit.

  • Informal

Sektor informal adalah sektor yang kerap kurang diperhatikan. Sektor ini meliputi pekerjaan-pekerjaan yang tidak diregulasi seperti penjual koran, pedagang asongan, dan pemulung sampah.

 

Referensi

United States Census Bureau

Karim, Taufik.

Mondal, Puja.

Waugh, David (2007). Geography an Integrated Approach. Nelson Thornes

Tinggalkan komentar