Cuaca adalah kondisi atmosfer, terutama troposfer, pada saat tertentu. Cuaca bersifat dinamis dan selalu berubah seiring dengan waktu.

Iklim hampir sama dengan cuaca, hanya saja iklim merupakan cuaca rata-rata yang terjadi pada suatu lokasi tertentu dalam kurun waktu 30 tahun. Oleh karena itu, iklim umumnya lebih kaku dan statis.

Perbedaan utama antara cuaca dengan iklim adalah rentang waktunya serta lama observasinya, luas wilayah tidak memiliki dampak sama sekali.

Namun, apa sebenarnya yang mempengaruhi kondisi cuaca dan iklim pada suatu wilayah? Ternyata, terdapat 6 Unsur utama dan 4 unsur lainnya yang tidak kalah penting.

Unsur utama yang mempengaruhi iklim dan cuaca antara lain adalah suhu, kelembaban udara, tekanan udara, angin, presipitasi, serta perawanan.

Unsur lainnya yang juga sangat mempengaruhi iklim dan cuaca yang terjadi adalah topografi suatu lokasi, kedekatan dengan badan air, sifat arus laut, serta aktivitas manusia.

Suhu

Suhu memiliki hubungan yang sangat erat dengan iklim dan cuaca yang terjadi di muka bumi. Suhu secara langsung dipengaruhi oleh penyinaran matahari, sehingga bergantung kepada aktivitas matahari, kondisi perawanan, serta topografi.

Aktivitas matahari yang tinggi dan topografi yang landai akan menyebabkan lebih banyak radiasi matahari yang sampai ke bumi. Langit yang cerah dan tidak dipenuhi awan juga akan meningkatkan jumlah radiasi yang diterima.

Semakin banyak radiasi matahari yang dapat menembus atmosfer dan mencapai permukaan bumi, semakin tinggi pula temperatur bumi. Seperti yang kita ketahui, pergerakan angin dipengaruhi oleh tekanan udara, yang dipengaruhi oleh suhu.

Selain itu, suhu yang tinggi juga akan meningkatkan laju evaporasi sehingga tersedia lebih banyak uap air di udara untuk menjadi awan.

 

Kelembaban udara

Kelembaban menyebabkan kondensasi pada daun tumbuhan
Udara yang lembab akan memudahkan terjadinya kondensasi dan perawanan

Kelembaban udara merupakan ukuran jumlah uap air yang ada di udara. Semakin banyak uap air maka semakin lembab pula udara tersebut.

Kelembaban udara yang tinggi umumnya menyebabkan pembentukan awan yang lebih banyak serta sensasi suhu yang berbeda dengan aslinya.

Kelembaban udara umumnya dipengaruhi oleh temperatur, serta keberadaan sumber air. Semakin tinggi temperatur maka kelembaban udara akan cenderung tinggi karena laju evaporasi juga semakin tinggi. Keberadaan sumber air juga turut meningkatkan laju evaporasi.

Kelembaban dapat diukur dengan menggunakan thermometer bola basah-bola kering ataupun dengan menggunakan AWS (automatic weather station).

 

Tekanan udara

Tekanan udara merupakan faktor yang mempengaruhi pergerakan angin di atmosfer. Tekanan udara suatu wilayah umumnya dipengaruhi oleh temperatur wilayah tersebut. Semakin tinggi suhunya, semakin rendah tekanannya.

Tekanan udara yang rendah dapat menyebabkan angin bergerak menuju area tersebut, sehingga menghasilkan hujan karena membawa uap air.

Tekanan udara yang tinggi dapat menyebabkan langit menjadi cerah dan hujan tidak terbentuk. Hal ini terjadi lantaran angin bergerak menjauhi wilayah tersebut sembari membawa uap udaranya.

Tekanan udara dapat diukur dengan menggunakan barometer yang diisi oleh cairan mercury (hydragyrum Hg) ataupun barometer digital.

 

Angin

Seperti yang sudah dijelaskan diatas, angin merupakan salah satu faktor utama penentu cuaca atau iklim suatu wilayah. Hal ini terjadi karena angin dapat membawa uap air di atmosfer ke wilayah lain.

Uap air yang banyak akan menyebabkan terjadinya presipitasi, sehingga menciptakan fenomena cuaca seperti hujan dan salju pada wilayah tujuan. Oleh karena itu, arah angin kerap menentukan cuaca suatu wilayah.

Udara yang dibawa oleh angin juga penting dalam menentukan cuaca. Jika angin membawa udara kering, wilayah tersebut akan mengalami kekeringan sedangkan jika angin membawa udara basah, wilayah tersebut akan mengalami fenomena hujan.

 

Presipitasi

Salju merupakan salah satu bentuk presipitasi
Salju merupakan salah satu bentuk presipitasi

Presipitasi adalah fenomena dimana uap air yang berada di atmosfer berkondensasi dan turun ke permukaan bumi. Presipitasi dapat terjadi dalam bentuk hujan, salju, ataupun es.

Presipitasi umumnya dikontrol oleh suhu udara serta kadar uap air yang ada pada wilayah tersebut. Suhu yang dingin diperlukan untuk melakukan kondensasi sedangkan kadar uap air yang tinggi dibutuhkan untuk membentuk awan hujan.

 

Perawanan

Perawanan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi cuaca dan iklim suatu wilayah. Awan terbentuk ketika uap air yang berada di atmosfer mengalami pendinginan sehingga terjadi kondensasi. Tanpa adanya uap air, tidak mungkin awan terbentuk.

Semakin banyak awan yang ada pada suatu wilayah semakin rendah pula paparan sinar matahari yang didapatkan. Hal ini akan mempengaruhi suhu serta konsentrasi uap air.

Selain itu, awan juga menandakan bahwa akan terjadi presipitasi pada wilayah tersebut. Semakin gelap warna awan, semakin banyak uap air yang ada pada awan tersebut.

Ketika awan sudah mencapai titik jenuh, turunlah presipitasi dalam berbagai bentuknya, baik itu hujan, salju, maupun es.

Selain mempengaruhi aktivitas hidrometeorologis, awan juga dapat menyebabkan badai petir dan badai guntur. Dua fenomena yang sangat mengganggu aktivitas penerbangan serta kenyamanan istirahat masyarakat.

 

Kedekatan dengan badan air

Badan air menstabilkan suhu
Lokasi yang dekat dengan badan air akan memiliki rentang suhu yang lebih stabil

Seperti yang sudah kita ketahui, air memiliki kalor jenis yang lebih tinggi dibandingkan dengan daratan. Oleh karena itu, air dapat menyimpan panas lebih banyak dari daratan.

Semakin dekat suatu wilayah dengan badan air maka iklim dan cuacanya akan cenderung lebih stabil. Wilayah tersebut akan mengalami musim panas yang hangat dan musim dingin yang lebih ringan dibandingkan dengan wilayah yang berada jauh di daratan.

Contoh wilayah yang dipengaruhi oleh badan air adalah kawasan pesisir pantai, kawasan great lakes di Amerika Utara, serta kawasan mediterranean di Eropa.

 

Sifat arus laut

Jika badan air yang dimaksud pada poin diatas adalah laut, maka terdapat satu lagi faktor penentu, yaitu arus laut. Karakteristik arus laut akan secara langsung mempengaruhi karakteristik massa udara yang ada diatasnya, serta fenomena cuaca dan karakteristik iklim yang akan terjadi.

Arus laut yang dingin akan menyebabkan evaporasi air berkurang sehingga tersedia sedikit uap air di udara. Arus laut yang panas akan menyebabkan evaporasi bertambah, sehingga uap air yang tersedia di udara banyak.

Uap air yang banyak akan menyebabkan peristiwa perawanan yang banyak pula, sehingga mendorong terjadinya hujan atau badai. Jika uap air sedikit, maka sukar untuk terjadi hujan.

Fenomena ini dapat kita lihat di semenanjung selatan benua Afrika yang mana banyak terdapat gurun kering dikarenakan arus laut yang dingin.

 

Topografi

Gunung mengalami hujan orografis
Gunung mengalami hujan orografis serta iklim dan cuaca yang lebih dingin di puncaknya

Faktor topografi sangat menentukan cuaca dan karakteristik iklim dari suatu daerah. Daerah yang dengan ketinggian lebih tinggi cenderung memiliki suhu yang lebih rendah dibandingkan dengan daerah yang lebih rendah.

Penurunan suhu seiring dengan bertambahnya ketinggian ini dikenal sebagai lapse rate atmosfer. Terdapat perbedaan lapse rate antara udara kering dan basah, sehingga angin fohn dapat terjadi.

Faktor topografi juga menyebabkan terjadinya hujan orografis. Oleh karena itu, daerah yang menghadap angin umumnya akan lebih basah dibandingkan dengan daerah yang membelakangi angin.

 

Aktivitas Manusia

Aktivitas manusia merupakan salah satu unsur cuaca dan iklim yang baru-baru ini menjadi cukup penting. Perubahan iklim dan cuaca ekstrem menjadi salah satu dampak aktivitas manusia pada alam.

Perubahan iklim adalah fenomena pergeseran nilai rata-rata cuaca harian suatu wilayah/seluruh bumi. Fenomena ini diduga disebabkan oleh produksi gas rumah kaca yang semakin besar oleh aktivitas manusia seperti pembangunan kawasan industri, deforestasi, serta perdagangan internasional.

Perubahan iklim menyebabkan terjadinya kenaikan dan penurunan suhu rata-rata di beberapa tempat di dunia. Hal ini berbahaya karena dapat mengganggu habitat hewan, merusak ekosistem, serta mencairkan es dan menaikkan muka air laut.

Cuaca ekstrem adalah fenomena cuaca yang berbeda dari kebiasaannya. Contohnya adalah siklon, badai, dan tornado. Perubahan iklim mengganggu siklus alamiah di bumi sehingga kejadian cuaca ekstrem semakin banyak.

Aktivitas manusia seperti industri dan transportasi juga dapat menyebabkan fenomena hujan asam. Hujan asam adalah kondisi dimana hujan yang turun ke bumi sudah tercampur dengan CO2 sehingga menciptakan larutan H2CO3 yang bersifat asam dan korosif.

Fenomena hujan asam dapat merusak fondasi bangunan, tumbuhan, serta membunuh binatang yang tidak resisten terhadap tingkat keasaman hujan tersebut.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *